Jakarta, CNN Indonesia --
Setelah 10 minggu berada di Jenewa, Swiss, yang merupakannya tempat tinggalnya sejak Juni 2026, Paul Biya yang berstatus sebagai Presiden Kamerun akhirnya berkunjung ke Kamerun.
Paul Biya sudah menjadi Presiden Kamerun sejak 1982. Pada Oktober 2025, pria 93 tahun itu untuk kali kedelapan beruntun terpilih sebagai Presiden Kamerun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, sejak kembali terpilih pada Oktober 2025, Paul Biya belum juga membentuk kabinet baru atau memilih Wakil Presiden. Semuanya tertunda karena Biya harus meninggalkan Kamerun.
Dikutip dari First Post, pada 7 Juni 2026, Biya meninggalkan Kamerun. Sejak saat itu, Biya lebih banyak tinggal di Jenewa, Swiss.
Ini bukan kali pertama Paul Biya meninggalkan Kamerun untuk tinggal di Swiss. Biya pernah melakukan hal yang sama pada 2024, juga pada periode 7 Juni hingga 20 Agustus 2024.
Tidak jelas apa alasan Biya memilih tinggal di Swiss. Rumor yang beredar di Kamerun adalah, pria yang memiliki nama lengkap Paul Barthelemy Biya itu bermasalah dengan kesehatannya.
Setelah lebih dari 10 minggu tinggal di Eropa, Biya kembali ke Kamerun pada 20 Agustus 2026. Masyarakat Kamerun berharap Biya bisa membentuk kabinet pemerintahan dan Wakil Presiden saat 'kunjungan' selama dua minggu ke Kamerun.
Namun, dikutip dari Al Jazeera, hingga kini belum ada pembentukan kabinet atau Wakil Presiden baru.
"Setiap warga Kamerun berharap sekembalinya ia [Biya] ke tanah air, ia akan melakukan perubahan dalam pemerintahan, tetapi sampai saat ini belum ada apa-apa," ujar Elvis Mbi, salah satu warga Kamerun, kepada Al Jazeera.
Dalam pidato kenegaraannya pada 31 Desember 2025, Biya berjanji pemerintahan baru akan dibentuk "dalam beberapa hari mendatang". Tapi, lebih dari sembilan bulan berselang, perubahan yang dijanjikan itu belum juga terwujud.
(har/bac)

1 jam yang lalu
6






English (US) ·
Indonesian (ID) ·