Jakarta, CNN Indonesia --
Ketua partai Arab Joint List, Ahmed Tibi, mengejek Menteri Keamanan Israel Itamar Ben Gvir sebagai Abu Nafkha, julukan yang dipakai untuk menghina orang lain karena suka membual.
Pernyataan itu muncul saat Tibi menggelar konferensi pers, usai perwakilan Joint List merekomendasikan Gadi Eisenkot ke presiden Israel untuk membentuk pemerintahan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya salut ke komunitas kita, yang turun tangan, menghentikan Benjamin Netanyahu, dan membuat Abu Nafkha menangis di pojok karena tak punya pekerjaan lagi dalam waktu lama," kata Tibi.
Secara harfiah, Nafkha berarti menggembung, meniup, atau membengkak. Dalam budaya Arab, julukan ini diasosiasikan untuk menggambarkan orang yang sombong, besar kepala, tukang omong, atau suka membual.
Tibi lantas menyinggung soal jumlah partisipasi pemilih yang melonjak tajam di kalangan Arab kali ini. Dia juga mengatakan sengaja mengerahkan mereka untuk menggulingkan pemerintahan Netanyahu melalui kotak suara.
"Komunitas kami berbondong-bondong memberi suara untuk aksi heroik ini, terutama sebagai tindakan untuk membela diri terhadap pemerintah yang menyerang, menghasut, dan merugikan," kata Tibi pada Kamis (6/11), dikutip Israel National News.
Lebih lanjut, dia juga mengatakan perilaku pejabat pemerintah tertentu justru membantu meningkatkan partisipasi pemilih di komunitas Arab. Mereka adalah orang yang berbuat semena-mena dan melakukan pelanggaran atau kejahatan terhadap warga Arab-Israel.
Para pemilih Arab tak mau lagi, orang-orang Yahudi semacam itu berkuasa atau membuat mereka lebih menderita.
"Kedua, ada beberapa orang Yahudi yang membantu kami meningkatkan jumlah pemilih, orang-orang Yahudi jahat yang membantu kami. Mereka yang menghasut, mereka yang menyebabkan kerugian, mereka yang membiarkan pertumpahan darah di jalan-jalan komunitas Arab," kata Tibi.
"Mereka yang mengancam akan membawa proyek permukiman Galilea, kami di sini untuk menghentikan itu," imbuh dia.
Tibi juga menyebut ketidakmampuan Netanyahu membentuk pemerintahan karena partisipasi pemilih Arab yang mencapai 80 persen.
"Tingkat partisipasi pemilih sebesar 80 persen adalah alasan mengapa Benjamin Netanyahu tidak bisa membentuk pemerintahan hari ini," kata dia.
Di pemilu kali ini, blok Netanyahu tak mencapai suara mayoritas dan hanya meraih 53 kursi. Sementara itu, blok Eisenkot menyabet 48 kursi dan partai Arab total 20 kursi.
Kedua blok itu perlu suara lain untuk membentuk pemerintahan dan Partai Arab dalam hal ini menjadi penentu bagi Eisenkot untuk menggulingkan Netanyahu.
Meski begitu, muncul skenario blok Eisenkot dan Blok Netanyahu bergabung lalu mengabaikan partai Arab. Namun, dukungan pemerintahan perubahan dan Arab terus menggema di kalangan publik Israel.
(isa/dna/bac)

37 menit yang lalu
3






English (US) ·
Indonesian (ID) ·