Australia Tunda Pembelian 28 F-35, Ada Apa?

1 hari yang lalu 3

JAKARTA -- Australia belum melanjutkan rencana pembelian 28 jet tempur siluman F-35A Lightning II tambahan dari Amerika Serikat. Keputusan yang menunda pembentukan skuadron keempat pesawat generasi kelima tersebut memperlihatkan perubahan besar dalam prioritas pertahanan Canberra. Alih-alih menambah jumlah pesawat tempur, pemerintah Australia memilih memperkuat persenjataan jarak jauh, memperpanjang masa operasi F/A-18F Super Hornet, dan mengembangkan teknologi peperangan udara masa depan.

Keputusan itu kembali relevan setelah pemerintah Australia pada 6 Agustus 2026 mengumumkan investasi hampir 736 juta dolar Australia untuk membeli rudal udara-ke-udara jarak jauh AIM-260 Joint Advanced Tactical Missile (JATM) dari Amerika Serikat. Rudal generasi baru tersebut akan terlebih dahulu diintegrasikan dengan Super Hornet, kemudian dengan F-35A Lightning II dan pesawat peperangan elektronik EA-18G Growler.

Perkembangan terbaru mengenai kemampuan Super Hornet muncul pada Rabu (21/10/2026). Media pertahanan Amerika Serikat, The War Zone, melaporkan sebuah jet tempur F/A-18F Super Hornet milik Angkatan Laut AS terlihat membawa dua jenis rudal udara-ke-udara jarak jauh sekaligus, yakni AIM-260 Joint Advanced Tactical Missile (JATM) dan AIM-174B. Penampakan tersebut memperlihatkan upaya militer AS memperluas kemampuan persenjataan Super Hornet untuk menghadapi ancaman udara modern, termasuk dalam skenario pertempuran jarak jauh.

Meski pesawat yang terlihat dalam laporan itu merupakan milik Angkatan Laut AS, bukan Australia, perkembangan tersebut relevan dengan keputusan Canberra mempertahankan armada Super Hornet. Australia telah mengumumkan pengadaan AIM-260 untuk meningkatkan kemampuan tempur udaranya, dengan Super Hornet sebagai salah satu platform pertama yang direncanakan mengoperasikan rudal tersebut. Namun, penampakan dua jenis rudal pada pesawat AS itu belum berarti konfigurasi serupa telah diadopsi Angkatan Udara Australia.

Australia akan menjadi negara pertama di luar Amerika Serikat yang mengoperasikan rudal udara-ke-udara AIM-260 Joint Advanced Tactical Missile (JATM). Seperti dilaporkan media pertahanan Australia, Defence Connect, pada 6 Agustus 2026, Canberra mengalokasikan hampir 736 juta dolar Australia untuk pengadaan rudal tersebut guna meningkatkan kemampuan pertempuran udara jarak jauh.

Perubahan tersebut terjadi ketika Angkatan Udara Kerajaan Australia atau Royal Australian Air Force (RAAF) telah menerima seluruh 72 F-35A yang dipesan dari Lockheed Martin. Keseluruhan pesawat itu telah mencapai status Final Operational Capability (FOC) atau kemampuan operasional penuh pada 7 Juli 2025, sebagaimana kemudian dikonfirmasi pejabat pertahanan Australia dalam pembahasan parlemen pada Desember 2025.

Dengan pencapaian tersebut, Australia memiliki tiga skuadron F-35A yang telah memenuhi persyaratan kemampuan operasional, termasuk dukungan personel, pelatihan, infrastruktur, dan sistem pemeliharaan.

Namun, pertanyaan mengenai penambahan 28 pesawat untuk membentuk skuadron keempat belum sepenuhnya tertutup.

Mengapa Australia Menunda Pembelian 28 F-35?

Akar keputusan itu dapat ditelusuri ke pengumuman Strategi Pertahanan Nasional Australia pada April 2024.

Pemerintah saat itu memutuskan untuk tidak melanjutkan pembelian skuadron keempat F-35A dalam waktu dekat. Sebagian dana yang sebelumnya berpotensi digunakan untuk pengadaan tersebut dialihkan kepada kemampuan serangan jarak jauh dan prioritas pertahanan lainnya.

