Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan ketahanan rupiah didukung oleh posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia bulan September 2026 yang hanya turun tipis.
“Ketahanan rupiah juga didukung oleh posisi cadangan devisa Indonesia yang hanya turun tipis sebesar 0,2 miliar dolar AS menjadi 146,3 miliar dolar AS pada September 2026, meskipun terjadi net outflow di pasar portofolio,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Kamis, bergerak menguat 16 poin atau 0,09 persen menjadi Rp17.871 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.887 per dolar AS.
Posisi cadev September 2026 itu, lanjut Josua, dipengaruhi terutama oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah Bank Indonesia (BI) sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global yang tinggi.
Lebih lanjut, posisi cadev pada akhir September 2026 setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Rupiah bergerak sideways pada Rabu (7/10) dan mencatatkan kinerja yang lebih baik dibandingkan mayoritas mata uang Asia. Sebagian besar mata uang regional melemah seiring meningkatnya tensi di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak,” kata Josua.
The Fed juga merilis notulen Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026, yang menunjukkan bahwa seluruh 19 anggota voting mendukung kenaikan policy rate.
“Mayoritas anggota juga mendukung kenaikan suku bunga kembali sebelum akhir tahun, terutama karena tekanan inflasi yang persisten dan masih sticky,” ujar dia.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.850–Rp17.950 per dolar AS.
Baca juga: Banggar DPR: Setiap rupiah APBN 2027 harus makin bermakna bagi rakyat
Baca juga: Jaga rupiah, BI-Pemerintah koordinasi perbaiki transaksi berjalan
Baca juga: Ekonom: Inflasi 2026 bisa 3,13 persen meski harga energi subsidi tetap
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







English (US) ·
Indonesian (ID) ·