Jakarta (ANTARA) - ASEAN Economist UOB Enrico Tanuwidjaja mengatakan pemerintah perlu memastikan investor yang sudah masuk ke pasar domestik tetap bertahan dan melakukan reinvestasi guna menjaga aliran modal asing dan memperkuat nilai tukar rupiah.
“Jadi semua kebijakan investasi perlu menjaga investasi mereka, supaya neraca primer surplus, seperti policy yang dapat memberikan insentif," kata Enrico dalam pernyataan dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Dalam diskusi bertajuk "Reclaiming Global Trust: Indonesia's Investment Agenda for a Volatile World", dia mengatakan kebijakan investasi perlu diarahkan untuk menahan investor agar kembali menanamkan modalnya di Indonesia. Salah satunya melalui pemberian insentif yang tepat.
Ia memberi gambaran bahwa terdapat sekitar 9 miliar dolar Amerika Serikat (AS) kembali ke negara asal dalam bentuk pembayaran dan dividen, yang merupakan hasil investasi di Indonesia. Jika kebijakan reinvestasi tepat, maka nilai tersebut berpotensi menjadi aliran modal masuk, sehingga akan memperbaiki neraca pendapatan primer Indonesia
Menurutnya, kemampuan menarik investasi kembali dari investor yang telah beroperasi di Indonesia penting untuk menjaga keberlanjutan investasi sekaligus memperkuat perekonomian domestik.
“Jadi itu juga akan memperkuat kepercayaan mengenai investasi di Indonesia. Kita juga bisa memperkuat global trust,” ujar dia.
Di sisi lain, Head of Corporate Banking UOB Indonesia Edwin Kadir menilai stimulus untuk mendorong reinvestasi diperlukan, karena investor juga perlu memiliki keyakinan bahwa bisnis mereka di Indonesia masih memiliki prospek pertumbuhan.
"Perlu adanya stimulus untuk reinvestasi karena sebagai investor mereka mau yakinkan pihak luar bahwa usaha di domestik ini akan tumbuh lagi, akan meyakinkan lagi," ujarnya.
Dengan demikian, kebijakan pemerintah tidak hanya menciptakan daya tarik bagi investor baru, tetapi juga memberikan kepastian dan prospek pertumbuhan bagi investor yang telah menanamkan modalnya di Indonesia.
Saat ini, kata Edwin, potensi investasi di Indonesia begitu besar karena fundamental ekonomi yang dinilai kokoh, dan iklim investasi yang terus membaik. Dari sisi perbankan, menurut Edwin, UOB juga diberikan ruang gerak yang memadai dari regulator dan pemerintah sehingga dapat optimal dalam menyalurkan kredit.
“Dari sisi investasi, kita terus mendorong investor-investor untuk berinvestasi di Indonesia, kami kerja sama dengan BKPM/Kementerian Investasi untuk memasarkan peluang-peluang yang ada,” kata dia pula.
Baca juga: UOB: Bank perlu geser fokus dari produk ke kebutuhan nasabah
Baca juga: Ekonom saran Suahasil kaji relokasi anggaran, perkuat UMKM-pendidikan
Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: Budisantoso Budiman
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







English (US) ·
Indonesian (ID) ·