JAKARTA — Spanyol, Jerman, dan Belgia mempercepat pengembangan teknologi pengisian bahan bakar pesawat tanpa awak di udara yang berpotensi memperluas jangkauan operasi drone militer Eropa. Melalui proyek bersama European Defence Agency (EDA), ketiga negara berupaya menciptakan sistem yang memungkinkan sejumlah drone menerima bahan bakar secara otomatis dari pesawat tanker tanpa harus kembali ke pangkalan.
EDA mengumumkan pada 9 Oktober 2026 bahwa ketiga negara telah menyepakati kelanjutan proyek tersebut ke fase kedua sehari sebelumnya. Tahap pengembangan baru itu diperkirakan membutuhkan dana 8 juta euro atau sekitar Rp162,14 miliar, dengan sasaran mengatasi berbagai hambatan teknologi pengisian bahan bakar otomatis untuk wahana udara tanpa awak atau unmanned aerial vehicle (UAV).
Nilai rupiah tersebut dihitung berdasarkan kurs referensi Bank Sentral Eropa (ECB) pada 23 Oktober 2026, ketika satu euro setara dengan Rp20.268,06. Dengan demikian, estimasi biaya proyek sebesar 8 juta euro setara dengan Rp162.144.480.000, atau dibulatkan menjadi Rp162,14 miliar. Nilai tersebut merupakan perkiraan biaya penelitian dan pengembangan fase kedua, bukan anggaran pembelian armada drone tempur.
Langkah tersebut menjadi penting ketika negara-negara Eropa semakin mengandalkan sistem tanpa awak untuk memperkuat kemampuan pengintaian, pengawasan, dan operasi militer jarak jauh. Apabila berhasil diwujudkan secara operasional, teknologi pengisian bahan bakar ketika terbang dapat membuat drone bertahan lebih lama di udara sekaligus memperluas pilihan wilayah operasi tanpa harus mendarat untuk mengisi ulang bahan bakar.
Namun, pengumuman tersebut bukan berarti drone tempur Eropa telah berhasil melakukan pengisian bahan bakar otomatis di udara. EDA menempatkan fase kedua sebagai kegiatan penelitian, pengembangan, dan pengujian yang diharapkan membuka jalan menuju kemampuan pengisian bahan bakar antarpesawat tanpa awak pada masa depan.
Spanyol Pimpin, Jerman dan Belgia Perkuat Pengembangan
Kerja sama tiga negara tersebut merupakan kelanjutan proyek yang pertama kali dimulai Spanyol dan Jerman pada Desember 2022. Ketika itu, EDA meluncurkan penelitian untuk mengembangkan pengisian bahan bakar otomatis menggunakan sistem hose-and-drogue, yakni mekanisme penyaluran bahan bakar melalui selang fleksibel dengan perangkat berbentuk keranjang pada ujungnya.
Proyek tahap pertama mempunyai anggaran sebesar 4 juta euro dengan rencana pelaksanaan awal selama dua tahun. Penelitian tersebut melibatkan perusahaan pertahanan dan lembaga penelitian dari Spanyol serta Jerman untuk mengembangkan teknologi pelacakan, sistem pengendalian, dan otomatisasi proses pengisian bahan bakar.
Keberhasilan penelitian awal menjadi landasan keputusan memperluas program ke tahap berikutnya. Pada fase kedua, Belgia bergabung sehingga proyek tersebut kini melibatkan tiga negara Eropa dengan dukungan EDA sebagai lembaga koordinasi.
EDA menjelaskan bahwa Spanyol tetap memimpin pelaksanaan proyek, sementara Jerman melanjutkan dukungan teknologi dan Belgia menambah keterlibatan industri serta lembaga penelitian. Pembagian tanggung jawab tersebut dirancang untuk meningkatkan kematangan teknologi sekaligus memperkuat kemampuan industri pertahanan Eropa.
Konsorsium fase kedua melibatkan Airbus Defence and Space serta GMV dari Spanyol. Dari Jerman, peserta proyek mencakup Airbus Defence and Space, German Aerospace Center atau DLR, dan AES Technology.
Belgia berpartisipasi melalui perusahaan ScioTeq dan lembaga penelitian Von Karman Institute. Keterlibatan berbagai organisasi tersebut mencerminkan kebutuhan menggabungkan teknologi pesawat, sensor, komunikasi, perangkat lunak, dan penelitian aeronautika.
Bagi Spanyol, pengembangan teknologi tersebut juga sejalan dengan agenda pertahanan nasional. EDA menyatakan Strategi Teknologi dan Inovasi Pertahanan Spanyol 2026 memasukkan pengisian bahan bakar di udara sebagai salah satu bidang prioritas.
Sementara itu, EDA bertindak sebagai otoritas kontrak yang mendukung koordinasi antarnegara, penyusunan kebutuhan teknis, dan pengelolaan risiko proyek. Lembaga tersebut belum mengumumkan keputusan pengadaan armada drone ataupun nilai kontrak pembelian pesawat dari program ini.
Berawal dari Uji Tornado Jerman dan F-18 Spanyol
Pengembangan teknologi terbaru tersebut dibangun di atas hasil penelitian dan pengujian fase pertama. EDA menyatakan rangkaian kegiatan sebelumnya berhasil menunjukkan bahwa otomatisasi sejumlah fungsi pengisian bahan bakar di udara secara teknis memungkinkan untuk dilakukan.
Pengujian fase pertama menggunakan pesawat tanker Airbus A330 Multi Role Tanker Transport atau A330 MRTT, jet tempur Tornado milik Jerman, dan F-18 milik Spanyol. Ketiga jenis pesawat tersebut digunakan untuk mengembangkan serta mengevaluasi teknologi otomatisasi yang diperlukan dalam proses pengisian bahan bakar di udara.
Salah satu pencapaian pentingnya ialah pengembangan sistem pelacakan berbasis kamera untuk mengetahui posisi keranjang pengisian bahan bakar dan pesawat penerima. Teknologi itu memungkinkan perangkat pengendalian mengenali posisi relatif objek yang terus bergerak selama penerbangan.
Penelitian juga mencakup pengembangan pendekatan untuk menstabilkan keranjang pengisian bahan bakar atau drogue. Stabilitas perangkat tersebut sangat penting karena selang dapat bergerak akibat aliran udara dan perubahan posisi pesawat tanker.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejumlah fungsi yang sebelumnya membutuhkan pengamatan dan koreksi langsung oleh manusia berpotensi dibantu atau dilakukan secara otomatis. Namun, pencapaian tersebut belum sama dengan keberhasilan sebuah drone menerima bahan bakar dari pesawat tanker tanpa keterlibatan pilot.
Perbedaan itulah yang menjadi tantangan utama fase kedua. Pesawat penerima tanpa awak harus mampu mengetahui posisi dan gerakannya secara akurat, mempertahankan formasi, serta menjalankan manuver mendekati perangkat pengisian dengan tingkat keselamatan yang tinggi.

2 jam yang lalu
1






English (US) ·
Indonesian (ID) ·