REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika membahas kejayaan peradaban China, banyak orang langsung teringat Dinasti Han, Tang, atau Ming. Namun, sejumlah sejarawan menempatkan Dinasti Song (960–1279) sebagai salah satu puncak perkembangan peradaban China. Pada masa inilah China mengalami kemajuan pesat dalam bidang ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, hingga kehidupan perkotaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sejarawan Prancis Jacques Gernet dalam karyanya Daily Life in China on the Eve of the Mongol Invasion menggambarkan Dinasti Song sebagai periode transformasi besar yang mengubah wajah masyarakat China. Sementara sejumlah ahli sejarah ekonomi memandang era ini sebagai salah satu transformasi ekonomi terbesar dalam dunia pra-modern.
Salah satu indikator kemajuan tersebut terlihat dari perkembangan kota-kota besar. Ibu kota Kaifeng pada masa Song Utara dan Hangzhou pada masa Song Selatan termasuk kota terbesar di dunia pada zamannya. Sejumlah penelitian memperkirakan jumlah penduduk kedua kota tersebut mendekati atau bahkan melampaui satu juta jiwa pada periode tertentu. Jalan-jalan dipenuhi pasar, toko, rumah makan, pusat hiburan, hingga aktivitas perdagangan yang berlangsung siang dan malam.
Kemajuan ekonomi menjadi fondasi utama kejayaan Dinasti Song. Produksi pertanian meningkat berkat penggunaan varietas padi unggul yang didatangkan dari Asia Tenggara. Hasil panen yang melimpah mendorong pertumbuhan penduduk dan memperkuat aktivitas perdagangan antardaerah. Jalur sungai, kanal, dan pelabuhan laut berkembang menjadi urat nadi perekonomian yang menghubungkan berbagai wilayah China dengan dunia luar.
Dalam bidang teknologi, Dinasti Song menghasilkan berbagai inovasi yang memberi dampak besar bagi sejarah dunia. Percetakan berkembang pesat sehingga buku dan pengetahuan menjadi lebih mudah diakses masyarakat. Penggunaan kompas untuk navigasi laut semakin disempurnakan, memungkinkan kapal-kapal China menjelajah rute perdagangan yang lebih jauh. Teknologi pembuatan kapal juga mengalami kemajuan sehingga armada dagang China menjadi salah satu yang paling aktif pada masanya.
Kemajuan industri turut menjadi ciri khas era ini. Sejarawan ekonomi Robert Hartwell memperkirakan produksi besi China pada masa Song mencapai sekitar 125 ribu ton per tahun pada abad ke-11, angka yang sangat besar untuk ukuran dunia saat itu. Produksi logam tersebut digunakan untuk mendukung pertanian, manufaktur, infrastruktur, hingga kebutuhan militer. Karena itu, sebagian peneliti memandang Dinasti Song sebagai salah satu masyarakat paling maju secara ekonomi dan teknologi pada era abad pertengahan.
Kemajuan tersebut juga ditopang oleh sistem birokrasi berbasis pendidikan. Pemerintah memperkuat sistem ujian negara yang memungkinkan seseorang memperoleh jabatan berdasarkan kemampuan akademik, bukan semata-mata keturunan atau status sosial. Sistem ini melahirkan kelompok cendekiawan yang berperan penting dalam administrasi pemerintahan sekaligus perkembangan ilmu pengetahuan.
Kejayaan Dinasti Song tidak hanya dirasakan di daratan China. Pelabuhan-pelabuhan besar seperti Quanzhou dan Guangzhou menjadi titik pertemuan para pedagang dari berbagai penjuru dunia. Pedagang Arab, Persia, India, dan Asia Tenggara rutin berdagang di wilayah pesisir China. Melalui jalur perdagangan maritim inilah hubungan antara China dan dunia Islam berkembang pesat. Komunitas Muslim tumbuh di sejumlah kota pelabuhan dan ikut berkontribusi dalam aktivitas ekonomi yang menjadikan Dinasti Song sebagai salah satu pusat perdagangan internasional terpenting pada masanya.

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·