REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Rangkaian kematian dan hilangnya sejumlah ilmuwan Amerika Serikat dalam tiga tahun terakhir membentuk pola yang sulit diabaikan. Mereka datang dari latar belakang berbeda, militer, riset nuklir, antariksa, hingga energi masa depan, namun terhubung oleh satu benang merah: akses terhadap teknologi strategis tingkat tinggi. Di tengah spekulasi yang berkembang, Presiden AS Donald Trump sendiri mengakui situasi ini bukan perkara biasa. “Ini adalah hal yang cukup serius,” ujarnya singkat kepada wartawan.
Kasus Steven Garcia menjadi salah satu titik awal yang mengundang perhatian. Sebagai kontraktor di Kampus Keamanan Nasional Kansas City, ia berada dalam ekosistem produksi komponen non-nuklir bagi sistem persenjataan strategis AS. Hilangnya ia dari rumahnya di Albuquerque, tanpa membawa barang penting kecuali sebuah pistol, menimbulkan tanda tanya besar, terutama karena posisi pekerjaannya yang berada di simpul penting rantai pertahanan.
Jejak serupa muncul dalam kasus William McCasland, pensiunan Mayor Jenderal yang pernah memimpin Laboratorium Penelitian Angkatan Udara di Wright-Patterson. Pengalaman panjangnya di bidang teknologi militer menjadikannya figur yang tidak biasa. Ketika ia dilaporkan hilang dan disebut “berencana untuk tidak ditemukan,” kasus ini bergeser dari sekadar kehilangan menjadi teka-teki yang lebih kompleks.
Di lingkungan riset nuklir, hilangnya Anthony Chavez dan Melissa Casias dari Laboratorium Nasional Los Alamos memperkuat pola yang mulai terbentuk. Keduanya meninggalkan rumah tanpa membawa barang pribadi, sebuah detail kecil yang berulang dalam beberapa kasus lain. Los Alamos sendiri bukan fasilitas biasa; ia adalah jantung dari sejarah dan pengembangan teknologi nuklir Amerika.
Sementara itu, dari sektor antariksa, Monica Jacinto Reza, direktur di Jet Propulsion Laboratory milik NASA, dilaporkan hilang saat mendaki. Dalam dunia riset luar angkasa, posisi direktur bukan hanya administratif, tetapi juga strategis dalam pengambilan keputusan ilmiah dan operasional. Hilangnya ia dalam aktivitas pribadi menambah dimensi baru dalam rangkaian kasus ini.
Dua ilmuwan lain, Frank Maiwald dan Michael Hicks, dilaporkan meninggal tanpa indikasi tindak kejahatan yang jelas. Minimnya informasi resmi mengenai penyebab kematian mereka membuat kasus ini tetap berada di wilayah abu-abu, tidak cukup terang untuk disimpulkan, namun terlalu signifikan untuk diabaikan.
Kasus yang lebih mencolok muncul dalam kematian Nuno Loureiro, direktur Pusat Sains Plasma dan Fusi di Massachusetts Institute of Technology. Ia adalah bagian dari komunitas ilmiah yang meneliti energi fusi, sektor yang sering disebut sebagai masa depan energi global. Kematian akibat penembakan di rumahnya menimbulkan kejutan, mengingat latar belakangnya sebagai ilmuwan sipil.

7 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·