Gus Kikin Sebut Jaringan Keilmuan Tembus Sekat Geografis

1 jam yang lalu 1

Jombang, NU Online

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) menegaskan bahwa ilmu memiliki kapasitas universal untuk meruntuhkan berbagai pembatas sosial, ras, golongan, hingga batas-batas antarnegara. 

Hal tersebut disampaikan Gus Kikin dalam Muktamar Dawli li al-Turats al-Nabawi (MUTUN) yang kedua, yang diinisiasi oleh Ma’had Aly Hasyim Asy’ari bekerja sama dengan Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA) di Tebuireng, Jombang, Senin (5/10/2026).

Menurut Gus Kikin, NU memikul beban tanggung jawab historis dan moral untuk menyatukan pemikiran-pemikiran secara nasional maupun global. Keilmuan, kata dia, tidak mengenal sekat-sekat geografis maupun demografis.

Ia lantas mengenang jejak langkah sang kakek, Hadratussyekh Hasyim Asy'ari, yang sejak menuntut ilmu di Makkah telah membangun jejaring persahabatan lintas negara dengan ulama-ulama dari berbagai belahan dunia Islam, dan relasi tersebut terus tersambung hingga beliau memimpin Pesantren Tebuireng.

“Dulu Hadratussyekh, sejak awal, sejak di Makkah bersahabat dengan enam sahabatnya dari negara-negara Islam yang kemudian pada saat beliau di Tebuireng ini komunikasi itu tetap tersambung,” ungkapnya.

Gus Kikin juga membagikan pengalamannya baru-baru ini saat diundang oleh Menteri Wakaf Mesir. Dalam kunjungan tersebut, pihak Mesir menyampaikan bahwa arsip surat-surat penting milik Hadratussyekh Hasyim Asy'ari tersimpan di sana dan terbuka untuk diambil kembali ke Indonesia.

Selain itu, ia juga menyinggung dokumen pidato Hadratussyekh yang pernah diserahkannya kepada pihak pemerintah Jepang. Dokumen tersebut sempat membuat pemerintah Jepang terkejut lantaran merekam rekam jejak hubungan antara Nahdlatul Ulama dan pemerintah Jepang yang telah terjalin sejak tahun 1930—sebuah babak sejarah yang selama ini jarang terekspos dalam literatur resmi.

"Jadi, keilmuan itulah yang menembus semua sekat. Keilmuan itulah yang sekarang akan kita bahas dalam Mu'tamar Turats Nabawi, terutama karena turats nabawi inilah yang terbaik untuk digunakan bermasyarakat," ujar Gus Kikin.

Ia menambahkan, meski Hadratussyekh memiliki penguasaan mendalam terhadap Al-Qur'an, tafsir, dan fikih, kekhasan yang ditonjolkan di Tebuireng adalah pendalaman terhadap ilmu hadits (hadits wa 'ulumihi). 

“Saya melihat Hadratussyekh penguasaan terhadap Qur'annya, tafsirnya, penguasaan terhadap fiqihnya. Namun yang ditonjolkan di Tebuireng ini adalah hadits wa 'ulumihi,” ungkap Gus Kikin.

Disiplin ilmu tersebut dinilai sangat relevan dan menjadi kebutuhan nyata bagi santri dan kader NU saat terjun langsung ke tengah masyarakat.

Melalui momentum ini, PBNU sangat mengharapkan agar warisan keilmuan tersebut dapat diimplementasikan secara nyata guna merawat kebersamaan dan memperkuat ukhuwah di tengah dinamika zaman.

Baca Artikel Selengkapnya