Istri Eks PM Mahathir Wafat, Ini Peninggalannya untuk Malaysia

48 menit yang lalu 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Istri mantan Perdana Menteri Malaysia Tun Dr Mahathir Mohamad, Tun Dr Hasmah Mohamad Ali, meninggal dunia pada Senin pagi (28/9) dalam usia 100 tahun.

Ia dikenal dengan sebutan Dr. Siti Hasmah. Hasmah merupakan dokter perempuan Melayu pelopor yang mengabdikan puluhan tahun hidupnya untuk pelayanan kesehatan dan kegiatan sosial di Malaysia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasmah mengembuskan napas terakhir pada pukul 09.20 waktu setempat. Ia meninggalkan suaminya, Dr. Mahathir, yang kini berusia 101 tahun, serta tujuh anak.

Hasmah dan Mahathir menikah pada 5 Agustus 1956. Bulan lalu, pasangan tersebut secara resmi diakui ASEAN Records dan Asia Records sebagai pasangan mantan kepala pemerintahan tertua yang masih hidup di kawasan Asia Tenggara.

Pengakuan itu menjadi catatan khusus karena keduanya telah mencapai usia 100 tahun.

Hasmah lahir di Klang, Selangor, pada 12 Juli 1926. Ia merupakan anak keenam dari 10 bersaudara dalam keluarga terpandang.

Sejumlah anggota keluarganya juga memiliki peran penting di Malaysia. Saudara laki-lakinya antara lain mantan Gubernur Bank Negara Malaysia Tun Ismail Mohamed Ali, mantan Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Tun Mohamed Hashim Mohd Ali, dan mantan Menteri Besar Selangor Datuk Ahmad Razali Mohd Ali.

Kakak perempuannya, Tan Sri Dr Saleha Mohd Ali, juga merupakan praktisi medis.

Pelopor dokter perempuan Melayu

Hasmah mencatat sejarah sebagai salah satu perempuan Melayu pertama yang masuk King Edward VII College of Medicine di Singapura. Di kampus tersebut, ia pertama kali bertemu Mahathir pada 1947.

Hasmah kemudian lulus pada 1955 dan bergabung dengan layanan medis pemerintah Malaysia.

Pada awal kariernya, Hasmah ditempatkan di wilayah pedesaan Kedah. Di sana, Hasmah terlibat dalam berbagai program kesehatan, termasuk kesehatan ibu, kebersihan dasar, imunisasi, dan pendidikan kesehatan masyarakat.

Kariernya terus berkembang. Pada 1965, ia menjadi perempuan pertama yang ditunjuk sebagai petugas medis di Departemen Kesehatan Ibu dan Anak.

Pada 1974, Hasmah menjadi perempuan pertama di Kedah yang menjabat sebagai Pejabat Kesehatan Ibu dan Anak Negara Bagian.

Ia juga meraih diploma kesehatan masyarakat dari University of Michigan pada 1966. Setelah itu, Hasmah menjadi dosen di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Malaya.

Salah satu warisan pentingnya berada di bidang kesehatan ibu dan anak di pedesaan Kedah. Program yang dipeloporinya disebut membantu menekan angka kematian bayi dari 75 kematian per 1.000 kelahiran hidup menjadi enam kematian per 1.000 kelahiran hidup.

Puluhan tahun mendampingi Mahathir

Mahathir menjadi wakil perdana menteri pada 1976, kemudian diangkat menjadi perdana menteri. Melalui hal tersebut, Hasmah mulai dikenal luas sebagai pendamping pemimpin Malaysia.

Mahathir menjabat sebagai perdana menteri dari 1981-2003. Peran tersebut kembali dijalankan untuk kedua kalinya pada 2018-2020.

Masyarakat Malaysia kemudian mengenal Hasmah sebagai "Ibu Negara". Ia menggunakan posisinya untuk memperjuangkan berbagai isu, termasuk kesehatan ibu, keluarga berencana, pencegahan penyalahgunaan narkoba, serta pendidikan dan literasi bagi masyarakat pedesaan.

Pada 1995, Hasmah memimpin delegasi Malaysia dalam Konferensi Dunia Keempat PBB tentang Perempuan di Beijing, China. Ia juga memimpin Dialog Ibu Negara dalam KTT Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pada 2003.

Selain itu, Hasmah menjabat sebagai rektor pertama Universitas Multimedia sejak 1997 hingga 2012.

Pengabdiannya juga mencakup sejumlah organisasi masyarakat. Ia pernah memegang posisi kepemimpinan di Asosiasi Pramuka Putri Malaysia dan Yayasan Asosiasi Medis Malaysia, serta menjadi pelindung Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia.

Misi kemanusiaan ke Irak

Hasmah juga pernah memimpin misi kemanusiaan ke Irak pada Maret 2000.

Dalam misi lima hari tersebut, ia menilai dampak sanksi internasional terhadap perempuan dan anak-anak Irak. Hasmah juga secara pribadi membawa perlengkapan medis ke rumah sakit anak dan panti asuhan.

Dalam kunjungan tersebut, Hasmah bertemu secara pribadi dengan Presiden Irak saat itu, Saddam Hussein.

Pertemuan tersebut bahkan dirahasiakan hingga berlangsung. Mahathir disebut tidak mengetahui rencana pertemuan itu sebelumnya.

[Gambas:Video CNN]

Tetap aktif di usia lanjut

Di usia lanjut, Hasmah tetap aktif dalam berbagai kegiatan. Ia dikenal sebagai ikon budaya dengan caranya sendiri.

Ia kembali memainkan biola setelah berhenti selama sekitar 70 tahun. Instrumen tersebut kemudian pernah dilelang untuk menggalang dana kegiatan amal.

Hasmah juga mempelajari bahasa Prancis percakapan ketika berusia 70-an. Saat berusia 80-an, ia mulai mempelajari erhu, alat musik tradisional China.

Pada 2016, Hasmah menerbitkan autobiografi berjudul "My Name is Hasmah". Dalam buku tersebut, ia menggambarkan Mahathir sebagai "pahlawannya".

Pada 2024, Hasmah secara terbuka meminta masyarakat berhenti memanggilnya "Siti". Nama tersebut, menurutnya, merupakan awalan yang secara sosial ditambahkan pada namanya sejak 1970-an. Ia memilih dikenal dengan nama lahirnya, Hasmah.

Hasmah juga pernah berbicara terbuka mengenai pengobatan kanker payudara yang dijalaninya pada 2019. Ia mendorong perempuan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dan deteksi dini.

Malaymail melaporkan kepergian Hasmah memicu ucapan belasungkawa dari berbagai kalangan politik dan kerajaan Malaysia. Raja Malaysia, Sultan Ibrahim, dan Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, termasuk di antara tokoh yang menyampaikan pesan duka atas wafatnya Hasmah.

(mge/dna)

Baca Artikel Selengkapnya