Jakarta, CNN Indonesia --
Seorang peneliti di sebuah institut antiwabah di Irkutsk, Siberia timur, Rusia meninggal dunia usai jatuh sakit hingga membuat ratusan orang yang sempat berkontak juga ikut dikarantina.
Belum banyak detail yang berkembang terkait situasi saat ini. Namun, peneliti tersebut dilaporkan meninggal dunia setelah menderita pneumonia parah imbas terkena wabah Pes atau Plague hingga meninggal pada Jumat pekan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut laporan media setempat, sebanyak 189 orang juga telah ditempatkan di bawah pengawasan medis di Irkutsk karena diduga terpapar wabah penyakit yang sama dan berpotensi mematikan tersebut.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pihaknya sudah mengetahui laporan mengenai kasus ini dan telah menawarkan dukungan kepada Rusia.
Penyebab kematiannya belum dikonfirmasi secara resmi dan pemeriksaan laboratorium diyakini masih berlangsung, kata WHO kepada CNBC Internasional dalam sebuah pernyataan.
"Semua orang yang melakukan kontak dengan pasien tersebut dilaporkan telah diidentifikasi dan sedang dipantau untuk mengetahui kemungkinan munculnya gejala penyakit, dan hingga saat ini tidak ada satu pun yang menunjukkan gejala," kata WHO.
Apa itu wabah Plague atau Pes?
Wabah pes atau plague merupakan infeksi bakteri langka yang berpotensi fatal dan masih endemik di sejumlah wilayah di dunia, termasuk wilayah barat Amerika Serikat.
Namun, penyakit ini dapat diobati dengan antibiotik jika terdeteksi dengan cepat. Penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri zoonotik Yersinia pestis, yang biasanya ditemukan pada mamalia kecil dan kutunya, serta memiliki beberapa bentuk.
Wabah bubonik merupakan bentuk klasik wabah pes yang dikaitkan dengan Black Death pada abad ke-14. Tanpa pengobatan, bakteri tersebut dapat keluar dari sistem limfatik dan masuk ke aliran darah atau paru-paru, sehingga menyebabkan wabah septikemik atau wabah pneumonik, menurut WHO.
Kasus terbaru di Rusia tampaknya merupakan wabah pneumonik, yakni ketika bakteri menginfeksi paru-paru. Kondisi ini dapat berkembang dari bentuk wabah lainnya atau terjadi akibat menghirup partikel yang mengandung bakteri.
Berbeda dengan wabah bubonik, yang menyebabkan pembengkakan dan rasa nyeri pada kelenjar getah bening (bubo) dan umumnya tidak menular dari orang ke orang, wabah pneumonik dapat menjadi perhatian yang lebih besar dari perspektif pengendalian penyakit.
Bakteri Yersinia pestis terdapat secara alami pada reservoir hewan, terutama hewan pengerat, sehingga pemberantasannya sangat sulit.
WHO menyatakan wabah pada hewan ditemukan di setiap benua kecuali Oseania, meskipun hal tersebut tidak berarti kasus pada manusia terjadi di setiap wilayah tempat reservoir tersebut ditemukan.
"Kasus wabah pneumonik yang kemungkinan didapat di laboratorium ini berpotensi menular melalui jalur pernapasan," kata profesor di London School of Hygiene & Tropical Medicine, Brendan Wren, kepada CNBC Internasional.
"Yersinia pestis ... cukup mudah menular, tetapi tidak semudah SARS-CoV-2/COVID-19."
Baca di halaman berikutnya >>>

54 menit yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·