Suatu malam, Rasulullah saw. membangunkan Ali bin Abi Thalib ra. dan Sayyidah Fathimah az-Zahra dengan pertanyaan, Tidakkah kalian berdua shalat malam? Sayyidina Ali yang masih mengantuk menjawab:
فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَنْفُسُنَا بِيَدِ اللهِ، فَإِذَا شَاءَ أَنْ يَبْعَثَنَا بَعَثَنَا، فَانْصَرَفَ حِينَ قُلْنَا ذَلِكَ، وَلَمْ يَرْجِعْ إِلَيَّ شَيْئًا، ثُمَّ سَمِعْتُهُ وَهُوَ مُوَلٍّ يَضْرِبُ فَخِذَهُ وَهُوَ يَقُولُ: وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا
Artinya: "Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, jiwa kami berada di tangan Allah. Jika Dia berkehendak membangunkan kami, niscaya Dia membangunkan kami.' Beliau pun berpaling dan tidak membalas sepatah kata pun. Kemudian aku mendengar beliau, sambil berlalu, menepuk pahanya seraya membaca, 'Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.'" (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Kisah ini menarik untuk dipertanyakan. Ali, sang babul 'ilmi, sempat berdalih dengan menyandarkan kantuknya pada kehendak Allah swt. Mengapa Al-Qur'an menyebut manusia makhluk paling banyak membantah? Apakah semua bantahan tercela? Ayat yang dibacakan Rasulullah diatas adalah Surat Al-Kahfi dibawah ini:
وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ ۚ وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا
Artinya: "Dan sungguh, Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia dalam Al-Qur'an ini dengan bermacam-macam perumpamaan. Tetapi manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah." (QS. Al-Kahfi [18]: 54).
Ibnu 'Asyur menjelaskan, ayat ini menyambung rangkaian perumpamaan dua ayat sebelumnya, yaitu ayat 32 mengenai kisah dua pemilik kebun dan ayat 45 tentang perumpamaan dunia seperti air hujan yang menumbuhkan tanaman lalu mengering (At-Tahrir wat Tanwir, [Tunis: Ad-Dar At-Tunisiyyah, 1984 M], juz XV, hlm. 346).
Imam Ar-Razi menambahkan, bahwa kata tashrif menuntut pengulangan, yaitu meski telah diberi jawaban memuaskan dan perumpamaan yang tepat, kafir Makkah tetap tidak meninggalkan perdebatan batil (Mafatihul Ghaib, [Beirut: Dar Ihya' At-Turats Al-'Arabi, 1420 H], juz XXI, hlm. 475).
Jelas-jelas buktinya sudah lengkap, tetapi manusia tetap mencari celah untuk membantah. Untuk memahami ayat ini, kita perlu menelusuri makna kata jadal lebih dulu.
Menurut ar-Raghib al-Ashfahani, al-jidal adalah saling bertukar kata untuk saling mengalahkan. Asalnya dari jadaltul habla, memintal tali dengan kuat, seakan dua orang yang berbantahan saling memelintir lawannya agar lepas dari pendapatnya (Al-Mufradat fi Gharibil Qur'an, [Damaskus: Darul Qalam, 1412 H], hlm. 189).
Ibnu 'Asyur menilai ism tafdhil di sini maslubul mufadhalah, bukan perbandingan harfiah, melainkan penegasan kuatnya kecenderungan manusia berbantah. Jadal adalah kekhasan manusia, yang merupakan efek samping dari anugerah akal dan kemampuannya untuk bernalar (At-Tahrir wat Tanwir, [Tunis: Ad-Dar At-Tunisiyyah, 1984 M], juz XV, hlm. 347-348).
Lalu siapa al-insan di sini? Imam Ath-Thabari, mengutip Ibnu Zaid, memahaminya sebagai kaum yang memusuhi nabi mereka (Jami'ul Bayan 'an Ta'wili Ayil Qur'an, [Kairo: Dar Hajr, 2001 M], juz XV, hlm. 299-300).
Sedangkan, Imam Al-Qurthubi menyebut tokoh yang dimaksud adalah an-Nadhr bin al-Harits atau Ubay bin Khalaf akibat perdebatannya mengenai al-Qur'an (Al-Jami' li Ahkamil Qur'an, [Kairo: Darul Kutub Al-Mishriyyah, 1964 M], juz XI, hlm. 5).
