REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perusahaan teknologi Amerika Serikat (AS), Palantir Technologies, membantah adanya mekanisme yang memungkinkan pemerintah AS ataupun perusahaan tersebut mematikan dari jauh sistem kecerdasan buatan (AI) yang digunakan markas komando militer Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Bantahan tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran negara-negara Eropa terhadap ketergantungan teknologi pertahanan mereka kepada perusahaan Amerika.
Wakil Presiden Eksekutif Palantir untuk Inggris dan Eropa, Louis Mosley, menegaskan bahwa pelanggan memiliki kendali operasional atas perangkat lunak yang mereka gunakan. Menurut dia, Palantir maupun pemerintah AS tidak mempunyai mekanisme khusus untuk menghentikan sistem tersebut secara sepihak.
"Tidak ada kill switch. Tidak ada kemampuan bagi Palantir ataupun pemerintah AS untuk masuk dan mematikannya," kata Mosley dalam wawancara dengan Reuters di Brussels, Rabu (21/10/2026).
Pernyataan yang dilaporkan Reuters pada Kamis (22/10/2026) tersebut berkaitan dengan Maven Smart System, platform AI yang digunakan komando militer NATO untuk mengolah informasi medan perang, menganalisis intelijen, dan mendukung pengambilan keputusan operasional.
Namun, pernyataan Palantir tersebut merupakan penjelasan dari perusahaan pengembang, bukan hasil audit teknis independen yang dipublikasikan kepada masyarakat.
Hingga kini, tidak terdapat bukti publik yang menunjukkan pemerintah AS memiliki tombol pemutus tersembunyi untuk menghentikan Maven NATO. Sebaliknya, informasi teknis yang tersedia untuk publik juga belum cukup untuk memverifikasi secara independen seluruh konfigurasi dan mekanisme kendali sistem tersebut.
Perdebatan mengenai kemungkinan penghentian teknologi militer dari jarak jauh semakin mengemuka setelah muncul kontroversi pembatasan layanan komunikasi satelit Starshield yang digunakan Ukraina.
Peristiwa itu memunculkan pertanyaan lebih luas di Eropa mengenai sejauh mana negara pengguna dapat mempertahankan kendali atas teknologi militer strategis yang dikembangkan perusahaan asing.
NATO memiliki sistem dan menyimpan datanya sendiri
Salah satu aspek penting yang membedakan Maven NATO dari layanan teknologi komersial biasa adalah pengaturan kepemilikan dan penyimpanan datanya.
Direktur Task Force Maven NATO, Kolonel Arnel David, dalam keterangan yang dilaporkan media pertahanan Janes pada Juni 2026, menjelaskan bahwa sistem Maven berada dalam kepemilikan NATO.
Data yang digunakan sistem tersebut juga disimpan pada server dan pusat data milik NATO. Informasi itu menunjukkan bahwa penggunaan perangkat lunak Palantir tidak secara otomatis berarti seluruh data operasional militer aliansi disimpan pada infrastruktur perusahaan Amerika.
Pengaturan tersebut penting karena data pertahanan dapat mencakup informasi sensitif mengenai pergerakan pasukan, kemampuan persenjataan, hasil pengintaian, dan rencana operasi.
Dengan menyimpan data pada infrastrukturnya sendiri, NATO memiliki dasar untuk mempertahankan pengawasan langsung terhadap informasi yang diproses melalui Maven.
Namun, kepemilikan server dan penyimpanan data tidak dengan sendirinya membuktikan ketiadaan seluruh kemungkinan akses jarak jauh atau ketergantungan terhadap pengembang perangkat lunak.
Untuk memastikan hal tersebut secara menyeluruh diperlukan pemeriksaan terhadap arsitektur sistem, pengaturan akses, konfigurasi jaringan, dan mekanisme pembaruan perangkat lunak.
Rincian teknis semacam itu tidak seluruhnya tersedia untuk publik. Karena itu, informasi mengenai kepemilikan NATO memperkuat konteks bantahan Palantir, tetapi tidak dapat dijadikan bukti mutlak bahwa seluruh risiko teknis telah dihilangkan.
Maven sudah beroperasi di jaringan rahasia NATO
NATO mengakuisisi Maven Smart System pada 25 Maret 2025 melalui NATO Communications and Information Agency (NCIA).
Dalam pengumuman resmi pada 14 April 2025, NCIA menyatakan sistem tersebut akan digunakan oleh Allied Command Operations (ACO), dengan penempatan pada Supreme Headquarters Allied Powers Europe (SHAPE) di Mons, Belgia.
SHAPE merupakan markas komando strategis yang bertanggung jawab atas perencanaan dan pelaksanaan operasi militer NATO.
Maven dikembangkan untuk membantu komandan mengolah data dalam jumlah besar dari berbagai sumber, termasuk sistem pengawasan, sensor, dan informasi intelijen.
Platform tersebut menggabungkan sejumlah teknologi AI, antara lain machine learning, model bahasa besar, dan AI generatif.
Kemampuan itu digunakan untuk mempercepat penggabungan informasi, meningkatkan pemahaman situasi medan perang, serta membantu proses perencanaan dan pengambilan keputusan.
Dalam perkembangan berikutnya, NATO menyatakan Maven mencapai full technical operational capability atau kemampuan operasional teknis penuh pada 22 Juni 2026.
Pengumuman resmi NATO pada 12 Agustus 2026 juga menyebut Maven telah memperoleh akreditasi keamanan penuh untuk digunakan pada jaringan rahasia aliansi.
Status tersebut menunjukkan bahwa sistem telah memenuhi persyaratan keamanan yang ditetapkan NATO untuk mendukung aktivitas operasionalnya.
Namun, akreditasi keamanan tidak boleh disamakan dengan pembuktian publik bahwa tidak terdapat mekanisme penghentian jarak jauh.
Akreditasi merupakan bagian dari proses otorisasi keamanan, sedangkan pemeriksaan keberadaan kill switch membutuhkan bukti teknis yang lebih khusus.
Meski demikian, pencapaian tersebut memperlihatkan bahwa Maven bukan lagi sebatas proyek percobaan.
NATO telah menempatkannya sebagai salah satu perangkat yang mendukung pengolahan informasi dan pengambilan keputusan pada tingkat komando strategis.

1 jam yang lalu
5






English (US) ·
Indonesian (ID) ·