REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK — Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono berupaya menggalang dukungan negara-negara untuk pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2029-2030. Upaya tersebut dilakukan Sugiono saat menghadiri berbagai pertemuan di sela-sela Sidang Majelis Umum (SMU) PBB di New York, Amerika Serikat.
Dalam keterangannya pada Rabu (23/9/2026), Sugiono mengatakan, selama dua hari menghadiri SMU PBB, dia telah menghadiri sejumlah pertemuan tingkat tinggi dan bilateral. Pertemuan tersebut antara lain bersama Group of 8 Arab and Islamic Countries yang terdiri dari Indonesia, Qatar, Turki, Mesir, Yordania, Pakistan, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Selain itu, Sugiono turut menghadiri pertemuan menlu MIKTA yang beranggotakan Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki, dan Australia. Pertemuan lain yang diikuti Sugiono adalah pertemuan tingkat menteri ASEAN–Pacific Alliance, yakni forum yang mempertemukan negara-negara ASEAN dengan empat negara Pacific Alliance, yaitu Meksiko, Kolombia, Peru, dan Chile.
Sugiono juga sempat melangsungkan pertemuan trilateral dengan Belanda dan UN Under-Secretary-General Jean-Pierre Lacroix. Pertemuan lainnya yang dihadiri Sugiono adalah pertemuan bertajuk “The Road Ahead: One Year After the New York Declaration” yang membahas langkah-langkah konkret untuk mendorong solusi dua negara dalam konflik Israel-Palestina.
Dalam sesi pembukaan SMU PBB, Sugiono mengaku berkesempatan bertemu dengan negara-negara sahabat Indonesia lainnya, yaitu Brunei Darussalam, Kirgistan, Mongolia, Kanada, Kolombia, Uni Eropa, dan Romania. Sugiono mengungkapkan, dalam serangkaian pertemuan tersebut, selain isu yang menjadi perhatian bersama, dia turut membahas potensi-potensi yang dapat memberikan manfaat konkret bagi pembangunan dan masyarakat Indonesia.
“Saya juga menggunakan berbagai pertemuan tersebut untuk menggalang dukungan bagi pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2029-2030,” ungkap Sugiono.
Dia mengatakan, Indonesia akan menyampaikan pernyataan nasional di SMU PBB pada Sabtu (26/9/2026) waktu New York. “National statement Indonesia akan membawa pesan utama tentang pentingnya membangun ketahanan global yang ditopang oleh ketahanan nasional dan kawasan yang kuat tentu saja,” ucapnya.
Menurut Sugiono, di tengah situasi dunia yang saat ini tidak menentu dan tidak pasti, membangun ketahanan bersama merupakan langkah penting dalam rangka mengatasi tantangan-tantangan global di berbagai sektor. “Saya juga akan menyampaikan pandangan Indonesia mengenai perdamaian dan keamanan internasional, mengenai isu Palestina, kemudian penguatan sistem multilateralisme, reformasi PBB, serta penguatan peran Global South,” katanya.

54 menit yang lalu
2






English (US) ·
Indonesian (ID) ·