Trump Ngotot Mau Lucuti Nuklir Iran, Seberapa Canggih Uranium Teheran?

2 jam yang lalu 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Di tengah peperangan yang tak kunjung rampung, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertimbangkan mengirim pasukan khusus AS ke Iran untuk merebut persediaan uranium yang sangat diperkaya milik negara itu.

Trump dilaporkan sedang mempertimbangkan opsi mengirim pasukan AS untuk menyerbu fasilitas nuklir rahasia bawah tanah Iran dan merebut persediaan uranium negara itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip BBC, Trump bahkan menjadikan opsi itu sebagai salah satu tujuan utamanya melancarkan perang ke Iran selain untuk mencegah rezim Iran mengembangkan senjata nuklir.

Menurut para pakar militer dan mantan pejabat pertahanan AS yang berbicara kepada BBC, operasi semacam itu akan sangat rumit dan penuh risiko. Mereka menilai misi tersebut memerlukan pengerahan pasukan darat dan bisa memakan waktu beberapa hari hingga bahkan beberapa pekan untuk diselesaikan.

Mengamankan stok uranium itu akan menjadi salah satu "operasi khusus paling rumit dalam sejarah", kata Mick Mulroy.

Skenario tersebut hanyalah satu dari sejumlah opsi militer yang dapat diambil Trump terhadap Iran.

Opsi lainnya mencakup pengambilalihan Pulau Kharg oleh AS sebagai upaya menekan Iran agar sepenuhnya membuka kembali Selat Hormuz. Pemerintahan AS juga kemungkinan menggunakan ancaman operasi militer baru sebagai tekanan agar Iran kembali ke meja perundingan.

‎Namun, Iran menegaskan masalah pengayaan uranium tidak dapat diganggu gugat dan tidak pernah masuk dalam agenda perundingan apa pun. Teheran juga berulang kali menjelaskan bahwa program nuklirnya tidak ofensif.

‎"Uranium yang diperkaya milik Iran tidak akan dipindahkan ke mana pun," ujar juru bicara Kemlu Iran, Esmaeil Baqaei, kepada televisi pemerintah.

Seperti apa pengayaan uranium Iran yang 'ditakuti' Trump?

‎Jerusalem Post melaporkan, Iran menyimpan uranium yang sangat diperkaya di lokasi bawah tanah, menurut laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

[Gambas:Video CNN]

‎Ini adalah kali pertama IAEA melaporkan lokasi penyimpanan uranium yang diperkaya hingga 60% kemurniannya, mendekati 90% dari uranium tingkat senjata nuklir.

‎Citra satelit yang diambil pada 1 Februari 2026 menunjukkan atap baru di atas bangunan yang sebelumnya hancur di lokasi nuklir Isfahan, Iran.

‎Sementara itu, laporan Al Jazeera menyebut saat ini, Iran diyakini memiliki sekitar 440 kilogram (970 pon) uranium yang diperkaya hingga 60 persen. Pengayaan dengan level itu sedikit lagi mencapai ambang batas 90 persen yang dibutuhkan untuk memproduksi senjata nuklir.

Jumlah tersebut, secara teoritis, cukup untuk memproduksi lebih dari 10 hulu ledak nuklir, kata kepala Badan Energi Atom Internasional, Rafael Grossi, kepada Al Jazeera pada awal Maret.

‎Iran menegaskan bahwa program nuklirnya hanya untuk keperluan energi sipil, meskipun telah memperkaya uranium jauh melampaui ambang batas yang dibutuhkan untuk itu.

‎Para pejabat Iran menyatakan bahwa mereka terbuka untuk membahas pengurangan tingkat pengayaan dalam negosiasi sebelumnya, tetapi menolak untuk membongkar program nuklir Iran sepenuhnya.

Menurut Iran, tuntutan AS untuk melucuti program nuklir Iran sepenuhnya merupakan masalah kedaulatan nasional. 

‎Pada tahun 2015, pemerintahan AS di bawah Presiden Barack Obama menegosiasikan Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) dengan Iran dan negara-negara lain.

Berdasarkan perjanjian tersebut, Iran setuju untuk tidak memperkaya uranium hingga tingkat tinggi dan akan tunduk pada inspeksi berkala. Namun, Trump menarik AS dari perjanjian ini selama masa jabatan pertamanya sebagai presiden.

(imf/rds)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Baca Artikel Selengkapnya