Doyan Perang, PM Israel Netanyahu Berasal dari Kelompok Yahudi Apa?

1 jam yang lalu 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akan mencalonkan diri lagi dalam pemilu Israel Oktober ini.

Jika terpilih dia akan menjadi PM terlama yang paling suka perang dalam sejarah negara tersebut. Dia jadi jadi PM termuda pada 1996 lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia juga menjadi PM Israel pertama yang lahir di sana. Sebab, para perdana menteri sebelumnya rata-rata lahir di Eropa, seperti kakek dan ayah Netanyahu yang juga lahir di Eropa.

Kakeknya dari pihak ayah, yaitu Nathan Mileikowsky lahir di Kreva (sekarang wilayah Belarus, yang saat itu merupakan bagian dari Kekaisaran Rusia) pada tanggal 15 Agustus 1879.

Sementara ayahnya, Benzion Netanyahu, lahir di Warsawa, Polandia (yang saat itu merupakan bagian dari Kekaisaran Rusia) pada 25 Maret 1910 dengan nama lahir Benzion Mileikowsky.

Dari garis keturunan tersebut, Netanyahu masuk ke dalam golongan Yahudi Ashkenazi, kelompok Yahudi yang tersebar di Eropa dan berpengaruh dalam komunitas Yahudi global.

[Gambas:Video CNN]

Pada tahun-tahun awal Israel berdiri 1948, kelompok Yahudi inilah yang dominan termasuk mendirikan Partai Buruh. Mereka membentuk elit yang sebagian besar berhaluan kiri, menganut pandangan sosialis dan memiliki visi tentang negara yang kuat dan inklusif, dikutip dari Britannica.

Mereka mendominasi posisi-posisi puncak di dunia akademis dan sebagian besar aspek kehidupan publik.

Namun ketika jutaan orang Yahudi Sephardi dari Timur Tengah mulai tiba di Israel pada tahun 1950-an, terjadilah benturan budaya yang mengerikan di negara baru tersebut. Yahudi Eropa punya kecenderungan curiga terhadap Yahudi Arab.

Yahudi Sephardi yang berimigrasi ke Israel pada dekade-dekade awal berdirinya negara itu menghadapi tantangan dan diskriminasi dari Yahudi Azkenazi.

Para pemimpin sekuler negara itu bersikap ambivalen terhadap imigrasi Sephardi. Di satu sisi, mereka mengakui perlunya memperkuat populasi Yahudi di negara yang baru berdiri itu.

Di sisi lain, mereka khawatir akan kehilangan pijakan karena kedatangan populasi yang sebagian besar religius ke Israel yang akan menuntut representasi keagamaan dan sepenuhnya melenyapkan aspirasi politik Zionisme sekuler.

Selain itu, kelompok Ashkenazi ini dipenuhi dengan rasa superioritas, baik karena mereka berasal dari wilayah Eropa yang maju secara teknologi dan politik maupun karena mereka memegang kendali. Dalam sistem nilai mereka, orang-orang Yahudi Arab hanya dapat dianggap sebagai warga negara kelas dua.

Puncaknya adalah bentrokan fisik dan kerusuhan besar yang dipicu oleh isu diskriminasi etnis, yang dikenal sebagai Kerusuhan Wadi Salib pada Juli 1959. Hingga saat ini, Yahudi Sephardi tetap mendapatkan perlakuan diskriminasi dari kelompok Yahudi Azkenazi.

(imf/bac)

Baca Artikel Selengkapnya