Anak-anak sering tidak memahami baik-buruknya perbuatan karena kurangnya pendidikan karakter. Saat melakukan perundungan verbal maupun fisik, mereka bahkan tidak merasa bersalah. Kondisi ini menjadi peringatan keras bagi para pendidik di sekolah dan orang tua di rumah. Jika dibiarkan, karakter buruk ini akan terbawa hingga dewasa.
Dalam pandangan Islam, orang tua wajib mengendalikan emosi anak dan meluruskannya melalui pendidikan syariat. Namun, penting untuk memahami terlebih dahulu penyebab anak tumbuh menjadi pribadi yang buas dan menindas.
Anak berperilaku dengan meniru lingkungan sekitar, termasuk interaksinya dengan orang tua dan guru. Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa karakter anak yang ganas lahir dari pola didik yang keras. Selain merugikan orang lain, pola asuh yang penuh paksaan membuat anak malas dan berambisi rendah.
أنّ إرهاف الحدّ بالتّعليم مضرّ بالمتعلّم سيّما في أصاغر الولد لأنّه من سوء الملكة. ومن كان مرباه بالعسف والقهر من المتعلّمين أو المماليك أو الخدم سطا به القهر وضيّق عن النّفس في انبساطها وذهب بنشاطها ودعاه إلى الكسل وحمل على الكذب والخبث وهو التّظاهر بغير ما في ضميره خوفا من انبساط الأيدي بالقهر عليه وعلّمه المكر والخديعة لذلك وصارت له هذه عادة وخلقا وفسدت معاني الإنسانيّة الّتي له من حيث الاجتماع والتّمرّن وهي الحميّة والمدافعة عن نفسه ومنزله. وصار عيالا على غيره في ذلك بل وكسلت النّفس عن اكتساب الفضائل والخلق الجميل فانقبضت عن غايتها ومدى إنسانيّتها فارتكس وعاد في أسفل السّافلين
Artinya, “Bahwa bersikap keras dalam pendidikan (pola asuh) justru membahayakan bagi pelajar, terutama anak-anak di bawah umur, karena hal itu merupakan cerminan dari buruknya metode pembinaan. Siapa pun, baik dari kalangan pelajar, budak, maupun pelayan yang pendidikannya dibentuk melalui cara-cara paksaan dan kekerasan, maka kekerasan tersebut akan menguasai dirinya, mempersempit keluasan jiwanya, menghilangkan semangatnya, mendorongnya pada kemalasan, serta membuatnya terbiasa berdusta dan berlaku licik.
Mereka yang mendapatkan didikan keras akan berpura-pura menampilkan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya karena takut terhadap tangan-tangan yang menindasnya. Sikap ini kemudian mengajarkannya kelicikan dan tipu daya, hingga hal itu menjadi kebiasaan dan tabiat bagi dirinya.
Akibatnya, esensi nilai-nilai kemanusiaan yang diperolehnya melalui interaksi sosial dan penempaan diri seperti rasa harga diri (hamiyyah) serta kemampuan membela diri dan pada keluarganya pun akan rusak. Mereka pun menjadi pribadi yang bergantung kepada orang lain dalam hal tersebut.
Lebih dari itu, jiwanya menjadi malas untuk meraih berbagai keutamaan dan akhlak yang mulia, menyusut dari tujuan akhir dan batas kemanusiaannya, sehingga ia merosot jatuh dan kembali menjadi serendah-rendah makhluk.” (Ibnu Khaldun, Tarikh Ibnu Khaldun, [Beirut, Darul Fikri: 1981], Juz 1, halaman 743)
Dampak didikan keras sangat mengerikan. Pola asuh ini melahirkan tabiat licik dan gemar menipu. Anak yang terbiasa dicaci atau dilukai secara fisik akan menirukan perbuatan tersebut kepada orang lain.
Jika anak mulai bersikap kasar, orang tua harus sigap merespons. Karakter menindas yang dibiarkan akan mengkristal hingga dewasa.
فإنَّه ينشأ على ما عوَّده المربِّي في صغره؛ من حَرَدٍ وغضب، ولجَاجٍ وعَجَلَةٍ، وخفَّةٍ مع هَوَاهُ، وطَيْشٍ وحدَّةٍ وجَشَعٍ، فيصعب عليه في كِبَرِه تلافي ذلك، وتصير هذه الأخلاقُ صفاتٍ وهيئاتٍ راسخةً له، فلو تحرَّز منها غاية التحرُّز، فَضَحَتْه - ولا بدَّ - يومًا مّا.
Artinya, “Sebab, seorang anak akan tumbuh dewasa di atas kebiasaan yang ditanamkan oleh pendidiknya semasa kecil, baik itu berupa tabiat kasar (suka mendongkol), cepat marah, keras kepala (suka mendebat), tergesa-gesa, memperturutkan hawa nafsu, bersikap (ceroboh/labil), temperamental, hingga sifat tamak.
