Depok, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, KH Abdurrahman al-Kautsar (Gus Kautsar), mengajak para santri melawan penyebaran berita bohong atau hoaks. Upaya tersebut dapat dimulai dari hal-hal terdekat, seperti introspeksi diri, meningkatkan kompetensi, hingga mempertajam hati nurani.
"Jika tidak bisa jadi santri yang baik, yang sadar akan kesalahan dan kebodohannya, jangan sampai jadi hamaj. Ini yang paling berbahaya," kata Gus Kautsar dalam acara Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Depok Open Space, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (5/11/2026) malam.
Gus Kautsar menjelaskan, hamaj merupakan segerombolan orang yang tidak memiliki pengetahuan dan kepekaan perasaan. Mereka tidak bertindak berdasarkan keteguhan prinsip, melainkan sekadar mengikuti naluri kelompok dalam menjalani kehidupan.
"Dia hanya ikut ke mana angin berembus. Ini bahaya sekali, apalagi di zaman media yang supercepat, fitnah dan kebohongan ada di mana-mana," ujarnya.
Ia mengingatkan masyarakat agar mewaspadai dua jenis pencuri. Selain pencuri harta benda, terdapat pencuri lain yang dampaknya jauh lebih berbahaya karena merampas kemampuan seseorang untuk berpikir jernih, menggunakan nurani, hingga mempertahankan keyakinannya.
"Tapi ada satu lagi pencuri yang paling ngeri namanya kadzab, adalah orang yang suka menyebarkan berita-berita bohong karena yang ia ambil adalah akalmu, nuranimu, sampai keyakinanmu," ungkapnya.
Menurutnya, kebohongan menjadi sumber berbagai kerusakan dalam kehidupan bermasyarakat. Informasi palsu dapat memicu adu domba, menumbuhkan kebencian, hingga berujung pada permusuhan antarsesama.
"Kebohongan itu adalah sumber utama semua kehancuran," tegasnya.
Ia menambahkan, dampak kebohongan tidak berhenti pada kesalahan dalam memahami informasi. Penyebaran berita bohong juga dapat merusak hubungan sosial dan menghilangkan rasa aman di tengah masyarakat.
"Padahal datangnya Islam ini, yang menjadi kampanye utama kesantrian, adalah memastikan semua orang bisa hidup dalam kondisi aman, nyaman, tenang dan damai. Itu tugas pokoknya santri," jelasnya.
Karena itu, Rais Syuriyah PBNU bidang Dakwah Digital tersebut mengajak para santri agar lebih cermat dalam menerima dan menyebarkan informasi, terutama yang beredar di media sosial. Derasnya arus informasi saat ini menuntut setiap orang memiliki kemampuan memeriksa kebenaran berita sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Menurutnya, kecepatan penyebaran informasi pada masa kini jauh berbeda dibandingkan ketika dirinya masih kecil. Kondisi tersebut membuat kecermatan dalam membaca dan memahami isi berita menjadi semakin penting.
"Betapa pentingnya kita sebagai seorang santri, sebagai bangsa kita harus berhati-hati betul, bagaimana kita memfilter yang namanya berita," pungkasnya.

1 jam yang lalu
1



English (US) ·
Indonesian (ID) ·