Iran Tegaskan tak akan Turuti Tuntutan AS Setop Pengayaan Uranium

56 menit yang lalu 2

Pembangkit pengayaan nuklir Natanz di Iran.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN — Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammed Eslami, mengatakan, negaranya tidak akan menghentikan proyek pengayaan uranium, apalagi menyerahkan uraniumnya. Hal itu disampaikan setelah Amerika Serikat (AS) menyerukan Iran agar mengurangi kapasitas pengayaan uranium mereka.

“Pengayaan adalah bagian integral dari proses nuklir, dan kami tidak akan meninggalkannya dengan cara apa pun. Bagaimana Anda bisa mengeklaim memiliki industri nuklir jika Anda tidak memiliki titik awal dari prosesnya? Industri nuklir adalah kekuatan pendorong ilmu pengetahuan dan teknologi,” ucap Eslami, Kamis (8/10/2026), dikutip laman Al Arabiya.

AS, termasuk Israel dan sejumlah negara Barat, telah lama menuding Iran berusaha mengembangkan senjata nuklir. Hal itu termasuk menunjukkan langkahnya memperkaya uranium hingga 60 persen, jauh lebih tinggi dari yang dibutuhkan untuk penggunaan sipil serta mendekati 90 persen, sebuah level yang diperlukan bagi sebuah senjata nuklir. 

Namun Iran telah berulang kali pula membantah bahwa mereka berusaha mengembangkan dan memiliki senjata nuklir. Iran mulai melakukan pengayaan uranium hingga mencapai 60 persen sejak menangguhkan keterlibatannya dalam kesepakatan nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).

Pada 2018, Presiden AS Donald Trump memutuskan menarik negaranya dari JCPOA. Trump menilai JCPOA cacat karena tak turut mengatur tentang program rudal balistik dan pengaruh Iran di kawasan. Setelah menarik AS dari kesepakatan itu, Trump memberlakukan kembali sanksi ekonomi terhadap Teheran.  

Pada momen itu, Iran memutuskan turut menangguhkan keterlibatannya dalam JCPOA dan mulai melakukan pengayaan uranium hingga melampaui 3,67 persen. Sebelumnya JCPOA mengatur bahwa Iran tak boleh memperkaya uranium hingga melewati ambang batas tersebut.

Uranium yang diperkaya hingga antara tiga dan lima persen dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga nuklir. Jika uranium diperkaya hingga 20 persen, ia bisa digunakan untuk menghasilkan isotop untuk keperluan medis. Misalnya dalam mendiagnosis kanker tertentu. Sementara untuk membuat bom nuklir, uranium harus diperkaya hingga 90 persen. 

Baca Artikel Selengkapnya