Jakarta, CNN Indonesia --
Kampanye China untuk memperluas pengaruhnya di kawasan Pasifik kini menyasar target baru: sebuah gugusan pulau kecil di Filipina yang memegang posisi sangat krusial bagi pertahanan asal Amerika Serikat atas Taiwan.
Kepulauan Batanes terletak tepat di sebelah selatan Taiwan, menghadap langsung ke jalur perairan yang kemungkinan besar harus dikendalikan oleh China apabila mereka melancarkan invasi militer terhadap Taiwan yang berpemerintahan mandiri tersebut.
Kepulauan ini telah menjadi bagian sah dari wilayah Filipina sejak era kolonial. Namun, sekelompok akademisi China yang memiliki keterkaitan dengan negara melontarkan gagasan kontroversial bahwa Batanes sebenarnya adalah bagian dari wilayah kedaulatan Beijing-klaim yang kemudian digaungkan secara luas oleh media pemerintah China.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Filipina, reaksi yang muncul berlangsung cepat dan tegas. Menteri Pertahanan Filipina menyebut klaim tersebut sebagai gagasan yang tidak masuk akal, sementara Komisi Sejarah Nasional Filipina menerbitkan sanggahan resmi yang sangat rinci.
Meski demikian, kedaulatan Batanes mendadak menjadi subjek sengketa. Hal ini dinilai sebagai sebuah bentuk manuver terbaru dalam kampanye "zona abu-abu" (gray zone) yang dilancarkan Beijing untuk memproyeksikan kekuasaan di Pasifik dan sekitarnya.
"Ini adalah pola yang pernah digunakan sebelumnya," ujar Direktur Program Asia Tenggara Lowy Institute Hunter Marston, seperti dikutip dari The Wall Street Journal (WSJ).
Ia mencatat bahwa para akademisi China kini semakin sering menyuarakan pandangan yang sejalan dengan garis kebijakan pemerintah. "Gagasan bahwa ini hanyalah pemikiran independen beberapa akademisi... faktanya bukan seperti itu," sebut Marston.
Argumen akademis dan kepentingan strategis
Dalam sebuah seminar pada Juni lalu di kota Guangzhou, China selatan, para akademisi di sana menyimpulkan bahwa Batanes merupakan perpanjangan geografis dari Taiwan, sehingga menjadikan kepulauan tersebut bagian dari China, menurut pernyataan yang diterbitkan oleh sebuah lembaga di Universitas Jinan.
Para akademisi itu juga berargumen bahwa perjanjian yang menyerahkan kendali Filipina kepada Amerika Serikat setelah Perang Spanyol-Amerika tidak mencakup wilayah Batanes, seraya menyoroti kedekatan ikatan budaya antara masyarakat lokal Batanes dan populasi adat Tao di Pulau Orchid, Taiwan.
Bagi China, wilayah Batanes memiliki nilai strategis tak terbantahkan. Terletak hanya 100 mil di sebelah tenggara Taiwan, pulau-pulau ini menghadap langsung ke Bashi Channel-sebuah selat yang wajib dikuasai China jika mereka ingin mengepung Taiwan dalam skenario konflik atau blokade.
Amerika Serikat sendiri telah memimpin serangkaian latihan militer di sekitar kepulauan ini untuk mengantisipasi konflik, termasuk penempatan sistem misil bergerak yang mampu menjangkau kapal-kapal Tiongkok di selat tersebut.
Lanjut ke sebelah...

1 jam yang lalu
2






English (US) ·
Indonesian (ID) ·