Dituding Antisemit di Podium PBB, Zohran Mamdani Balas Netanyahu di Podcast

34 menit yang lalu 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perseteruan Wali Kota New York Zohran Mamdani dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali memanas. Sepekan setelah Netanyahu menyebut Mamdani sebagai wali kota “antisemit” dari podium Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Mamdani membalas melalui podcast Theo Von dengan menuding pemimpin Israel itu berusaha mengalihkan perhatian dari Gaza.

Mamdani menyampaikan respons terbarunya dalam podcast This Past Weekend bersama Theo Von, Kamis (1/10/2026). Menurut dia, serangan personal Netanyahu merupakan upaya memindahkan perdebatan dari pertanggungjawaban atas tindakan Israel di Gaza menjadi perseteruan antartokoh.

Tuduhan mengenai motif Netanyahu itu merupakan penilaian Mamdani. “Ini bukan tentang saya dan dia,” kata Mamdani. Ia kemudian kembali menyebut Netanyahu sebagai “arsitek genosida”, tuduhan yang selama ini dibantah keras Netanyahu dan Pemerintah Israel.

Mamdani mengatakan strategi yang ia lihat adalah menyebut sebanyak mungkin orang dan mengubah persoalan Gaza menjadi pertengkaran bolak-balik. Bagi wali kota Muslim pertama New York itu, isu yang seharusnya menjadi perhatian adalah tindakan pemerintah Israel terhadap warga Palestina, bukan dirinya secara pribadi.

Balasan terbaru itu memperpanjang perang kata-kata yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Namun, ketegangan mencapai titik baru ketika Netanyahu membawa nama Mamdani langsung ke podium PBB di kota yang dipimpinnya.

Netanyahu Sebut Mamdani Antisemit

Dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB pada 24 September, Netanyahu secara terbuka menyerang Mamdani. Ia menuduh wali kota New York tersebut menyebarkan kebohongan mengenai Israel dan menyebut kantor Mamdani sebagai kantor “wali kota antisemit New York”.

Netanyahu juga mengatakan Mamdani telah mencoba menghentikannya datang ke New York dan berusaha membungkamnya. “Anda tidak bisa membungkam kebenaran,” kata Netanyahu dari podium PBB.

Perdana menteri Israel itu kemudian membantah tuduhan utama yang selama ini disampaikan Mamdani mengenai perang Gaza. “Israel tidak melakukan genosida. Israel mencegah genosida,” kata Netanyahu. Dalam pidato yang sama, ia mengaitkan Mamdani dengan Hamas, tuduhan yang telah dibantah Mamdani.

Netanyahu menilai operasi Israel ditujukan untuk mengalahkan Hamas setelah serangan kelompok Palestina tersebut terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Pemerintah Israel juga menyatakan militernya berusaha meminimalkan korban sipil dan menuduh Hamas beroperasi dari tengah-tengah penduduk Gaza.

Pidato itu berlangsung dalam atmosfer diplomatik yang panas. Reuters melaporkan puluhan delegasi meninggalkan ruang Sidang Majelis Umum ketika Netanyahu mulai berbicara. Netanyahu menyebut delegasi yang keluar sebagai “pengecut moral”.

Di luar markas PBB, demonstrasi menentang Netanyahu juga berlangsung. Polisi menangkap sedikitnya 30 orang dalam aksi yang diikuti sekitar 200 demonstran, termasuk sejumlah aktor dan politisi lokal.

Mamdani: Pengalihan dari Gaza

Mamdani awalnya merespons pidato Netanyahu melalui pernyataan tertulis. Ia menuduh Netanyahu mengulangi apa yang disebutnya sebagai kebohongan tak berdasar untuk membersihkan citra Israel atas tindakan di Gaza. Netanyahu dan Israel menyangkal tuduhan genosida tersebut. Reuters

Namun, dalam podcast Theo Von sepekan kemudian, Mamdani memberikan penjelasan lebih panjang. Ia mengatakan terasa aneh mengetahui seorang kepala pemerintahan asing menyebut namanya secara langsung dalam pidato di forum internasional.

Saat Netanyahu berbicara di PBB, Mamdani mengatakan dirinya tengah bertemu Perdana Menteri Belanda Rob Jetten.

Baru setelah pertemuan selesai, Mamdani mengetahui apa yang dikatakan Netanyahu mengenai dirinya. Dalam podcast itu, ia menggambarkan reaksinya secara ringan, tetapi kemudian kembali membawa pembicaraan kepada Gaza.

Bagi Mamdani, penyebutan namanya bukan persoalan utama. Ia mengatakan perdebatan seharusnya berfokus pada pertanggungjawaban terhadap apa yang terjadi pada warga Palestina.

Baca Artikel Selengkapnya