Bukan Cuma S-400, Rusia Dikabarkan akan Pasok 90 Peluncur Rudal ke Iran

1 jam yang lalu 3

JAKARTA — Rusia dilaporkan telah menyepakati pengadaan 90 perangkat peluncur rudal berpemandu presisi untuk Iran melalui kontrak persenjataan yang sebelumnya tidak diketahui publik. Informasi tersebut terungkap dari dokumen internal industri pertahanan Rusia yang bocor, memperlihatkan hubungan militer Moskow dan Teheran yang lebih luas daripada rencana pengadaan sistem pertahanan udara S-400 Triumf.

Dokumen industri pertahanan Rusia yang diperiksa Financial Times dan The Guardian pada Kamis (5/11/2026) mengungkap adanya pesanan 90 perangkat peluncur rudal APU-L yang ditujukan kepada Iran. Perangkat tersebut dirancang untuk membawa rudal berpemandu presisi LMUR atau Izdeliye 305 pada helikopter serang, terutama Mi-28. Rudal itu telah digunakan secara luas oleh militer Rusia dalam perang melawan Ukraina sejak 2022. Namun, dokumen tersebut belum memastikan apakah seluruh perangkat yang dipesan telah dikirimkan kepada Iran.

Pengungkapan tersebut menambah perhatian terhadap hubungan pertahanan Rusia dan Iran, ketika Teheran juga dilaporkan meminta sistem rudal antipesawat S-400 kepada Presiden Vladimir Putin. Namun, kedua pengadaan itu merupakan program persenjataan berbeda. S-400 dirancang menghadapi ancaman udara, sedangkan APU-L merupakan perangkat peluncur untuk rudal serangan udara-ke-permukaan.

Financial Times melaporkan bahwa informasi mengenai pesanan tersebut berasal dari dokumen produksi industri pertahanan Rusia yang diperoleh Dallas Analytics, sebuah organisasi intelijen dan analisis swasta asal Ukraina. Dokumen itu memuat jadwal produksi sepanjang 2024 hingga 2025 serta kontrak pengadaan perlengkapan rudal untuk sejumlah pelanggan domestik dan luar negeri.

Pelanggan yang memesan 90 peluncur tersebut tidak disebut secara langsung sebagai Iran dalam jadwal produksi utama. Sebagai gantinya, perusahaan Rusia menggunakan kode K-10. Namun, dokumen internal lainnya secara eksplisit menghubungkan kode tersebut dengan Iran, sehingga memperkuat identifikasi negara tujuan pengadaan.

Meski demikian, dokumen tersebut belum dapat memastikan apakah seluruh 90 perangkat peluncur telah selesai diproduksi atau benar-benar dikirim kepada militer Iran. Tidak terdapat konfirmasi resmi mengenai jumlah yang diterima, tanggal kedatangan, maupun status operasional perangkat tersebut.

Terungkap Lewat Dokumen Rahasia Rusia

Salah satu dokumen utama berasal dari surat perusahaan perancang persenjataan Rusia, Vympel, kepada biro desain mesin KBM pada 28 Mei 2024. Surat itu meminta percepatan pengiriman komponen penting untuk pembuatan dua jenis perangkat peluncur rudal, yakni APU-L dan APU-305.

Vympel merupakan bagian dari Tactical Missiles Corporation atau KTRV, kelompok perusahaan industri pertahanan Rusia yang memproduksi berbagai sistem rudal. Dalam surat tersebut, perusahaan memperingatkan bahwa keterlambatan pasokan komponen dapat mengganggu penyelesaian sembilan kontrak yang telah masuk dalam jadwal produksi.

Dokumen yang menyertai surat itu menunjukkan tujuh pelanggan domestik Rusia dan dua pelanggan luar negeri. China tercatat dalam pesanan 192 perangkat peluncur APU-305, sedangkan pelanggan berkode K-10 memiliki pesanan 90 perangkat APU-L.

Menurut Financial Times, kode K-10 digunakan eksportir senjata negara Rusia, Rosoboronexport, untuk merujuk kepada Iran. Identifikasi itu diperkuat dokumen kontrak lain yang berkaitan dengan pesawat latih tempur Yak-130, yang secara eksplisit mencantumkan Iran sebagai negara penerima dengan kode pelanggan serupa.

Dokumen produksi lainnya mencatat rencana pengadaan enam pesawat Yak-130 untuk Iran pada 2023. Informasi tersebut sejalan dengan laporan publik mengenai kedatangan pesawat Yak-130 buatan Rusia di Iran pada tahun yang sama.

Fox News, Jumat (6/11/2026), melaporkan bahwa dokumen tambahan juga menunjukkan keterlibatan perwakilan militer Rusia dalam proses administrasi pengadaan. Salah satu surat Vympel bahkan memuat tanda tangan perwakilan militer dari Kementerian Pertahanan Rusia, mengindikasikan adanya pengawasan resmi terhadap bagian dari proses industri tersebut.

Dallas Analytics menilai catatan kontrak itu sebagai bukti kuat mengenai rencana transfer persenjataan. Akan tetapi, organisasi tersebut belum menunjukkan bukti pengiriman final yang dapat memastikan bahwa seluruh perangkat telah tiba dan digunakan oleh Iran.

Perbedaan antara dokumen pengadaan, jadwal produksi, dan bukti serah terima menjadi penting karena tenggat yang tercantum dalam dokumen berlangsung sejak akhir 2024 hingga Desember 2025. Pengungkapan dokumen pada November 2026 tidak dengan sendirinya membuktikan adanya pengiriman baru pada bulan tersebut.

Baca Artikel Selengkapnya