REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Partai Hijau Inggris dan Wales telah memutuskan untuk menyatakan Zionisme sebagai bentuk rasisme dalam langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya pada konferensi partai di Brighton. Partai itu juga mendukung satu negara tunggal di seantero wilayah Palestina termasuk yang dikuasai Israel.
Pemungutan suara oleh anggota partai pada Ahad tersebut menjadikan partai ini sebagai partai besar pertama di Inggris yang mengakui Zionisme sebagai bentuk rasisme—serta mendukung satu negara Palestina yang demokratis dengan hak yang setara bagi semua kelompok etnis dan agama, alih-alih solusi dua negara.
Sebanyak 1.022 anggota memberikan suara mendukung mosi tersebut, sementara 813 anggota menolaknya.
Wakil Ketua Bersama Mothin Ali mengatakan kepada Middle East Eye (MEE) pada Ahad bahwa ia sangat mendukung mosi tersebut, berbeda dengan anggota parlemen dari Partai Hijau, Carla Denyer dan Adrian Ramsay, yang mengkritiknya.
"Sebagaimana didefinisikan dalam mosi tersebut," ujar Ali, "Zionisme adalah negara etno-nasionalis. Zionisme berujung pada pembersihan etnis, yang didasari keyakinan bahwa satu kelompok masyarakat lebih unggul dibandingkan kelompok lainnya."
Ia menambahkan: "Kini saya adalah seorang penentang rasisme yang berkomitmen. Saya terjun ke dunia politik melalui gerakan anti-rasisme dan anti-perang. Sejak saat itu, saya memiliki pemahaman mendalam mengenai wujud rasisme, baik yang bersifat struktural maupun personal.
"Keyakinan bahwa suatu kelompok lebih unggul dibandingkan kelompok lain—hal itu sama sekali tidak bisa saya terima."
Para anggota Partai Hijau (Green Party) menolak sebuah amandemen terhadap mosi tersebut yang menyatakan bahwa mosi itu "tidak boleh digunakan untuk menekan, melarang, atau menjatuhkan sanksi disiplin kepada anggota berdasarkan afiliasi mereka dengan lembaga komunitas Yahudi—seperti sinagoge, pusat komunitas, atau kelompok denominasi—yang mengidentifikasi diri sebagai Zionis; ataupun digunakan untuk mendisiplinkan atau menjatuhkan sanksi kepada anggota Yahudi karena menyampaikan pandangan yang tidak akan dikenai sanksi jika disampaikan oleh anggota non-Yahudi (seperti dukungan terhadap negara binasional atau solusi dua negara)."
Namun, menurut sumber internal partai kepada MEE, para anggota memberikan suara untuk mendukung amandemen yang mengakui "hak mutlak untuk menentukan nasib sendiri" bagi rakyat Palestina.
Pada Ahad pagi, Ali mengatakan kepada MEE bahwa ia yakin mosi tersebut akan mengubah diskursus politik di Inggris. "Pada tahun 2024, Partai Hijau mengakui genosida yang sedang terjadi di Gaza, mendahului partai politik besar lainnya.
"Jadi, kami selalu menjadi pelopor dalam isu ini; kami memimpin dalam isu hak asasi manusia, di mana pun hal itu terjadi. Kami mengajak partai-partai politik lain untuk turut serta. Kami mendorong agar perdebatan ini berlangsung di tengah masyarakat."

58 menit yang lalu
3






English (US) ·
Indonesian (ID) ·