Jika sudah demikian, akan sangat sulit baginya untuk memperbaiki hal tersebut saat dewasa nanti. Akhlak-akhlak buruk ini akan menjelma menjadi karakter dan jati diri yang tertanam kuat dalam dirinya. Bahkan, meskipun sang anak mencoba menyembunyikannya dengan sangat hati-hati, tabiat buruk itu pasti akan terbongkar dengan sendirinya suatu hari nanti.” (Ibnu Qayyim, Tuhfatul Maudud, [Beirut, Darul Ibnu hazm: 2019], Juz 1, halaman 349)
Temuan ini sejalan dengan penelitian psikologi yang menunjukkan bahwa pola asuh keras (harsh parenting) pemicu utama perilaku remaja untuk melakukan perundungan (bullying) maupun menjadi korban (being bullied). (Cen Zenxin, et al., The influence of harsh parenting on adolescents' bullying: the moderating role of perceived class climate and gender, [Amerika, Front Psychol: 2026])
Bapak etika Islam, Ibnu Misykawih, menegaskan pentingnya pencegahan sejak dini melalui regulasi emosi berbasis syariat. Tanpa bimbingan, anak akan membawa tabiat buruk hingga dewasa.
Pendidikan syariat membimbing anak menjadi pribadi berbudi luhur. Sebagai contoh, Nabi Muhammad memerintahkan umatnya untuk menahan amarah:
"عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ: «لا تَغْضَبْ»، فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ: لا تَغْضَبْ"
Artinya, “Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Berilah aku wasiat. Beliau bersabda, Janganlah engkau marah." (HR. Imam Bukhari)
Berdasarkan hal ini, Ibnu Misykawih menegaskan, untuk mencegah tabiat buruk seperti ganas dan menindas, seorang anak perlu mendapatkan Pendidikan syariat sebagai regulasi serta batasan emosi. Dengan tujuan, seorang anak akan terbiasa dengan akhlak-akhlak baik yang diajarkan syariat dan khususnya dijauhkan dari tabiat yang merugikan orang lain.
وإذا أهملت الطباع ولم ترض بالتأديب والتقويم نشأ كل إنسان على رسوم طباعه وبقي عمره كله على الحال التي كان عليها في الطفولية وتبع ما وافقه في الطبع أما الغضب وأما اللذة وأما الزعارة وأما الشره وأما غير ذلك من الطباع المذمومة والشريعة هي التي تقوم الأحداث وتعودهم الأفعال المرضية وتعد نفوسهم لقبول الحكمة وطلب الفضائل والبلوغ إلى السعادة الإنسية بالفكر الصحيح والقياس المستقيم وعلى الوالدين أخذهم بها وسائر الآداب الجميلة بضروب السياسات من الضروب إذا دعت إليه الحاجة أو التوبيخات أن صدتهم أو الأطماع في الكرامات أو غيرها مما يميلون إليه من الراحات أو يحذرونه من العقوبات. حتى إذا تعودوا ذلك واستمروا عليه مدة من الزمان كثيرة أمكن فيهم حينئذ أن يعلموا برهين ما أخذوه تقليدا وينبهوا على طرق الفضائل وإكتسابها والبلوغ إلى غاياتها بهذه الصناعة التي نحن بصددها
Artinya, “Jika watak dibiarkan begitu saja tanpa dididik dan diluruskan, setiap manusia akan tumbuh sesuai dengan bawaan watak aslinya. Manusia akan menghabiskan seluruh sisa hidupnya dalam keadaan yang sama seperti masa kanak-kanak, serta menuruti apa saja yang selaras dengan tabiatnya, seperti amarah, hawa nafsu, keburukan temperamen, ketamakan, maupun sifat tercela lainnya.
Syariat adalah hal yang meluruskan jiwa anak-anak, membiasakan mereka pada perbuatan yang diridai, serta menyiapkan jiwa mereka untuk menerima hikmah, menuntut keutamaan, dan mencapai kebahagiaan manusiawi melalui pemikiran yang benar dan penalaran yang lurus.
Sudah sepatutnya bagi kedua orang tua untuk membimbing anak-anak dengan syariat tersebut dan dengan seluruh adab yang mulia melalui berbagai metode pengasuhan. Metode ini dapat berupa pukulan [yang ringan, seperti menegur] jika memang dibutuhkan, teguran jika dapat mencegah mereka, iming-iming hadiah, bentuk kemudahan lain yang disukai, maupun hukuman yang ditakuti.
Hingga apabila anak-anak telah terbiasa dengan hal tersebut dan menjalankannya dalam kurun waktu yang lama, barulah pada saat itu memungkinkan bagi mereka untuk memahami bukti dari apa yang selama ini dijalani secara ikut-ikutan, serta disadarkan pada jalan menuju keutamaan, cara memperolehnya, dan pencapaian tujuannya melalui disiplin ilmu yang sedang dibahas ini.” (Ibnu Misykawih, Tahdzibul Akhlaq, [Iran, Mushawaratul Khuza’i: 2012], halaman 269)
Sebagai kesimpulan, perilaku perundungan dan tabiat buas pada anak bukanlah murni bawaan lahir, melainkan sering kali menjadi buah dari pola asuh yang mengandalkan kekerasan dan minimnya penanaman nilai karakter. Untuk memutus rantai perilaku menindas ini, orang tua dan pendidik harus beralih dari metode paksaan menuju pendekatan yang penuh keteladanan.
Melalui pendidikan syariat, anak tidak hanya diajarkan regulasi emosi dan larangan berbuat zalim, tetapi juga dibimbing perlahan menuju keluhuran budi pekerti. Dengan pondasi agama yang ditanamkan sejak dini, anak akan terselamatkan dari kebiasaan buruk dan tumbuh menjadi generasi dewasa yang berakhlak mulia, berjiwa besar, serta memanusiakan sesamanya.
Shofi Mustajibullah, Alumni Azzahirul Falah Ploso

3 jam yang lalu
2



English (US) ·
Indonesian (ID) ·