Dekat Iran, Bahrain Gabung dengan Satgas Drone Serang Di Bawah Komando AS

1 jam yang lalu 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bahrain memutuskan bergabung dengan satuan tugas multinasional drone serang yang dipimpin Amerika Serikat. Keputusan itu memperluas integrasi militer Washington dengan salah satu sekutu terdekatnya di Teluk ketika ancaman pesawat nirawak semakin menonjol dalam konflik Timur Tengah.

Komitmen Bahrain disampaikan dalam pertemuan ke-21 Komite Konsultatif Militer AS-Bahrain di Manama. Pertemuan tersebut dipimpin bersama Wakil Asisten Menteri Perang AS untuk Timur Dekat dan Asia Tengah Michael P. DiMino IV dan Menteri Urusan Pertahanan Bahrain Letnan Jenderal Abdullah bin Hassan Al-Noaimi.

Departemen Perang AS dalam keterangan resminya menyebut delegasi kedua negara membahas tantangan keamanan regional, peningkatan integrasi pasukan Bahrain dengan militer AS, serta investasi pada kemampuan pertahanan udara. Salah satu sistem yang dibicarakan adalah Advanced Precision Kill Weapon System atau APKWS.

Bahrain juga menyatakan komitmennya untuk berpartisipasi dalam Task Force Falcon Strike, satuan tugas drone multinasional yang dibentuk Komando Pusat AS atau CENTCOM pada Agustus 2026. Washington mengatakan keikutsertaan itu akan memungkinkan militer Bahrain semakin memanfaatkan teknologi nirawak dalam mendukung pencegahan regional.

Anadolu Agency melaporkan Bahrain sekaligus berencana membeli tambahan amunisi dan sistem pertahanan udara buatan Amerika Serikat. Kedutaan Besar AS di Manama menyebut langkah tersebut dimaksudkan untuk membuat kemampuan pertahanan Bahrain semakin kuat dan interoperabel dengan pasukan AS.

Drone dari Udara hingga Bawah Laut

Falcon Strike bukan satuan drone biasa. CENTCOM menggambarkannya sebagai satuan tugas multinasional dan multidomain pertama yang khusus mengoperasikan drone serang sekali jalan atau one-way attack drones.

Sistem tersebut akan bekerja di tiga lingkungan sekaligus: udara, permukaan laut, dan bawah laut. Personel militer Amerika Serikat dan negara mitra regional akan mengoperasikan dan mengintegrasikan sistem nirawak tersebut.

CENTCOM mengumumkan pembentukan Falcon Strike pada 13 Agustus. Komandan CENTCOM Laksamana Brad Cooper mengatakan satuan itu dirancang untuk memperluas penggunaan teknologi drone dengan memanfaatkan inovasi yang berkembang di kalangan sekutu dan mitra regional.

“Integrating and deploying our new capabilities together will help us rapidly realize the new possibilities that are on the horizon,” kata Cooper ketika Falcon Strike diumumkan. CENTCOM kemudian mulai mengundang secara resmi negara-negara mitra di kawasan untuk bergabung.

Janes melaporkan Bahrain menjadi negara pertama yang secara terbuka dikaitkan dengan keanggotaan Task Force Falcon Strike. Ketika CENTCOM mengumumkan pembentukannya pada Agustus, Washington belum menyebut negara mitra mana yang akan bergabung.

Berawal dari Scorpion Strike

Falcon Strike dibangun dari pengalaman Task Force Scorpion Strike. Satuan tersebut dibentuk pada Desember 2025 sebagai unit pertama militer AS di Timur Tengah yang secara khusus menggunakan drone serang sekali jalan.

Menurut CENTCOM, Scorpion Strike kemudian mencapai sejumlah tonggak operasional, termasuk peluncuran drone serang udara dari kapal perang Angkatan Laut AS. Sistem nirawak juga digunakan dalam Operation Epic Fury serta serangan terhadap fasilitas pelabuhan Iran pada Juli 2026.

Defense News mencatat pembentukan Falcon Strike mencerminkan perubahan yang lebih besar dalam pendekatan militer Amerika. CENTCOM semakin menjadikan kawasan Timur Tengah sebagai tempat pengembangan dan penggunaan sistem nirawak dalam operasi tempur.

Perubahan tersebut didorong salah satunya oleh persoalan biaya. Drone serang dapat diproduksi dan digunakan dalam jumlah besar dengan biaya yang relatif rendah, sementara mencegatnya menggunakan rudal pertahanan udara konvensional dapat menghabiskan biaya jauh lebih mahal.

Perang di Ukraina dan konflik di Timur Tengah semakin menunjukkan persoalan tersebut. Drone murah dapat digunakan dalam jumlah besar untuk menekan pertahanan udara, memaksa lawan menghabiskan rudal pencegat, atau menyerang fasilitas penting dari jarak jauh.

sumber : Antara

Baca Artikel Selengkapnya