Ilmuwan China Temukan 'Cerobong' Energi, Kunci Baru Bongkar Persembunyian Kapal Selam Siluman?

1 jam yang lalu 2

JAKARTA — Ilmuwan China mengungkap mekanisme pergerakan energi di kedalaman Samudra Pasifik yang berpotensi membantu pengembangan teknologi deteksi kapal selam. Fenomena yang dikenal sebagai cerobong inersia tersebut memungkinkan energi gelombang internal dari lapisan atas menjangkau kedalaman ribuan meter.

Cerobong tersebut bukan struktur fisik di dasar samudra. Fenomena ini merupakan jalur perambatan energi gelombang internal yang dipengaruhi pusaran arus laut. Energi dari angin permukaan dapat bergerak menuju lapisan samudra yang sangat dalam.

Temuan terbaru memperjelas bagaimana pusaran laut dan perbedaan kepadatan air mengatur perpindahan energi. Pengetahuan tersebut berpotensi memperbaiki pemodelan kondisi akustik bawah laut. Teknologi sonar dan komunikasi bawah air membutuhkan informasi lingkungan semacam itu.

Dilansir South China Morning Post (SCMP), Senin (2/11/2026), penelitian dilakukan ilmuwan Institute of Oceanology, Chinese Academy of Sciences (CAS). Para peneliti menganalisis data pengamatan laut menggunakan jaringan 46 stasiun pemantauan.

Jaringan tersebut mencakup wilayah sekitar 600 kilometer kali 600 kilometer. Lokasinya berada di kawasan Kuroshio Extension, Samudra Pasifik Utara, sebelah timur Jepang. Luas tersebut merupakan cakupan pengamatan, bukan ukuran satu cerobong.

Penelitian dipublikasikan secara daring pada 7 Oktober 2026. Hasilnya tercatat dalam jurnal Deep Sea Research Part I: Oceanographic Research Papers, volume 232, edisi Desember 2026.

Mu Yurong menjadi penulis pertama penelitian tersebut. Sementara Xu Yongsheng bertindak sebagai penulis korespondensi. Keduanya meneliti faktor pengendali energi gelombang internal dekat dasar samudra.

Namun, penelitian tersebut belum menghasilkan perangkat sonar militer baru. Potensi penerapannya untuk mendeteksi kapal selam masih memerlukan pengembangan dan pengujian lanjutan.

Cerobong Energi Terbentuk Akibat Pusaran Laut

Fenomena cerobong inersia berkaitan dengan gelombang internal samudra. Gelombang tersebut bergerak melalui lapisan air berkepadatan berbeda. Pergerakannya dipengaruhi angin dan rotasi bumi.

Ketika angin bertiup di permukaan, sebagian energinya memasuki laut. Rotasi bumi memengaruhi pola pergerakan massa air. Proses tersebut dapat menghasilkan gelombang internal dekat inersia.

Gelombang ini dikenal sebagai near-inertial internal waves. Energinya dapat merambat menuju lapisan laut lebih dalam. Namun, tidak seluruh energi mampu mencapai dasar samudra.

Peneliti China menemukan peran penting pusaran antisiklon. Pada belahan bumi utara, pusaran tersebut bergerak searah jarum jam. Pergerakannya dapat mengubah kondisi rambatan gelombang internal.

Pusaran antisiklon membantu memusatkan energi gelombang menuju bagian dalam pusaran. Kondisi tertentu memungkinkan energi bergerak lebih cepat menuju kedalaman. Mekanisme tersebut dikenal sebagai inertial chimney effect.

Sebaliknya, pusaran siklon dapat memberikan pengaruh berbeda. Pusaran yang berputar berlawanan arah jarum jam cenderung menghambat perambatan energi ke bawah.

Perbedaan kepadatan antarlapisan air juga berperan penting. Stratifikasi yang kuat dapat memperlambat pergerakan gelombang. Sebagian energi mengalami pelemahan sebelum menjangkau dasar laut.

Menurut CAS, kombinasi pusaran dan stratifikasi menentukan efisiensi perpindahan energi. Kedua faktor tersebut memengaruhi hubungan antara permukaan dan dasar samudra.

Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan atmosfer dapat memengaruhi laut dalam. Energi dari angin permukaan dapat menjangkau lapisan ribuan meter di bawahnya. Dampaknya bergantung pada kondisi fisik perairan.

Penelitian Gunakan 46 Sensor di Laut Dalam

Penelitian China menggunakan data Kuroshio Extension System Study (KESS). Program tersebut merupakan proyek oseanografi yang didukung Amerika Serikat. Pendanaannya berasal dari National Science Foundation (NSF).

Jaringan pengamatan KESS melibatkan 46 lokasi pemantauan. Instrumen ditempatkan pada dasar samudra di kawasan Pasifik Utara. Pengumpulan data berlangsung antara April 2004 dan Juni 2006.

Baca Artikel Selengkapnya