Namun, berbeda dengan Ibnu 'Asyur yang menegaskan al-insan adalah nama jenis anak Adam, bukan khusus orang kafir. Huruf al di dalamnya menunjukkan ta'riful haqiqah, sehingga cakupannya lebih luas daripada kata an-nas (At-Tahrir wat Tanwir, [Tunis: Ad-Dar At-Tunisiyyah, 1984 M], juz XV, hlm. 347).
Syekh Nawawi al-Bantani menambahkan kata bi jibillatihi, dengan tabiat bawaannya. Bahwasanya manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah. Maksudnya, permusuhan manusia dengan cara yang batil adalah hal yang paling banyak ada pada dirinya. (Marah Labid li Kasyfi Ma'nal Qur'anil Majid, [Beirut: Darul Kutub Al-'Ilmiyyah, 1417 H], juz I, hlm. 653).
Sehingga, membantah bukan hanya sifat orang kafir tertentu, tetapi kecenderungan yang tertanam dalam diri setiap manusia. Namun pengecualian itu, diberikan kepada manusia yang diberi petunjuk Allah (Tafsirul Qur'anil 'Azhim, [Beirut: Darul Kutub Al-'Ilmiyyah, 1419 H], juz V, hlm. 154).
Sangat jelas, bahwa hadits Ali menguatkan pembacaan umum ini, sebab ayat diatas dibacakan Rasulullah saw. kepada menantunya sendiri, bukan kepada orang kafir.
Lantas, mengapa manusia gemar membantah? Menurut Ibnu 'Asyur, yang lebih layak bagi Ali adalah bersyukur karena dibangunkan Rasulullah saw. untuk shalat malam, berharap hal itu terulang, dan bergembira dengan teguran beliau, dan bukan malah mencari dalil untuk membenarkan keinginannya melanjutkan tidur (At-Tahrir wat Tanwir, [Tunis: Ad-Dar At-Tunisiyyah, 1984 M], juz XV, hlm. 348).
Jawaban Ali tidak salah, sebab jiwa manusia memang berada di tangan Allah. Namun, dalil yang benar itu dipakai untuk membela keinginan diri, bukan untuk mencari kebenaran.
Imam Al-Ghazali menyebut pendorongnya adalah syahwat batin untuk meninggikan diri dengan menampakkan ilmu, serta menjatuhkan orang lain dengan menampakkan kekurangannya (Ihya' Ulumiddin, [Beirut: Darul Ma'rifah, t.t.], juz III, hlm. 117-118).
Hugo Mercier dan Dan Sperber dalam The Enigma of Reason, berpendapat bahwa nalar manusia fungsi utamanya adalah membenarkan diri dan meyakinkan orang lain. Inilah yang disebut sebagai myside bias, yaitu manusia mudah membantah pendapat orang lain, namun sulit membantah pendapat sendiri. (lihat: The Enigma of Reason, [Cambridge: Harvard University Press, 2017 M], hlm. 9-10, dan 218)
Perbedaan sudut pandang ilmuwan diatas dengan al-Qur'an adalah mereka memandang kecenderungan itu merupakan evolusi yang wajar bagi manusia, sedangkan Al-Qur'an menilainya sebagai hukum moral yang menawarkan hidayah sebagai jalan keluar. Tabiat membantah dalam diri manusia adalah potensi yang harus dikendalikan, bukan takdir yang membenarkan diri.
Meski demikian, keliru jika ayat ini dipahami sebagai larangan berpikir kritis atau berdiskusi. Ibnu 'Asyur menegaskan bahwa jidal adalah sebuah akhlak yang memiliki dua sisi, yaitu ada yang tercela, yang dicegah oleh pendidikan Islam, dan ada yang terpuji.
Contoh yang terpuji adalah dalam QS. Hud [11]: 74-75 yang menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim membela kaum Luth di hadapan para malaikat utusan Allah, lalu dipuji sebagai halimun awwahun munib (At-Tahrir wat Tanwir, [Tunis: Ad-Dar At-Tunisiyyah, 1984 M], juz XV, hlm. 347-348).
