Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Keamanan Israel Itamar Ben Gvir hingga ribuan pemukim ilegal menyerbu Masjid Al Aqsa di Yerusalem Timur dan Masjid Ibrahim di Hebron untuk memperingati hari raya Sukkot Yahudi.
Dalam rekaman yang disiarkan media televisi Channel 14 tampak Ben Gvir saat menerobos masuk ke Masjid Ibrahim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketika saya tiba di Masjid Ibrahim, saya merasakan energi yang membuat saya ingin bernyanyi dan bersukacita," kata Ben Gvir, dikutip Anadolu Agency.
Ratusan pemukim ilegal Israel terlihat berada di belakangnya selama wawancara.
Masjid Ibrahimi terletak di Kota Tua Hebron, sebuah wilayah yang sepenuhnya diduduki Israel. Area itu juga jadi tempat sekitar 400 pemukim ilegal di bawah perlindungan sekitar 1.500 tentara Israel.
Israel membagi masjid itu jadi dua bagian pada 1994, 63 persen untuk Yahudi dan 37 persen untuk Muslim.
Pada Senin, Israel mengumumkan akan menutup Masjid Ibrahim selama Sukkot. Penutupan ini bahkan mencakup larangan salat dan seruan azan di masjid.
Berdasarkan pengaturan sepihak Israel, masjid ditutup sepenuhnya bagi umat Muslim selama 10 hari dalam rangka merayakan hari besar Yahudi.
Pengumuman itu menuai kecaman dari Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina.
"Tindakan-tindakan tersebut merupakan serangan terang-terangan terhadap kesucian Masjid Ibrahimi dan melanggar kebebasan beribadah serta hak umat Muslim untuk menjalankan ritual keagamaan mereka," demikian menurut mereka.
Invasi Al Aqsa
Di Yerusalem Timur, 966 tentara Israel menyerbu Masjid Al Aqsa pada Selasa pagi.
Video dan gambar yang beredar menunjukkan kelompok sayap kanan Israel melakukan ritual dan Talmud hingga menyanyi dan menari di kompleks masjid.
Departemen Wakaf Islam di Yerusalem mencatat kelompok ekstrimis sayap kanan menyerukan penyerbuan ke Al Aqsa selama Sukkot.
Pada Minggu, lebih dari 1.500 penduduk ilegal Israel menyerbu masjid. Keesokan harinya lebih dari 1.700 termasuk Ben Gvir melakukan tindakan yang sama.
Kompleks Al Aqsa kerap menjadi titik api Israel dan Palestina bahkan memicu pertempuran. Namun, pengalaman masa lalu tak membuat warga atau pejabat sayap kanan sadar.
Mereka seringkali sengaja melakukan tindakan yang menyulut provokasi misalnya menyerbu Al Aqsa atau hal-hal seperti yang dilakukan sekarang.
Warga Palestina menganggap Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara Palestina di masa depan berdasarkan resolusi internasional yang tak mengakui pendudukan Israel pada 1967 atau aneksasinya pada 1980.
(isa/bac)

58 menit yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·