Khutbah Shalat Istisqa: Memohon Hujan, Ampunan, dan Rahmat Allah

52 menit yang lalu 3

Ketika musim kemarau berkepanjangan dan hujan tak kunjung turun, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan shalat istisqa sebagai bentuk permohonan kepada Allah swt. agar menurunkan hujan. Namun, memohon hujan tidak cukup hanya dengan berdoa. Umat Islam juga diajak memperbanyak istighfar, bertobat, menunaikan kewajiban, serta memperbaiki hubungan dengan sesama. Dengan demikian, shalat istisqa menjadi momentum untuk bermuhasabah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.


Khutbah shalat istisqa berikut berjudul “Memohon Hujan, Ampunan, dan Rahmat Allah”. Khutbah ini mengajak umat Islam untuk menyadari pentingnya istighfar dan tobat, memperbanyak sedekah, menunaikan zakat, serta memohon rahmat Allah dengan penuh kerendahan hati. Untuk mencetak naskah khutbah ini, silakan klik ikon print berwarna merah di bagian atas dan bawah artikel (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat.


Khutbah Pertama

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

(Dibaca sembilan kali)

الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، مُغِيْثُ الْمُسْتَغِيْثِيْنَ، وَمُجِيْبُ دَعْوَةِ الْمُضْطَرِّيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ وَخَاتَمُ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Pada hari yang penuh pengharapan ini, kita berkumpul untuk memohon kepada Allah agar menurunkan hujan sebagai rahmat dan pertolongan-Nya kepada kita.


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Sesungguhnya hujan bukan sekadar fenomena alam. Hujan adalah rahmat dan rezeki dari Allah swt. Ketika hujan tertahan, hendaknya kita tidak hanya memikirkan sebab-sebab lahiriah, tetapi juga bermuhasabah terhadap keadaan diri kita, memperbanyak istighfar, bertobat, serta kembali berpegang teguh pada agama dan ajaran Allah swt.


Allah berfirman melalui lisan Nabi Nuh AS:


فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۝ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا ۝ وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا


Artinya, “Lalu, aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu (tinggalkan kemusyrikan dan masuk Islamlah kalian). Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. (Jika kamu memohon ampun,) niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.’” (QS. Nuh: 10–12)


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa istighfar dan tobat merupakan sebab turunnya rahmat Allah. Karena itu, dalam keadaan seperti ini, janganlah kita hanya meminta hujan dengan lisan, sementara hati dan perbuatan kita jauh dari apa yang diperintahkan Allah swt.


Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Sudahkah kita benar-benar bertobat dari dosa-dosa kita? Sudahkah kita meninggalkan maksiat yang selama ini kita lakukan? Sudahkah kita menunaikan zakat yang menjadi kewajiban kita?


Sudahkah kita meminta maaf kepada orang yang pernah kita zalimi? Sudahkah kita menyelesaikan hak-hak manusia yang masih menjadi tanggungan kita? Sudahkah kita memperbaiki hubungan dengan saudara, tetangga, keluarga, dan sesama kaum muslimin?


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Tobat yang benar bukan hanya ucapan أَسْتَغْفِرُ اللهَ semata, tetapi harus disertai penyesalan atas dosa, meninggalkan dosa tersebut, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya.


Para ulama menjelaskan bahwa di antara perkara yang dianjurkan ketika memohon hujan kepada Allah adalah bertobat dari berbagai kemaksiatan, memperbanyak sedekah, mengembalikan hak orang lain, serta mendamaikan perselisihan.


Allah berfirman:


وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا


Artinya, “Wahai kaumku, mohonlah ampunan kepada Tuhanmu (dengan beriman kepada-Nya) kemudian bertobatlah kepada-Nya! Niscaya Dia akan menurunkan untukmu hujan yang sangat deras...” (QS. Hud: 52)


Rasulullah SAW juga mengingatkan tentang kewajiban zakat. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi disebutkan:


وَلَا مَنَعَ قَوْمٌ الزَّكَاةَ إِلَّا حُبِسَ عَنْهُمُ الْمَطَرُ


Artinya, “Tidaklah suatu kaum menahan zakat, kecuali hujan akan ditahan dari mereka.” (HR. Al-Baihaqi)


Oleh karena itu, apabila di antara kita ada yang memiliki kewajiban zakat fitrah ataupun zakat mal dan belum menunaikannya, marilah segera menunaikannya. Jangan kita tahan hak orang-orang yang membutuhkan, sementara kita meminta agar Allah menurunkan rahmat-Nya kepada kita.


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah pula kita memperbanyak sedekah. Bantulah fakir miskin, anak yatim, orang yang kesulitan, dan saudara-saudara kita yang membutuhkan. Marilah kita tinggalkan permusuhan serta perselisihan. Jika ada di antara kita yang berselisih karena urusan dunia, marilah kita berdamai. Jika ada yang saling bermusuhan, marilah kita saling memaafkan. Jika ada hak orang lain yang pernah kita ambil, marilah kita kembalikan.