Al-Qur'an tidak sama sekali melarang jadal. Misalnya dalam QS. An-Nahl [16]: 125, Al-Qur'an memerintahkan jadal dengan cara terbaik. Al-Qur'an juga melarang berdebat dengan Ahli Kitab kecuali dengan cara yang paling baik sebagaimana dalam QS. Al-'Ankabut [29]: 46. Bahkan, satu surat dalam Al-Qur'an dinamai Al-Mujadilah, yang artinya perempuan yang membantah, karena Allah swt. mendengar pengaduan seorang perempuan yang memperjuangkan haknya di hadapan Rasulullah saw.
Namun demikian, Rosalind Ward Gwynne mencatat sebagian besar penyebutan jadal dalam Al-Qur'an bernada celaan (lihat: Logic, Rhetoric and Legal Reasoning in the Qur'an: God's Arguments, [London: RoutledgeCurzon, 2004 M], hlm. xv).
Catatan ini memberi pelajaran penting, dimana Al-Qur'an jauh lebih sering mengecam jadal daripada memujinya. Artinya, jadal yang terpuji adalah pengecualian yang harus dijaga dengan adab, bukan kebiasaan yang boleh dilepas begitu saja.
Lalu, apa batasnya? Imam Al-Ghazali mendefinisikan mujadalah yang tercela sebagai:
قَصْدُ إِفْحَامِ الْغَيْرِ وَتَعْجِيزِهِ وَتَنْقِيصِهِ بِالْقَدْحِ فِي كلامه ونسبته إلى القصور والجهل فيه
Artinya: "Bermaksud membungkam orang lain, melemahkannya, dan merendahkannya dengan mencela ucapannya serta menisbatkan kekurangan dan kebodohan kepadanya."
Imam Ghazali lalu memberi ukuran yang mudah diuji. Tanda jadal yang tercela adalah ketika seseorang tidak suka jika kebenaran ditampakkan oleh orang lain, karena ia ingin dirinya sendiri yang tampil membongkar kesalahan lawannya. Untuk itu, Ia menganjurkan diam, atau bertanya dengan niat mencari faedah, bukan dengan sikap menentang. (Ihya' Ulumiddin, [Beirut: Darul Ma'rifah, t.t.], juz III, hlm. 117).
Rasulullah saw. sendiri memberikan peringatan keras tentang jadal yang tercela:
ما ضَلَّ قوْمٌ بَعدَ هُدىً كانُوا عليه إلَّا أُوتُوا الجَدَلَ
Artinya, "Tidaklah suatu kaum tersesat setelah mendapat petunjuk, kecuali karena mereka diberi kegemaran berdebat."
Rasulullah lalu membaca QS. Az-Zukhruf [43]: 58, ma dlarabuhu laka illa jadala, bal hum qaumun khashimun, yang berarti mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan untuk membantah saja, bahkan mereka adalah kaum yang suka bertengkar. (HR. At-Tirmidzi).
Sebaliknya, Rasulullah memberikan jaminan bagi orang yang mampu menahan diri:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
Artinya, "Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar." (HR. Abu Dawud).
Yang dijanjikan surga bukan orang yang kalah berdebat, melainkan yang benar tetapi memilih tidak memperpanjangnya. Ukurannya bukan menang argumen, melainkan selamatnya hati dan terjaganya persaudaraan.
Di era media sosial, kolom komentar kerap menjadi arena adu bantah, dan dalil dipakai seperti Ali memakainya malam itu. Memang benar secara teks, tetapi tidak dibenarkan untuk membela ego. Sebaliknya, forum bahtsul masail di pesantren dan NU menguji perbedaan pendapat dengan rujukan kitab dan adab demi kemaslahatan. Inilah yang disebut sebagai jadal billati hiya ahsan.
Walhasil, ayat ini adalah cermin. Kemampuan membantah lahir dari anugerah akal manusia, tetapi mudah menjadi alat pembenaran diri ketika dikuasai hawa nafsu dan kesombongan. Penawarnya adalah hidayah, adab, dan kerendahan hati menerima kebenaran dari siapa pun.
Pelajaran terindah malam itu ada pada sikap Rasulullah saw. Beliau tidak membalas bantahan dengan bantahan, cukup berpaling, menepuk paha, dan membacakan sebuah ayat. Wallahu a'lam.
Agung Nugroho Reformis Santono, Mahasiswa Doktoral Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Universitas PTIQ Jakarta dan Dosen Tutor Online Universitas Terbuka

1 jam yang lalu
1



English (US) ·
Indonesian (ID) ·