Menteri Industri Pertahanan Australia ketika itu, Pat Conroy, memberikan penjelasan yang cukup mengejutkan. Menurut Conroy, terdapat dua alasan utama pemerintah mempertahankan Super Hornet lebih lama. Pertama, pesawat tersebut masih memberikan kemampuan tempur yang baik. Kedua, kemampuan F-35 ternyata lebih tinggi daripada yang diperkirakan sebelumnya.

"Kami memutuskan mempertahankan Super Hornet karena dua alasan. Pertama, pesawat-pesawat itu bekerja dengan sangat baik. Kedua, Joint Strike Fighter bahkan lebih mampu daripada yang semula kami perkirakan," kata Conroy, sebagaimana diberitakan Australian Aviation pada April 2024.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa penundaan pembelian tambahan F-35 bukan disebabkan oleh penilaian bahwa pesawat tersebut gagal memenuhi kebutuhan militer Australia.

Sebaliknya, kemampuan 72 F-35A yang telah dipesan dinilai cukup kuat untuk mendukung perubahan prioritas investasi dalam jangka menengah.

Conroy menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin memensiunkan Super Hornet sebelum waktunya ketika pesawat tersebut masih memiliki nilai operasional yang tinggi.

"Kami akan mempertimbangkan penggantinya lebih jauh ke depan, dan itu bisa berupa satu skuadron Joint Strike Fighter lagi atau kemampuan udara lainnya," ujarnya dalam transkrip resmi pemerintah Australia tertanggal 18 April 2024.

Ia menambahkan, dana yang dapat dihemat melalui perpanjangan masa operasi Super Hornet akan digunakan untuk memperkuat kemampuan serangan jarak jauh Angkatan Udara dan Angkatan Darat, sekaligus mendukung ekspansi armada kapal perang permukaan Australia.

Dengan demikian, keputusan Canberra merupakan penundaan investasi dan penataan kembali prioritas, bukan pembatalan permanen seluruh rencana pembelian tambahan F-35.

Sudah Memiliki 72 F-35A, Australia Masih Butuh Apa?

Australia merupakan salah satu negara pengguna F-35A terbesar di luar Amerika Serikat. Dua pesawat F-35A pertama tiba di RAAF Base Williamtown, New South Wales, pada 10 Desember 2018. Pengiriman dilakukan secara bertahap hingga sembilan pesawat terakhir tiba pada Desember 2024.

Kementerian Pertahanan Australia menyatakan kedatangan sembilan pesawat terakhir tersebut menandai penyelesaian pengadaan seluruh 72 unit yang telah disetujui pemerintah.

F-35A dirancang sebagai pesawat tempur multiperan generasi kelima yang menggabungkan teknologi siluman, sensor terintegrasi, kemampuan serangan presisi, serta sistem peperangan elektronik.

Pesawat tersebut dapat menjalankan misi pertempuran udara, serangan terhadap sasaran darat, pengintaian, dan pengumpulan informasi dalam lingkungan ancaman yang kompleks.

RAAF mengoperasikan F-35A melalui tiga skuadron tempur, yakni No. 3 Squadron, No. 75 Squadron, dan No. 77 Squadron.

Pesawat tersebut menggantikan F/A-18A/B Hornet generasi sebelumnya yang telah dipensiunkan dari dinas Angkatan Udara Australia.

Meski demikian, F-35A tidak beroperasi sendirian. Australia juga mempertahankan 24 F/A-18F Super Hornet dan 12 EA-18G Growler sebagai bagian dari kemampuan pertempuran udara dan peperangan elektroniknya.

Kombinasi tersebut memungkinkan Australia menggunakan berbagai jenis pesawat untuk misi yang berbeda, mulai dari serangan presisi dan pertahanan udara hingga penindasan sistem radar lawan.

Karena itu, penambahan jumlah F-35 bukan satu-satunya cara untuk meningkatkan kemampuan tempur RAAF.

Modernisasi persenjataan, sistem sensor, jaringan komunikasi, dan dukungan logistik juga menentukan efektivitas armada yang sudah tersedia.

Baca Artikel Selengkapnya