Jakarta, CNN Indonesia --
Baru juga sehari Presiden Abelardo De la Espriella memimpin Kolombia, dua serangan bom langsung terjadi pada Sabtu (8/8) di wilayah berbeda di negara tersebut. Akibat serangan itu, seorang polisi meninggal, dan beberapa lainnya terluka.
Serangan tersebut terjadi sehari setelah De la Espriella dilantik di kota Cali, wilayah barat daya negara itu, pada Jumat (7/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemimpin sayap kanan garis keras yang langsung merapat ke Israel setelah dua tahun putus hubungan ini sebelumnya berjanji, untuk memerangi "narkoterorisme tanpa gencatan senjata" dan menghentikan perundingan damai dengan kelompok-kelompok bersenjata.
Angkatan Darat Kolombia menyatakan kelompok pembangkang gerilyawan FARC menggunakan bahan peledak untuk menghancurkan gerbang tol di dekat Cali pada Sabtu dini hari; dua petugas keamanan mengalami luka ringan dalam insiden tersebut.
Kelompok pemberontak di bawah komando gerilyawan yang paling dicari di Kolombia, Ivan Morodisco, beroperasi di sekitar lokasi gerbang tol tersebut. Tol itu sendiri sedang dalam tahap pembangunan di jalan raya Pan-Amerika di wilayah administratif Santander de Quilichao.
Morodisco memimpin kelompok pembangkang yang memisahkan diri dari kesepakatan damai bersejarah pada 2016 antara FARC dan pemerintah Kolombia.
Roberto Sandoval, seorang petugas pemadam kebakaran yang tinggal di lingkungan dekat gerbang tol, mengatakan kepada AFP bahwa ketegangan meningkat pasca-pengeboman tersebut.
"Kami semua merasa gelisah, sangat tegang, dan cemas."
Di bagian lain lingkungan tersebut, kaca jendela pecah dan berserakan di atas tempat tidur Sonia Zapata, seorang ibu rumah tangga berusia 68 tahun.
Ia mengaku merasa "sangat cemas dan sangat takut."
Sementara itu, pada waktu yang sama sekitar seribu kilometer ke utara dari kejadian pertama, seorang petugas di Cesar tewas dalam serangan bom ketika sebuah pesawat nirawak (drone) bermuatan bahan peledak menghantam kantor polisi. Pihak berwenang di sana belum mengidentifikasi para tersangka.
De la Espriella mengecam aksi-aksi pengeboman tersebut melalui media sosial pada hari Sabtu, dengan menyatakan dalam sebuah unggahan di media sosial bahwa "menyerang infrastruktur negara berarti menyerang kemajuan."
"Kepada pihak yang bertanggung jawab, saya sampaikan pesan tegas: tidak akan ada tempat persembunyian, tidak ada keringanan hukuman, dan tidak ada impunitas," tambahnya.
De la Espriella yang secara terbuka mengagumi Presiden AS Donald Trump dan Nayib Bukele dari El Salvador itu juga menegaskan bahwa siapa pun yang bertanggung jawab "tidak akan lolos dari hukuman."
AFP menyebut De la Espriella yang baru pertama kali menjabat itu kini menghadapi tantangan berat dari kelompok gerilyawan dan penyelundup narkoba yang beroperasi di Kolombia.
De la Espriella telah berjanji untuk membuka penjara-penjara raksasa seperti yang dilakukan Bukele serta mengintensifkan serangan udara terhadap kelompok gerilyawan dan penyelundup narkoba yang beroperasi di Kolombia, dengan dukungan dari Amerika Serikat dan Israel.
Pelantikan pemimpin politik dengan gaya konfrontatif tersebut berlangsung di tengah gelombang kekerasan terburuk yang dialami negara itu dalam satu dekade terakhir.
Satu dekade setelah perjanjian damai bersejarah, sejumlah wilayah di Kolombia masih dikuasai oleh kelompok bersenjata pembangkang yang mendominasi produksi kokain global.
(afp/end)

1 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·