BI siapkan sejumlah strategi guna jaga stabilitas rupiah

47 menit yang lalu 1

Jakarta (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tantangan penguatan dolar AS.

Dari segi moneter, Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan penguatan kebijakan moneter akan terus dilakukan secara konsisten melalui sejumlah pilar kebijakan.

Salah satu langkah yang diperkuat adalah pengawasan lalu lintas devisa. BI juga akan memperkuat kecukupan likuiditas melalui operasi moneter untuk surat berharga non-SBN.

“Kami akan memperkuat pengawasan lalu lintas devisa, kemudian juga kami akan terus memperkuat kecukupan likuditas melalui repo operasi moneter untuk non-SBN,” kata Destry dalam Raker bersama Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin.

Destry mengatakan bank sentral telah mulai membuka fasilitas repo untuk surat berharga non-SBN, yang saat ini telah diterapkan pada surat berharga PT Sarana Multigriya Finansial (SMF).

Selanjutnya, mulai Oktober 2026, fasilitas itu akan diperluas untuk obligasi PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).

Surat berharga yang diterbitkan SMF dan SMI dapat direpokan kepada BI sehingga diharapkan turut memperdalam pasar uang bagi kedua instrumen tersebut.

Langkah tersebut dilakukan di tengah tantangan eksternal berupa penguatan dolar AS terhadap mata uang dunia.

Destry mengatakan kondisi tersebut dipicu oleh tren suku bunga tinggi bank sentral Amerika Serikat alias The Fed.

The Fed telah menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00 persen pada 16 September 2026 waktu AS. BI memperkirakan The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuannya sekali lagi pada triwulan IV 2026.

Menurut dia, kenaikan suku bunga The Fed turut mendorong penguatan dolar AS terhadap mata uang lainnya. Ini tercermin dari indeks dolar AS (DXY) yang tercatat mencapai 101,11, sedangkan indeks dolar terhadap mata uang negara Asia mencapai 96,26.

Penguatan dolar AS tersebut juga berdampak terhadap aliran modal di negara berkembang. Arus modal yang sebelumnya berada di negara-negara berkembang kembali beralih ke negara maju.

Selain penguatan dolar AS, Destry menyoroti peningkatan tekanan inflasi global yang turut memengaruhi arah kebijakan moneter negara-negara di dunia.

Lebih lanjut, BI juga akan memperkuat kebijakan makroprudensial dengan optimalisasi kredit, menjaga ketahanan sistem keuangan, dan meningkatkan keuangan yang inklusif.

Sementara dari sisi sistem pembayaran, BI akan memperluas pembayaran lintas negara atau cross-border payment dan mendorong inovasi aset keuangan digital.

BI juga memperkuat kapasitas talenta digital melalui Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI), termasuk pengembangan kompetensi di bidang kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI).

"Kemudian juga penguatan talenta digital melalui program PIDI, yaitu Pusat Inovasi Digital Indonesia dimana kami di situ mencari talenta-talenta dan juga memberdayakan talenta-talenta muda yang mempunyai kemampuan dan kompetensi yang tinggi di bidang digital, termasuk AI dan kemudian kami berusaha melakukan matchmaking dengan pihak demand side," katanya.

Baca juga: Rupiah melemah dipengaruhi eskalasi konflik antara Iran dengan AS

Baca juga: Ekonom nilai BI tak perlu naikkan bunga untuk stabilkan rupiah

Baca juga: BI masih cetak rupiah bertanda tangan eks Menkeu-Gubernur BI

Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya