REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penemuan drone yang diduga dipersiapkan untuk membawa bahan peledak di dekat pangkalan udara militer Jerman memunculkan kekhawatiran baru mengenai ancaman sabotase terhadap instalasi pertahanan NATO di Eropa. Angkatan Bersenjata Jerman atau Bundeswehr kini meningkatkan penilaian ancaman sabotase ke tingkat tertinggi kedua, menyusul serangkaian insiden keamanan yang diduga berkaitan dengan operasi hibrida Rusia.
Media Jerman, Tagesschau pada Rabu (21/10/2026), mengungkap bahwa sebuah drone ditemukan di dekat Pangkalan Udara Wunstorf, negara bagian Niedersachsen, pada pertengahan September lalu. Perangkat tersebut ditemukan seorang petani di kawasan bervegetasi lebat, sekitar satu kilometer dari pangkalan yang menjadi salah satu pusat operasi pesawat angkut militer Jerman.
Pemeriksaan di sekitar lokasi menemukan sebuah kaleng berisi bahan peledak berkekuatan tinggi yang terletak hanya beberapa meter dari puing drone. Konstruksi perangkat tersebut dilaporkan memiliki kemiripan dengan drone bermuatan bahan peledak yang sebelumnya ditemukan di Bandara Leipzig/Halle pada 4 Agustus 2026.
Namun, penyelidikan juga menghasilkan temuan yang mengejutkan mengenai usia perangkat tersebut. Berdasarkan analisis teknis Badan Kepolisian Kriminal Federal Jerman atau BKA, drone Wunstorf diperkirakan sudah berada di kawasan tersebut selama kurang lebih dua tahun sebelum ditemukan.
Perkiraan itu berarti perangkat tersebut kemungkinan telah berada di lokasi sejak sekitar 2024, jauh sebelum insiden serupa di Leipzig pada Agustus 2026. Meski demikian, penyidik belum mengumumkan kapan drone diterbangkan, siapa operatornya, ataupun sasaran pasti yang hendak diserang.
Menurut laporan Tagesschau, penyelidik menduga drone tersebut kemungkinan ditujukan untuk menyerang pesawat militer Jerman. Dugaan tersebut menjadi perhatian khusus karena berbeda dengan kasus Leipzig, ketika drone berbahan peledak ditemukan di dekat pesawat kargo Ukraina.
Reuters pada Rabu (21/10/2026) melaporkan bahwa Angkatan Bersenjata Jerman atau Bundeswehr untuk pertama kalinya mengategorikan ancaman sabotase Rusia terhadap personel dan fasilitas militernya sebagai "erheblich" atau signifikan. Menurut dokumen penilaian keamanan internal Bundeswehr yang diungkap media penyiaran publik WDR dan surat kabar Süddeutsche Zeitung, kategori tersebut merupakan tingkat ancaman tertinggi kedua dalam sistem penilaian militer Jerman.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Jerman mengonfirmasi adanya ancaman sabotase signifikan terhadap Bundeswehr dalam konferensi pers pemerintah di Berlin. Ia menjelaskan bahwa penilaian keamanan dilakukan secara berkelanjutan dan mempertimbangkan sejumlah kejadian, termasuk penemuan drone Wunstorf serta dugaan sabotase terhadap fasilitas angkatan laut.
Mengapa Pangkalan Wunstorf Menjadi Perhatian?
Pangkalan Udara Wunstorf merupakan markas Lufttransportgeschwader 62, satuan angkutan udara Angkatan Udara Jerman yang mengoperasikan pesawat Airbus A400M. Menurut situs resmi Bundeswehr, satuan tersebut memiliki tugas transportasi udara logistik dan taktis, termasuk evakuasi medis serta pengisian bahan bakar pesawat di udara.
Kemampuan itu menjadikan Wunstorf salah satu fasilitas penting dalam mendukung mobilitas militer Jerman dan operasi pertahanan bersama sekutunya. Keberadaan armada A400M juga memberikan pangkalan tersebut posisi strategis dalam pengangkutan personel, perlengkapan, dan kebutuhan logistik militer.
Karena itu, kemungkinan bahwa sebuah drone berbahan peledak pernah diarahkan terhadap pesawat di sekitar pangkalan menjadi perhatian serius aparat keamanan. Namun, sampai perkembangan penyelidikan yang dilaporkan pada 21 Oktober, belum ada pengumuman bahwa drone Wunstorf berhasil melakukan serangan ataupun menyebabkan kerusakan terhadap pesawat militer.
Investigasi WDR dan Süddeutsche Zeitung menyebut adanya perubahan penting dalam penilaian internal Bundeswehr. Militer Jerman kini memperhitungkan kemungkinan bahwa personel dan fasilitasnya sendiri di wilayah nasional dapat menjadi sasaran tindakan sabotase yang berpotensi menimbulkan korban jiwa.
Penilaian tersebut sebelumnya lebih banyak menitikberatkan risiko pada fasilitas yang berhubungan dengan pelatihan tentara Ukraina, pangkalan angkatan laut, dan galangan kapal militer. Temuan Wunstorf memperluas kekhawatiran karena sasaran yang dicurigai bukan lagi semata fasilitas pendukung Ukraina, melainkan aset militer Jerman sendiri.
Dugaan Sabotase Rusia dan Kasus Leipzig
Perhatian terhadap Wunstorf tidak dapat dilepaskan dari insiden drone berbahan peledak di Bandara Leipzig/Halle pada 4 Agustus 2026. Dalam kejadian tersebut, aparat keamanan menemukan perangkat yang diduga disiapkan untuk menyerang pesawat kargo Ukraina yang berada di kawasan bandara.
Pemerintah Jerman kemudian secara resmi menyatakan Rusia bertanggung jawab atas upaya serangan di Leipzig. Kesimpulan tersebut diumumkan Menteri Dalam Negeri Alexander Dobrindt dan Menteri Luar Negeri Johann Wadephul pada 1 September berdasarkan hasil penyelidikan kepolisian, analisis pola serangan, serta informasi intelijen.
Menurut Pemerintah Jerman, konfigurasi drone, komponen teknis, bahan peledak, dan mekanisme penyalaan menunjukkan karakteristik yang dikenal dari operasi hibrida Rusia. Namun, atribusi politik pemerintah tersebut tidak sama dengan putusan pengadilan, sementara penyelidikan pidana terhadap kasus Leipzig masih berlangsung.
Rusia menolak tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa Berlin tidak menyampaikan bukti yang meyakinkan. Moskow juga mengecam langkah-langkah diplomatik yang diambil Pemerintah Jerman sebagai tindakan yang memperburuk hubungan kedua negara.
Setelah menyalahkan Rusia atas kasus Leipzig, Pemerintah Jerman mengumumkan sejumlah tindakan balasan. Langkah tersebut mencakup penutupan Konsulat Jenderal Rusia di Bonn, penghentian perjanjian operasional pusat kebudayaan Rusia di Berlin, pengetatan pemeriksaan terhadap warga Rusia yang memasuki Jerman, serta dorongan untuk memperluas sanksi Uni Eropa.
Kasus Wunstorf kini menjadi bahan pertimbangan tambahan dalam penilaian ancaman Bundeswehr, tetapi identitas pihak yang mengoperasikan drone tersebut masih belum dapat dipastikan secara terbuka. Kesamaan konstruksi dengan perangkat Leipzig merupakan petunjuk investigatif, bukan bukti definitif bahwa kedua perangkat dikendalikan pelaku yang sama.

1 jam yang lalu
5





English (US) ·
Indonesian (ID) ·