Malaysia Pulangkan Pengungsi Rohingya ke Myanmar Meski Berisiko

52 menit yang lalu 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Malaysia mulai memulangkan hampir 1.500 pengungsi Rohingya ke Myanmar meski ada peringatan dari PBB bahwa negara itu tetap tak aman dan berisiko bagi mereka.

Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengatakan pemulangan Rohingya terjadi usai Malaysia dan Myanmar sepakat untuk mengembalikan 5.000 pengungsi secara sukarela dan bertahap.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hari ini, sebanyak 1.476 pengungsi memulai tahap pertama setelah menjalani proses disepakati kedua negara," kata Anwar dalam unggahan di X pada Selasa (29/9).

Menurut laporan puluhan bus tiba di stadion dekat pangkalan Angkatan Laut Lumut pada untuk mengangkut para pengungsi. Mereka akan diangkut ke Myanmar menggunakan kapal.

Lebih lanjut, Anwar mengatakan isu pengungsi Myanmar jadi warisan selama beberapa dekade yang membebani negara dari segi keamanan, aspek sosial, dan tata kelola.

"Pemerintah MADANI sedang mengambil langkah-langkah untuk menangani masalah ini secara lebih terstruktur, termasuk melalui penegakan hukum, koordinasi antarlembaga, dan kerja sama dengan negara asal," kata dia.

Hingga Februari 2026, Malaysia memiliki lebih dari 126.144 pengungsi Rohingya.

[Gambas:Video CNN]

Tentara Myanmar berulang kali melakukan kekerasan ke Rohingya termasuk gelombang kekerasan pada 2017 yang memicu krisis pengungsi besar-besaran. Akibat insiden ini, ratusan ribu Rohingya melarikan diri ke Bangladesh, Malaysia, India, dan negara tetangga lain.

Myanmar secara resmi tidak mengakui Rohingya sebagai komunitas etnis dengan akar lokal, melainkan menyebut mereka sebagai "orang Bengali"-yang pada intinya, menyebut mereka migran Bangladesh.

Terpisah, Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) mewanti-wanti konflik dan kekerasan terus berlanjut di Myanmar. Artinya kondisi untuk memulangkan pengungsi dengan aman dan bermartabat tidak ada.

"Setiap pemulangan pengungsi harus bersifat sukarela, berdasarkan keputusan yang matang, dan berlangsung dalam kondisi aman dan bermartabat," demikian menurut badan PBB itu.

Kementerian Dalam Negeri Malaysia menolak berkomentar mengenai peringatan tersebut, dengan merujuk pada pernyataan sebelumnya bahwa pemulangan itu bersifat sukarela.

Ketua bersama Dewan Nasional Rohingya Arakan (ARNC), kelompok yang mewakili Rohingya,Nay San Lwin mengatakan pemulangan itu terjadi saat pertempuran militer Myanmar dan milisi Tentara Arakan sedang membara.

"Militer Myanmar telah kehilangan kendali atas sebagian besar tanah air Rohingya, dan pertempurannya dengan Tentara Arakan masih berlanjut, dengan Rohingya terjebak di tengah-tengahnya," kata Nay, dikutip Al Jazeera.

"Baik militer maupun Tentara Arakan melakukan kekejaman terhadap Rohingya," imbuh dia.

(isa/bac)

Baca Artikel Selengkapnya