Starlink hingga Mossad, Iran Klaim Bongkar Operasi Spionase Besar-Besaran

2 minggu yang lalu 12

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Intelijen Iran mengumumkan penangkapan puluhan orang yang dituduh terlibat dalam jaringan spionase dan sabotase di sejumlah wilayah, ketika tekanan keamanan di dalam negeri meningkat di tengah perang dan kekhawatiran pemerintah terhadap gejolak pascakonflik.

Sebagaimana diberitakan Iranintl pada Selasa (31/6/2026), 41 orang dituduh mengirimkan lokasi pos pemeriksaan, pusat pertahanan, dan fasilitas sensitif di Teheran kepada media oposisi yang oleh Teheran disebut terkait dengan Israel.

Pemerintah Iran mengatakan para tersangka juga menandai kompleks permukiman sebagai lokasi militer agar dapat menjadi sasaran serangan. Dari penangkapan itu, aparat menyita tiga perangkat komunikasi, satu pistol, dan satu perangkat internet satelit Starlink.

Masih menurut Kementerian Intelijen Iran, lima anggota dari dua sel yang disebut teroris juga ditangkap di Provinsi Fars sebelum sempat melancarkan aksi. Aparat menyebut mereka menyimpan bom rakitan dan senjata tajam, serta mengirim video dan foto dari lokasi yang terkena serangan rudal dan bom ke jaringan media yang dipandang bermusuhan oleh Teheran.

Di Gilan dan Kermanshah, delapan orang lain yang disebut terkait dengan kelompok teroris pro-Amerika Serikat dan pro-Israel juga ditahan bersama dua pucuk pistol. Klaim-klaim itu belum dapat diverifikasi secara independen, tetapi dalam sebulan terakhir Reuters mencatat Iran telah menangkap lebih dari 1.000 orang atas tuduhan memotret lokasi sensitif, menyebarkan materi antigovernment, atau bekerja sama dengan “musuh”.

Gelombang penindakan ini juga membuat kembali mengemuka demonstrasi anti-pemerintah yang pecah pada akhir Desember 2025 dan berlanjut ke Januari 2026. Laporan Al Jazeera saat itu menggambarkan protes dipicu tekanan ekonomi, anjloknya mata uang, dan kenaikan harga yang memukul rumah tangga Iran.

Namun, di saat yang sama, media pemerintah dan aparat keamanan Iran menyatakan sebagian kerusuhan telah ditunggangi aktor asing dan jaringan intelijen yang berupaya mendorong perubahan rezim dari dalam.

Hubungan antara protes dan isu spionase itu kini menjadi bagian dari narasi utama keamanan Iran. Media Iran, termasuk Mehr, melaporkan bahwa pada Januari 2026 Kementerian Intelijen menahan operator yang disebut terkait Mossad dan CIA “selama kerusuhan”, sementara laporan lain menyebut ada jaringan yang berupaya membentuk narasi eksternal atas protes ekonomi di Iran.

Di sisi lain, Reuters melaporkan keresahan pemerintah Iran justru bertambah setelah perang, karena elite keamanan khawatir kerusakan ekonomi akan memicu gelombang penentangan baru begitu pengeboman mereda.

Baca Artikel Selengkapnya