JAKARTA -- Skandal pencurian aset kripto senilai 2,47 juta dolar AS terungkap di Federal Bureau of Investigation (FBI) Amerika Serikat. Seorang mantan agen senior lembaga tersebut mengaku mencuri dana digital dengan memanfaatkan akses terhadap informasi rahasia yang dikumpulkan dalam 35 penyelidikan berbeda, sebelum mempersiapkan kehidupan baru di Portugal.
Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) mengumumkan pada Kamis (5/11/2026) bahwa Patrick Steven Yaroch, 37 tahun, mengaku bersalah atas tindak pidana penipuan elektronik (wire fraud) dan pencucian uang. Pengakuan tersebut disampaikan di Pengadilan Distrik Federal Alexandria, Virginia, setelah penyidik mengungkap pencurian aset digital yang nilainya jauh lebih besar daripada dugaan awal.
Menurut DOJ, Yaroch melakukan sekitar 100 transfer ilegal dengan menggunakan kredensial dompet kripto yang diperoleh melalui sistem FBI. Informasi tersebut berkaitan dengan 35 penyelidikan, termasuk perkara yang melibatkan kelompok kriminal dan aktor negara asing yang menjadi sasaran kegiatan kontraintelijen Amerika Serikat.
Nilai keseluruhan hasil kejahatannya mencapai sekitar 2.474.380,66 dolar AS. Pencurian berlangsung sejak paling lambat Desember 2024 dan berlanjut selama Yaroch masih memiliki akses terhadap informasi sensitif lembaga penegak hukum federal tersebut.
Perkembangan terbaru kasus ini juga mengungkap bahwa sebagian aset yang dicuri berkaitan dengan korban kejahatan keuangan. The Washington Post dalam laporannya pada Jumat (6/11/2026) menyebut sedikitnya 10 korban tindak pidana keuangan termasuk pihak yang dananya diambil oleh mantan agen tersebut.
Kasus itu semakin menarik perhatian setelah jaksa federal mengungkap rencana Yaroch membangun kehidupan baru di Portugal. Ia telah mencari informasi mengenai perpindahan ke Eropa, mengurus dokumen administrasi melalui pengacara setempat, dan mempersiapkan perjalanan bersama keluarganya.
Memanfaatkan Akses Rahasia FBI
Patrick Steven Yaroch bukan anggota FBI yang baru bergabung. Ia telah bekerja di lembaga tersebut selama hampir satu dekade dan memiliki pengalaman dalam penanganan perkara kontraintelijen yang berkaitan dengan ancaman dari negara asing.
Menurut dokumen pengadilan yang dirilis DOJ, Yaroch bertugas di Divisi FBI Boston sejak 2017 hingga awal 2025. Dalam periode tersebut, ia menjadi anggota tim penyelidikan yang berfokus pada aktivitas sebuah negara asing yang dipandang sebagai lawan Amerika Serikat.
Pada Februari 2025, Yaroch bekerja di Divisi Kontraintelijen dan Spionase FBI hingga 31 Juli 2026. Posisi tersebut memberinya akses terhadap sistem internal yang menyimpan informasi sensitif, termasuk kredensial dompet mata uang kripto yang diperoleh penyidik dari berbagai perkara.
Kredensial dompet kripto merupakan informasi yang memungkinkan seseorang mengakses atau memindahkan aset digital dari dompet tertentu. Dalam penyelidikan kejahatan keuangan, informasi itu dapat menjadi bagian dari barang bukti atau data yang diperlukan untuk melacak aktivitas tersangka.
Yaroch memanfaatkan akses tersebut untuk kepentingan pribadi. Ia menggunakan informasi dari penyelidikan yang ditangani FBI untuk mengambil aset dari sejumlah dompet kripto tanpa izin.
Menurut DOJ, dompet yang menjadi sasaran mencakup aset yang dikendalikan subjek berbagai penyelidikan, aktor negara asing, serta sedikitnya satu dompet yang dibuat FBI untuk kepentingan operasi.
The Washington Post melaporkan bahwa Yaroch juga mengakses catatan rahasia dari perkara yang tidak ditugaskan kepadanya. Dari informasi itulah ia memperoleh kredensial yang diperlukan untuk melakukan transaksi aset digital secara ilegal.
Sekitar 100 Transfer dari 79 Dompet Kripto
Besarnya skala pencurian baru terlihat setelah penyidik menelusuri berbagai transaksi yang berkaitan dengan tindakan Yaroch. Awalnya, perkara ini diduga hanya melibatkan pencurian aset digital sekitar satu juta dolar AS dari sasaran asing tertentu.
Namun, penyelidikan lanjutan menemukan bahwa Yaroch melakukan sekitar 100 transaksi ilegal melalui akses yang berkaitan dengan 35 penyelidikan berbeda. Total hasil kejahatan pun meningkat menjadi sekitar 2,47 juta dolar AS.
Media keamanan siber The Record pada Jumat (6/11/2026) melaporkan bahwa transaksi tersebut melibatkan 79 dompet kripto. Angka tersebut merupakan perincian yang dilaporkan The Record, sedangkan pengumuman resmi DOJ menyebut sekitar 100 transfer dan 35 penyelidikan.
Artinya, angka 35 tidak merujuk pada jumlah dompet kripto yang dibobol maupun jumlah korban individual. Angka itu menunjukkan banyaknya penyelidikan FBI yang kredensial aset digitalnya disalahgunakan oleh Yaroch.
Menurut The Washington Post, transaksi ilegal yang dilakukan Yaroch memiliki nilai sangat beragam. Jaksa federal Kathleen Robeson menjelaskan bahwa satu transaksi hanya bernilai 81 sen AS, sementara transaksi lainnya melebihi 580 ribu dolar AS.
Perbedaan nilai tersebut memperlihatkan bahwa pencurian tidak terbatas pada aset bernilai besar. Yaroch juga mengambil dana dalam jumlah kecil dari dompet yang dapat diakses melalui informasi penyelidikan FBI.
The Record menyebut aset yang dicuri berkaitan dengan sedikitnya dua negara asing yang dipandang sebagai lawan Amerika Serikat. Identitas kedua negara tersebut tidak disebutkan dalam dokumen pengadilan yang tersedia untuk publik.
Sementara itu, The Washington Post melaporkan sedikitnya 10 korban tindak pidana keuangan turut kehilangan aset. Temuan ini menunjukkan bahwa pihak yang terdampak bukan hanya sasaran penyelidikan kontraintelijen, tetapi juga orang-orang yang menjadi korban kejahatan.

31 menit yang lalu
2




English (US) ·
Indonesian (ID) ·