Program War Journalism Training resmi ditutup pada Jumat (25/9/2026) setelah 12 hari masa pelatihan. Peserta memperlihatkan sertifikat kelulusan pelatihan.
REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Program War Journalism Training resmi ditutup pada Jumat (25/9/2026) setelah 12 hari masa pelatihan.
Sebanyak 25 jurnalis telah menyelesaikan pelatihan Pewarta Perang ke-30—yang diselenggarakan bersama oleh Anadolu Agency, Akademi Kepolisian Turki, dan Badan Kerja Sama dan Koordinasi Turki (TIKA).
Dalam penutupan ini, peserta dipanggil satu per satu ke panggung untuk mendapatkan sertifikat pelatihan, termasuk jurnalis Republika yang menjadi satu-satunya wakil Indonesia ikut dalam kegiatan tersebut.
Dalam acara penyerahan sertifikat, pejabat akademi kepolisan Turki menekankan pentingnya membekali jurnalis agar siap menghadapi risiko yang mungkin mereka temui saat meliput dari zona konflik.
"Tidak ada berita berita yang lebih penting daripada nyawa seorang jurnalis," demikian pernyataan dari seorang pejabat di Anadolu Agency.
Program selama dua minggu ini mempertemukan sembilan jurnalis Anadolu dan 16 jurnalis dari Laos, Malaysia, Vietnam, Kamboja, Filipina, Indonesia, serta Papua Nugini.
Pelatihan mempersiapkan para peserta untuk bekerja di zona konflik, wilayah bencana, dan situasi darurat lainnya.

1 jam yang lalu
2






English (US) ·
Indonesian (ID) ·