Denpasar (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencatat ekonomi Bali pada triwulan III 2026 tetap tumbuh 5,85 persen secara tahun ke tahun di tengah berbagai tantangan pariwisata.
"Angka pertumbuhan yang 5,85 persen ini tentu harus kita apresiasi mengingat tantangan di 2026 memang agak sedikit lebih berat dibanding 2025, khususnya untuk pariwisata," kata Kepala BPS Bali Agus Gede Hendrayana Hermawan di Denpasar, Kamis.
Agus Gede menyebut dinamika global seperti isu perang hingga pembatalan penerbangan memicu perlambatan pertumbuhan sektor akomodasi makan minum dari 10,94 persen pada triwulan III 2025 menjadi 6,23 persen pada triwulan III 2026.
Perlambatan pada lapangan usaha utama tersebut menahan laju ekonomi Bali triwulan III 2026 sehingga sedikit melambat jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh 5,88 persen.
"Nah, kenapa melambat, karena lapangan usaha yang memberikan kontribusi terbesar, akomodasi dan makan minum salah satunya, itu tercatat mengalami perlambatan pertumbuhan," ujar Agus Gede.
Agus Gede menegaskan bahwa perlambatan tersebut bukan dipicu faktor low season sektor pariwisata mengingat triwulan III merupakan periode puncak kunjungan (peak season), melainkan akibat penambahan wisman yang tak sepesat tahun sebelumnya.
Meski kunjungan wisman hanya naik 0,94 persen dan ekspor luar negeri melambat jadi 3,39 persen, kualitas pengeluaran wisatawan justru meningkat yang tecermin dari naiknya okupansi hotel bintang lima.
"Kalau yang tadi TPK (Tingkat Penghunian Kamar) hotel bintang naik di bintang 5, itu juga menjadi cerminan bahwa walaupun tingkat kunjungannya meningkat hanya 0,94 persen tapi mungkin pengeluaran wisman selama di Bali itu lebih tinggi dibanding sebelumnya karena mereka menyasar sarana akomodasi yang dalam tanda kutip memiliki harga yang lebih tinggi," kata dia.
BPS Bali juga melihat aktivitas pariwisata dari perjalanan wisnus yang naik 4 persen ikut menompang pertumbuhan ekonomi, sejalan dengan pengeluaran konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,43 persen.
"Pertumbuhan yang relatif tinggi ini terjadi khususnya pada pengeluaran perumahan, penginapan, dan hotel, jadi bukan pengeluaran primer untuk makanan," ujar Agus Gede.
Tekanan pariwisata juga berdampak pada sektor transportasi dan pergudangan yang tumbuh paling rendah 1,20 persen akibat penurunan kinerja angkutan udara.
Secara kumulatif hingga triwulan III 2026, ekonomi Bali tumbuh 5,74 persen, dengan PDRB ADHK mencapai Rp47,53 triliun dan ADHB Rp90,41 triliun, atau tumbuh 0,42 persen dibanding triwulan II (April, Mei, Juni) 2026.
BPS Bali memotret secara laju tahunan antar-triwulan di 2026, ekonomi Bali sebenarnya terus meningkat dari triwulan I sebesar 5,58 persen dan triwulan II sebesar 5,78 persen.
Dari 17 lapangan usaha, sebanyak sembilan sektor mengalami percepatan dan delapan melambat, dengan pertumbuhan tertinggi diraih pengadaan listrik dan gas 11,03 persen, jasa keuangan 9,00 persen, serta konstruksi 8,91 persen.
Tinggi pertumbuhan listrik didorong oleh peningkatan pemakaian listrik industri yang naik 16,79 persen, residensial 12,54 persen, serta segmen bisnis 10 hingga 17 persen.
Sektor konstruksi terdorong realisasi proyek pemerintah-swasta dan kenaikan penjualan semen 3 persen, sementara pertanian tumbuh 2,55 persen didorong produksi jagung, peternakan, dan perikanan meski tanaman padi tertekan kemarau.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih mendominasi PDRB dengan porsi 51,44 persen.
Pembentukan Modal Tetap Bruto tumbuh 8,74 persen didorong PMTB non-bangunan serta kenaikan belanja modal APBN 110 persen dan APBD 35 persen.
Agus Gede juga menyebut konsumsi pemerintah melesat 6,33 persen didorong belanja pegawai APBN 18,83 persen termasuk penyerapan P3K serta belanja barang jasa APBD 11,96 persen.
Daya beli masyarakat Bali juga diyakini tetap terjaga mengacu pada Indeks Penjualan Eceran Riil dan Indeks Keyakinan Konsumen, didukung penyaluran kredit bank yang tumbuh 7,5 persen dan surplus neraca perdagangan sebesar 97,62 juta dolar AS.
Baca juga: Ekonomi Bali-Nusra tumbuh tertinggi 6,08 persen, ditopang pertambangan
Baca juga: BI hitung proyeksi ekonomi Bali 2026 tumbuh hingga 5,9 persen
Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.







English (US) ·
Indonesian (ID) ·