Netanyahu Terpojok, Polisi Israel Tak Percaya Tuduhan Pemilu Curang

58 menit yang lalu 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Dua penyelidikan terkait dugaan kecurangan pemilihan umum atau pemilu Israel yang dilayangkan kubu perdana menteri petahana, Benjamin Netanyahu, yang menyeret partai-partai Arab bakal dihentikan.

Netanyahu dan sejumlah anggota koalisinya berulang kali mengeklaim bahwa pemilu 27 Oktober telah dicurangi, dengan menuduh kecurangan di kalangan pemilih Arab yang secara signifikan mendongkrak perolehan suara partai-partai Arab.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kasus pertama melibatkan penangkapan tiga aktivis partai Arab pada 27 Oktober pagi di hari pemungutan suara. Ketiga aktivis itu dituduh berupaya menyuap pemilih agar mendukung Partai Ra'am.

Namun, menurut laporan Channel 12, kasus ini diperkirakan akan ditutup jika tidak ditemukan bukti baru. Sementara itu, ketiga aktivis yang ditangkap sendiri telah dibebaskan.

Kasus kedua berkaitan dengan dugaan upaya pendanaan asing untuk mendukung partai Arab lainnya, Joint List. Kasus ini bukannya membuktikan tuduhan kubu Netanyahu soal kecurangan yang dimaksud, tp malah memicu krisis kepercayaan besar terhadap Kepala badan intel Israel Shin Bet David Zini.

Zini merupakan seorang loyalis Netanyahu. Ia ditunjuk langsung oleh Netanyahu dan terlibat langsung dalam kedua penyelidikan tersebut.

"Kami telah kehilangan kepercayaan terhadap kepala Shin Bet," kata seorang pejabat senior kepolisian Israel, sebagaimana dikutip dalam laporan itu, seperti dilansir Times of Israel.

Sejalan dengan hal tersebut, Channel 12 melaporkan bahwa Wakil Komisaris Boaz Blatt, yang mengepalai Divisi Investigasi dan Intelijen Kepolisian, melarang bawahannya menyerahkan informasi apa pun terkait kasus tersebut kepada Shin Bet tanpa persetujuannya.

Jaringan televisi itu mengatakan bahwa tampaknya hanya kepala Shin Bet yang menilai penyelidikan dugaan campur tangan asing itu sebagai persoalan keamanan nasional. Sebaliknya, kepolisian dan aparat penegak hukum menilai persoalan tersebut paling jauh berkaitan dengan tuduhan kriminal jika memang ditemukan bukti yang cukup.

"Ada kesenjangan yang sangat besar antara klaim Zini dan kenyataan," kata seorang pejabat kepolisian.

Selain itu, meskipun laporan-laporan media pada awalnya menuding Qatar terlibat, tidak satu pun materi intelijen yang diserahkan Shin Bet kepada kepolisian dilaporkan menyebut negara Teluk tersebut.

Jaringan televisi itu mengutip seorang pejabat internal Shin Bet yang mengecam tindakan Zini. Pejabat tersebut mengatakan bahwa kini semakin jelas bahwa Zini berusaha "melayani tuannya", merujuk pada Netanyahu, yang mengeklaim pemilu telah "dicuri" dan menentang pengesahan hasil pemilu dengan alasan adanya dua penyelidikan tersebut.

Dalam pemilu Israel 27 Oktober lalu, koalisi sayap kanan Netanyahu gagal meraih ambang batas minimal 61 kursi parlemen untuk membentuk pemerintah lagi dan hanya hanya meraup 53 kursi saja.

Sementara itu, aliansi rivalnya sekaligus eks panglima militer Israel Gadi Eisenkot, Yashyar, dan empat partai lain hanya memperoleh 48 kursi. 

Sementara itu, partai-partai Arab, yang mewakili warga Palestina di Israel, meraih rekor 19 kursi. Jumlah ini terbesar sejak partai Arab Israel berhasil masuk parlemen Israel Knesset.

(rds)

Baca Artikel Selengkapnya