REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengambil salah satu pertaruhan terbesar dalam karier politiknya. Ia mempercepat pemilu nasional menjadi 29 November 2026 ketika partainya tertinggal dalam jajak pendapat dan kubu kanan berpeluang merebut mayoritas parlemen.
Keputusan itu membuka kemungkinan perubahan politik besar di Spanyol. Partido Popular (PP) yang berhaluan kanan-tengah memimpin sejumlah survei, tetapi diperkirakan belum cukup kuat untuk memerintah sendirian sehingga dapat membutuhkan dukungan Vox yang berhaluan kanan jauh.
Jika Vox masuk dalam pemerintahan bersama PP, itu akan menjadi pertama kalinya partai kanan jauh ikut memegang kekuasaan di tingkat nasional sejak Spanyol kembali ke demokrasi setelah meninggalnya Francisco Franco pada 1975. Vox sebelumnya sudah pernah bekerja sama dengan PP dalam pemerintahan sejumlah wilayah, tetapi belum pernah masuk pemerintahan nasional.
Sanchez mengumumkan pemilu dipercepat pada Senin (5/10/2026). Pemungutan suara sebenarnya baru dijadwalkan tahun depan, tetapi kebuntuan di parlemen membuat pemerintah minoritasnya semakin sulit menjalankan agenda.
“Sudah tiba waktunya bagi rakyat Spanyol menentukan masa depan yang mereka inginkan,” kata Sanchez ketika mengumumkan pemilu, sebagaimana diberitakan RTVE.
Perumahan Jadi Pemicu
Pemicu langsung keputusan tersebut adalah kekalahan pemerintah dalam dua rancangan dekret darurat mengenai perumahan. PP, Vox, dan partai separatis Catalonia, Junts, bergabung menolak kedua aturan itu di parlemen pada Jumat.
Pemerintah menyusun kebijakan tersebut di tengah kemarahan publik akibat melonjaknya harga sewa dan sulitnya masyarakat memperoleh tempat tinggal. Salah satu kasus yang menyulut protes adalah pengusiran Maricarmen Abascal, perempuan berusia 87 tahun yang telah tinggal sekitar tujuh dekade di sebuah apartemen di Madrid.
The Guardian melaporkan pemilik baru properti tersebut meminta kenaikan sewa sekitar 230 persen. Pengusiran Abascal kemudian memicu demonstrasi besar di Madrid dan kota-kota lain serta menghidupkan kembali kemarahan terhadap krisis perumahan Spanyol.
Paket pemerintah antara lain mencakup perlindungan terhadap penyewa rentan, pembatasan penggusuran, dan perubahan aturan kontrak sewa. Namun, PP berpendapat persoalan perumahan lebih tepat diselesaikan dengan menambah pasokan rumah daripada memperbesar regulasi pasar sewa.
Junts juga menolak paket tersebut. Keputusan partai Catalonia itu menjadi pukulan besar karena dukungannya sebelumnya sangat penting bagi Sanchez untuk mempertahankan mayoritas parlementer yang rapuh.
PP Memimpin, Vox Terus Naik
Pertaruhan Sanchez semakin besar jika melihat angka jajak pendapat. Survei 40dB untuk El Pais dan Cadena SER yang dilakukan pada 25-28 September menempatkan PP di posisi pertama dengan 31,6 persen dukungan.
Partai Sosialis PSOE yang dipimpin Sanchez berada di posisi kedua dengan 27,4 persen. Yang paling menonjol adalah Vox, yang naik menjadi 18,4 persen, level tertingginya sejak April.
Jika suara PP dan Vox digabungkan, blok kanan memiliki jalan yang lebih terbuka menuju mayoritas dibandingkan kubu kiri. Reuters menyebut koalisi PP-Vox sebagai satu-satunya kombinasi yang dalam proyeksi saat ini dapat memperoleh mayoritas absolut di parlemen beranggotakan 350 kursi.
Namun, survei tersebut dilakukan sebelum parlemen menolak dekret perumahan dan sebelum Sanchez mengumumkan pemilu dini. Artinya, efek penuh protes perumahan dan keputusan pembubaran parlemen belum tercermin dalam angka tersebut.

53 menit yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·