India Diteror Pemerkosaan di Taman, 3 Pelaku Pura-pura Jadi Polisi

45 menit yang lalu 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Kota Delhi, India, membatasi akses masuk ke sejumlah taman setelah matahari terbenam. Kebijakan itu diberlakukan beberapa hari setelah seorang remaja 17 tahun diduga diperkosa di sebuah taman umum di ibu kota India.

Kasus tersebut terjadi pada Senin (21/9) malam di Taman Astha Kunj, Delhi tenggara. Taman itu dikelola Delhi Development Authority (DDA), badan perencanaan dan pengembangan perkotaan yang dibentuk berdasarkan undang-undang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat kejadian, korban yang berusia 17 tahun berada di taman bersama seorang teman laki-lakinya. Mereka kemudian didatangi tiga pria yang mengaku sebagai petugas polisi.

Menurut pejabat senior Kepolisian Delhi Vijay Kumar, ketiga tersangka menggunakan istilah-istilah hukum untuk mengintimidasi korban dan temannya. Mereka disebut mengatakan bahwa keduanya telah melakukan kesalahan dan dapat menghadapi tuntutan hukum.

"Istilah hukum untuk mengintimidasi kedua orang tersebut dengan mengatakan bahwa mereka ... telah melakukan kesalahan dan dapat menghadapi tuntutan hukum," kata Kumar, seperti dilaporkan The Independent.

"Ketiga orang itu kemudian memisahkan gadis itu dengan membawanya ke tempat terpencil sambil menahan anak laki-laki tersebut dan melakukan pelecehan seksual terhadap gadis itu," lanjut Kumar.

Polisi kemudian mengajukan berkas dakwaan pendahuluan berdasarkan sejumlah pasal hukum India yang berkaitan dengan tindak pidana terhadap anak di bawah umur.

Tiga tersangka yang ditangkap masing-masing bernama Asif, 31 tahun, Hemant, 31 tahun, dan saudara laki-lakinya, Mukesh, 24 tahun.

Asif ditangkap setelah polisi menembaknya di bagian kaki di dekat Lady Shri Ram College for Women, sebuah perguruan tinggi perempuan terkemuka di Delhi.

Menurut ayah mereka, pengacara JR Dhankar, Hemant bekerja sebagai pengacara, sedangkan Mukesh merupakan mahasiswa S1 jurusan Sains.

"Polisi menjemput mereka dari rumah mereka di Sriniwaspuri pagi-pagi sekali tanpa memberitahu kami. Pernyataan mereka diambil secara paksa... Mereka berada di rumah sepanjang hari dan tidak berada di luar saat kejadian itu terjadi," ujar Dhankar, seperti dilaporkan Times of India.

Sementara itu, Asif diketahui bekerja di pusat perdagangan grosir sayuran di Delhi.

Kasus tersebut memicu aksi protes mahasiswa. Mereka menyoroti persoalan keselamatan perempuan sekaligus mempertanyakan pembatasan akses terhadap ruang publik setelah insiden tersebut.

Lady Shri Ram College untuk sementara memindahkan kegiatan perkuliahan ke sistem daring. Pihak kampus juga berkomunikasi dengan Kepolisian Delhi dan meminta langkah aktif untuk memperkuat keamanan di dalam serta sekitar kampus.

Mahasiswa Lady Shri Ram College bersama mahasiswa Gargi College dan Miranda House kemudian menggelar pawai solidaritas di gerbang belakang Lady Shri Ram College, lokasi bentrokan sebelumnya terjadi.

Seorang mahasiswa tahun pertama, Anusha, mengatakan mahasiswa dan orang tua mereka masih khawatir terhadap keamanan di lingkungan kampus.

"Banyak dari kami masih sangat khawatir tentang keselamatan kami di kampus, begitu pula orang tua kami," kata Anusha kepada Hindustan Times.

"Tindakan cepat untuk memindahkan kelas ke daring demi keselamatan kami memberi kami sedikit ketenangan. Tetapi insiden seperti ini memang menyoroti perlunya meningkatkan perhatian terhadap masalah keselamatan perempuan di kampus," lanjut Anusha.

Namun, seorang mahasiswa lain yang meminta identitasnya dirahasiakan menilai penghentian kegiatan pendidikan bukan solusi jangka panjang.

"Kita tidak bisa terus-menerus menghentikan pendidikan kita setiap kali kejahatan mengerikan terjadi di sekitar kita," katanya.

Menurut mahasiswa tersebut, keamanan di lingkungan kampus selama ini terlalu sering ditangani setelah sebuah insiden terjadi.

"Jujur saja, kami lelah dengan keamanan yang diperlakukan sebagai tindakan reaktif. Kami membutuhkan perubahan struktural permanen seperti audit keamanan rutin di titik-titik rawan dan patroli aktif, bukan hanya penguncian sementara yang mengalihkan beban kembali kepada siswa," ujarnya.

Presiden serikat mahasiswa Lady Shri Ram College, Anusha Garg, juga meminta pemerintah dan aparat tidak hanya mengandalkan imbauan agar perempuan lebih berhati-hati.

"Keselamatan perempuan tidak dapat diatasi hanya melalui imbauan yang meminta perempuan untuk lebih berhati-hati. Fokusnya harus pada ruang publik yang lebih aman, transportasi jarak pendek yang andal, kehadiran polisi yang terlihat, mekanisme pelaporan yang mudah diakses, dan akuntabilitas tepat waktu," kata Garg.

Di tengah protes dan tuntutan tersebut, Wakil Ketua DDA mengeluarkan sejumlah arahan untuk meningkatkan keamanan di taman-taman Delhi.

Langkah itu mencakup pemasangan lebih banyak kamera CCTV dan lampu penerangan serta peningkatan patroli pada malam hari.

Taman yang memiliki banyak pintu masuk juga akan menerapkan pengendalian akses pada jam-jam larut malam. Akses melalui sejumlah gerbang akan dibatasi setelah matahari terbenam hingga sebelum waktu penutupan taman.

(rds/rds)

Baca Artikel Selengkapnya