Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam sebuah acara di Las Vegas, Kamis (16/4/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Donald Trump berdiri di Gedung Putih bersama para petinggi Google dan IBM. Namun yang ditandatangani pada Senin itu bukan sekadar dokumen teknologi biasa.
Dokumen tersebut bisa menjadi awal dari perlombaan yang berpotensi mengubah keseimbangan kekuatan dunia.
Amerika Serikat kini menetapkan target yang ambisius: menghadirkan komputer kuantum yang siap digunakan untuk penelitian ilmiah pada 2028.
Mengapa Washington tiba-tiba bergerak secepat ini?
Pertanyaan itu muncul karena dunia teknologi selama bertahun-tahun masih memperdebatkan kapan komputer kuantum benar-benar dapat digunakan secara praktis. Banyak laboratorium berlomba, miliaran dolar digelontorkan, tetapi hasil yang dijanjikan belum sepenuhnya terwujud.
Namun ada sesuatu yang berbeda kali ini. Trump tidak datang sendirian. Di sampingnya berdiri para pemimpin perusahaan teknologi terbesar Amerika. Pemerintah, industri, dan lembaga riset tampak bergerak dalam satu arah.
Direktur Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi Gedung Putih Michael Kratsios bahkan menyatakan bahwa pemerintah menginginkan komputer kuantum pertama yang cukup canggih untuk mendorong penelitian ilmiah dan membuka era baru kemampuan komersial.
Targetnya: 2028. Tetapi itu belum menjelaskan semuanya. Mengapa teknologi yang bahkan belum matang sepenuhnya tiba-tiba memperoleh prioritas setinggi itu?
Petunjuk pertama terletak pada cara kerja komputer kuantum. Komputer saat ini bekerja menggunakan bit yang hanya mengenal dua keadaan: nol atau satu. Komputer kuantum menggunakan qubit yang dapat berada dalam beberapa keadaan sekaligus melalui fenomena yang dikenal sebagai superposisi.
Bagi orang awam, perbedaannya terdengar sederhana. Namun dampaknya sangat besar.
Setiap tambahan qubit dapat meningkatkan kemampuan pemrosesan secara eksponensial. Masalah yang membutuhkan waktu bertahun-tahun bagi superkomputer modern berpotensi diselesaikan jauh lebih cepat oleh mesin kuantum.
Di sinilah cerita berubah. Kekuatan yang sama yang menjanjikan penemuan obat baru, material baru, dan kecerdasan buatan yang lebih maju juga berpotensi meruntuhkan sistem keamanan digital yang saat ini melindungi dunia.
Enkripsi yang menjaga rekening bank, jaringan listrik, data pemerintah, hingga komunikasi militer suatu hari dapat menjadi rentan.

1 jam yang lalu
4







English (US) ·
Indonesian (ID) ·