REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Wartawan perang Anadolu Agency berbagi cerita tentang pengalamannya saat di zona berbahaya. Salah satu concern yang disampaikan adalah bagaimana berita 'salah' bisa membuat dampak besar bagi pembaca di seluruh dunia.
"Setelah kejadian 7 Oktober 2023 (operasi militer Hamas), banyak fake news dan juga false news, kita (jurnalis) harus punya verifikasi dan menggunakan sumber kredibe;," ujar Enes Canli, Wakil Manajer Pemberitaan Timur Tengah Anadolu saat pembekalan pelatihan War Journalism Training seperti dilaporkan wartawan Republika dari Ankara, Turki Kamis (18/9/2026).
Salah satu berita yang ia soroti adallah tentang berita '40 babies Beheaded by Hamas" (40 bayi dipenggal Hamas). Menurut Enes Cenli berita yang pertama kali disiarkan salah satu media Israel itu benar-benar ngawur.
Wartawan i24 yang menyiarkan secara langsung itu hanya mendasarkan berita pada seorang tentara tanpa mengonfirmasi lebih lanjut. Jurnalis itu hanya mengaku 'mendengar' tanpa memverifikasi.
"Kami lakukan konfirmasi langsung ke otoritas Israel dan tidak ada konfirmasi maupun bukti untuk membenarkan berita itu," ujar jurnalis senior yang sudah malang melintang di dunia konflik dari mulai Lebanon, Arab Spring, Suriah hingga Gaza itu.
Seorang jurnalis Prancis yang mengonfirmasi ke layanan medis juga tidak menemukan adanya fakta tentang berita tersebut.
Namun Enen Cenli sangat menyayangkan berita bohong itu sudah begitu cepat menyebar, tidak hanya di Israel, Timur Tengah, tapi juga seluruh dunia. Bahkan Presiden AS saat itu Joe Biden ikut terimbas dari berita bohong itu. "Disinilah pentingnya sebuah verikasi dari berbagai sisi," katanya.
Cenli mengatakan, konfirmasi atas beragam kejadian di Israel maupun Gaza dapat dilakukan dengan mengontak layanan medis, otoritas Israel, Hamas, maupun pihak lain terkait.
Ia juga menceritakan bagaimana klaim saat Israel menyerang sekolah PBB di Jalur Gaza. Militer Israel bilang bahwa serangan itu menyasar markas Hamas. Tapi jurnalis di lapangan tidak percaya begitu saja, dan mengonfirmasi itu layanan medis. "Jadi itu hanya klaim Israel, kita buat berita faktanya bahwa Israel telah menyerang sekolah PBB," ujarnya.
Ia menekankan setiap konflik terkadang media atau jurnalis mempunyai narasi masing-masing. Tapi, seorang pewarta harus mengangkat batasan-batasan itu agar tidak terjebak keluar dari fakta. "Kadang bahkan kita harus berseberangan dengan kantor," ujarnya.
Cenli yang kini sudah bertugas dalam memanajemen reporter di lapangan juga membagikan tips saat meliput di dalam medan pertempuran. Salah satunya yakni dengan menyiapkan rute-rute alternatif jika seandainya harus keluar cepat dari zona konflik saat bandara ditutup. "Kita juga harus punya alternatif jalur-jalur darat jika bandara tutup," ujarnya.
Pun yang tak kalah penting adalah kepercayaan di dalam tim. Karena jurnalis di lapangan tidak bisa bekerja sendiri, semua saling bergantung. Dalam keadaan stres berat, tim bisa membantu meredakan, tapi sebaliknya jika kurang komunikasi bisa menimbulkan risiko tinggi.

56 menit yang lalu
3






English (US) ·
Indonesian (ID) ·