Sebab, kita sedang meminta rahmat kepada Allah. Maka, permohonan rahmat Allah haruslah kita iringi dengan memberikan rahmat kepada sesama. Rasulullah SAW bersabda:


هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ


Artinya, “Tidaklah kalian diberi pertolongan dan rezeki kecuali dengan (berkah dan doa) orang-orang lemah di antara kalian.” (HR. al-Bukhari)


Maka, marilah kita memperhatikan orang-orang lemah di sekitar kita. Bisa jadi doa seorang fakir, seorang anak yatim, seorang lanjut usia, atau orang yang tertindas menjadi sebab Allah membukakan pintu rahmat-Nya bagi kita semua.


Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam ath-Thahawi dan lainnya disebutkan bahwa Nabi Sulaiman as. keluar untuk memohon hujan. Ternyata, ia melihat seekor semut terlentang dan mengangkat kaki-kakinya ke langit, sedang berdoa memohon air hujan. Lalu, Nabi Sulaiman AS berkata:


اِرْجِعُوْا فَقَدِ اسْتُجِيْبَ لَكُمْ مِنْ أَجْلِ النَّمْلَةِ


Artinya, “Kembalilah kalian, karena permohonan kalian telah dikabulkan disebabkan oleh semut itu.” (HR. ath-Thahawi dan lainnya)

Riwayat hadits ini mengajarkan kepada kita betapa luasnya rahmat Allah dan betapa besar nilai doa makhluk yang lemah di sisi Allah. Karena itu, marilah kita bermunajat kepada Allah dengan hati yang khusyuk, tunduk, serta penuh rasa takut dan pengharapan kepada-Nya.


لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ الْعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيْمِ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمٰوَاتِ وَرَبُّ الْأَرَضِيْنَ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ.


اللَّهُمَّ سُقْيَا رَحْمَةٍ لَا سُقْيَا عَذَابٍ وَلَا مَحْقٍ وَلَا بَلَاءٍ وَلَا هَدْمٍ وَلَا غَرَقٍ، اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ وَبُطُوْنِ الْأَوْدِيَةِ، اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا هَنِيْئًا مَرِيْئًا مَرِيْعًا غَدَقًا سَحًّا عَامًّا طَبَقًا مُجَلِّلًا دَائِمًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ.


اللَّهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلَادِ وَالْخَلْقِ مِنَ اللَّأْوَاءِ وَالْجَهْدِ وَالضَّنْكِ مَا لَا نَشْكُوْ إِلَّا إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ وَاسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ، اللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الْجَهْدَ وَالْجُوْعَ وَالْعُرْيَ وَاكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ مَا لَا يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا، فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا.


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.


Khutbah Kedua

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِيْ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ

(Dibaca tujuh kali)

الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.


أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ:


إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا


اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.


Kemudian, khatib disunnahkan menghadap kiblat lalu membalik posisi selendang atau sorbannya dari pundak kanan ke pundak kiri dengan posisi terbalik, yakni bagian bawah diletakkan di atas dan bagian dalam diletakkan di luar. Setelah itu, khatib mengulangi doa yang telah dibaca pada akhir khutbah pertama:


اللَّهُمَّ سُقْيَا رَحْمَةٍ لَا سُقْيَا عَذَابٍ وَلَا مَحْقٍ وَلَا بَلَاءٍ وَلَا هَدْمٍ وَلَا غَرَقٍ، اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ وَبُطُوْنِ الْأَوْدِيَةِ، اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا هَنِيْئًا مَرِيْئًا مَرِيْعًا غَدَقًا سَحًّا عَامًّا طَبَقًا مُجَلِّلًا دَائِمًا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ.


اللَّهُمَّ إِنَّ بِالْعِبَادِ وَالْبِلَادِ وَالْخَلْقِ مِنَ اللَّأْوَاءِ وَالْجَهْدِ وَالضَّنْكِ مَا لَا نَشْكُوْ إِلَّا إِلَيْكَ، اللَّهُمَّ أَنْبِتْ لَنَا الزَّرْعَ وَأَدِرَّ لَنَا الضَّرْعَ وَاسْقِنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ وَأَنْبِتْ لَنَا مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ، اللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الْجَهْدَ وَالْجُوْعَ وَالْعُرْيَ وَاكْشِفْ عَنَّا مِنَ الْبَلَاءِ مَا لَا يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًا، فَأَرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْنَا مِدْرَارًا.


عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.


Ustadz Nur Rohmad, Pengasuh Majelis 'Ubab ('Umar bin Khatthab), anggota Tim Ahli Bidang Akidah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur dan Ketua Komisi Dakwah MUI Kabupaten Mojokerto.

Baca Artikel Selengkapnya