Jakarta, CNN Indonesia --
Malaysia akan membawa masalah kabut asap lintas batas (transboundary haze) imbas kebakaran hutan dan lahan ke pertemuan menteri luar negeri ASEAN di Filipina pada November mendatang.
Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan mengatakan masalah ini perlu perhatian khusus karena tidak tercakup dalam mekanisme ASEAN yang sudah ada untuk bencana alam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita sudah memiliki mekanisme ASEAN untuk bencana alam, tetapi kabut asap tidak termasuk atau diklasifikasikan di dalamnya," ucap Mohamad pada Senin (12/10), seperti dikutip Bernama.
Mohamad menambahkan ia sudah bicara dengan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Arrmanatha Nasir mengenai masalah ini, dan Arrmanatha memberitahunya bahwa jarak pandang yang amat buruk di daerah terdampak telah menghambat operasi pemadaman dari udara.
"Indonesia memiliki antara tiga hingga empat pesawat terbang dan 34 helikopter, tetapi mereka tidak bisa lepas landas karena jarak pandang sangat buruk sehingga tidak aman untuk penerbangan apa pun di daerah terdampak," katanya.
"Namun, mereka telah mengerahkan 60 ribu orang untuk bekerja di lapangan," lanjut Mohamad.
Mohamad juga mencermati bahwa Indonesia menghadapi tantangan untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) karena peristiwa itu terjadi jauh di pedalaman, di tengah kondisi pasokan air terbatas dan api membakar lahan gambut.
Pada saat yang sama, operasi penyemaian awan (cloud-seeding) tidak bisa dilakukan karena awan kumulonimbus yang sesuai tidak ada saat ini.
Mohamad mengakui pemerintah Indonesia telah melakukan yang terbaik untuk memadamkan karhutla dan bersimpati dengan situasi yang dihadapi RI.
Namun, ia tetap berharap Indonesia dapat mengambil langkah-langkah yang lebih efektif karena situasi ini berdampak buruk terhadap masyarakat, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara Asia Tenggara terutama Malaysia.
(blq/rds)

1 jam yang lalu
3






English (US) ·
Indonesian (ID) ·