Trump-Xi Bertemu di Washington, Eropa Terjepit Tarif, Tanah Jarang, dan AI

43 menit yang lalu 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Presiden China Xi Jinping tiba di Amerika Serikat (AS) untuk kunjungan tiga hari yang akan mempertemukannya dengan Presiden Donald Trump di Washington. Pertemuan dua pemimpin ekonomi terbesar dunia itu tidak hanya menentukan arah hubungan Washington-Beijing, tetapi juga berpotensi membawa konsekuensi besar bagi Eropa.

Perdagangan, tarif, mineral tanah jarang, kecerdasan buatan (AI), hingga persoalan geopolitik menjadi bagian dari agenda. Euronews melaporkan negara-negara Eropa mengamati pertemuan tersebut dengan saksama karena keputusan yang dicapai AS dan China dapat secara langsung memengaruhi kepentingan ekonomi dan strategis Uni Eropa (UE).

Pertemuan di Washington melanjutkan rangkaian komunikasi tingkat tinggi Trump-Xi setelah keduanya bertemu di Busan pada Oktober 2025 dan Beijing pada Mei 2026. Pertemuan Busan menghasilkan gencatan perdagangan, sedangkan pertemuan Beijing dilanjutkan dengan pembicaraan mengenai perdagangan, mineral kritis, dan teknologi.

Menjelang pertemuan Trump-Xi kali ini, Washington dan Beijing bahkan telah menghasilkan perkembangan baru. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kedua negara sepakat memperpanjang kesepakatan perdagangan Busan selama dua bulan hingga Januari, memberikan waktu tambahan untuk membahas kemungkinan kesepakatan yang lebih luas.

Eropa berada dalam posisi yang tidak sederhana. Brussels sedang menjalankan negosiasi tersendiri dengan Beijing untuk mengurangi ketidakseimbangan perdagangan, sementara setiap kompromi antara Washington dan Beijing dapat mengubah arah ekspor China, akses terhadap bahan baku strategis, hingga konfigurasi persaingan AI global.

Xi Datang dengan Kartu Tanah Jarang

Salah satu persoalan terbesar yang membayangi pertemuan adalah mineral tanah jarang. China masih memegang posisi dominan dalam rantai pasok global untuk bahan yang sangat penting bagi industri teknologi tinggi, otomotif, energi, elektronik, hingga pertahanan.

Reuters melaporkan China menguasai hingga sekitar 70 persen kegiatan penambangan tanah jarang dunia dan lebih dari 85 persen kapasitas pemurnian serta produksinya. Dominasi tersebut telah memberikan Beijing alat tawar yang sangat kuat ketika menghadapi tekanan perdagangan dan teknologi dari Washington.

Ketergantungan tersebut juga dirasakan Eropa. Industri-industri Eropa membutuhkan mineral kritis untuk kendaraan listrik, turbin angin, cip, mesin pesawat, serta berbagai produk teknologi strategis.

Alicia García Herrero dari lembaga kajian Bruegel menilai Xi datang ke Washington dengan posisi tawar yang kuat. Menurut dia, kemampuan Beijing memengaruhi pasokan mineral strategis membuat Washington memiliki daya tawar jauh lebih besar dibandingkan Brussels ketika bernegosiasi dengan China.

Persoalannya bagi Eropa, kesepakatan AS-China mengenai tanah jarang belum tentu secara otomatis memberikan keuntungan yang sama kepada Uni Eropa.

"AS dalam satu pengertian akan bernegosiasi untuk Eropa, dan Eropa harus membayar harga untuk itu," kata García Herrero kepada Euronews pada Rabu (23/9/2026).

Tekanan tersebut telah memaksa sejumlah perusahaan Barat mencari alternatif. Reuters melaporkan industri dirgantara bahkan mulai menguji kembali bahan pelapis lama dan teknologi yang mengurangi ketergantungan pada mineral tanah jarang China. Namun, para pakar memperkirakan diversifikasi rantai pasok akan membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Tarif Bisa Mengalirkan Barang China ke Eropa

Persoalan lain yang sangat diperhatikan Brussels adalah tarif. Bagi Eropa, perang dagang AS-China tidak berhenti di antara dua negara tersebut.

Ketika Washington menaikkan hambatan terhadap produk China, sebagian barang yang kehilangan akses kompetitif ke pasar AS dapat dialihkan ke wilayah lain. Salah satu tujuan paling potensial adalah pasar tunggal Uni Eropa.

Euronews mencatat kondisi inilah yang membuat Brussels berkepentingan terhadap stabilitas hubungan Washington-Beijing. Tarif AS yang terlalu tinggi terhadap China dapat mendorong semakin banyak produk China mencari pasar alternatif di Eropa dan meningkatkan tekanan terhadap manufaktur lokal.

AS dan China sebelumnya sempat terlibat perang tarif dengan tingkat bea masuk timbal balik melebihi 100 persen sebelum mencapai gencatan perdagangan. Washington kini membuka kemungkinan memperpanjang gencatan itu atau mengembangkan kesepakatan perdagangan yang lebih luas.

Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer sebelumnya mengatakan pembicaraan juga mencakup pertanian dan hambatan perdagangan nontarif. Euronews melaporkan kemungkinan keringanan tarif atas perdagangan bernilai puluhan miliar dolar ikut dibahas menjelang pertemuan kedua pemimpin.

Trump memiliki kepentingan domestik menjelang pemilu sela November. Setiap kesepakatan yang dapat menekan harga, meningkatkan pembelian produk pertanian AS, atau memberikan akses lebih baik terhadap mineral kritis dapat dipresentasikan sebagai keberhasilan pemerintahannya.

Sementara itu, Beijing juga menghadapi tantangan ekonomi domestik dan berkepentingan mempertahankan akses pasar ekspor. Reuters melaporkan perdagangan China tetap menunjukkan kekuatan menjelang pertemuan, memberikan Xi ruang tawar yang cukup besar ketika memasuki pembicaraan.

Ivano di Carlo dari European Policy Centre memperkirakan kedua pihak memiliki kepentingan berbeda. Trump membutuhkan hasil yang dapat ditunjukkan kepada pemilih, sedangkan China memperoleh keuntungan apabila berhasil membeli waktu untuk memperkuat basis industrinya.

Baca Artikel Selengkapnya