Ilustrasi drone.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dunia memasuki babak baru peperangan modern, ketika ancaman tidak lagi datang dari rudal balistik semata, melainkan dari ribuan drone murah yang mampu melumpuhkan sistem pertahanan mahal. Dalam situasi ini, negara-negara besar dipaksa beradaptasi cepat, menggabungkan teknologi tinggi seperti laser hingga solusi sederhana seperti jaring.
Perang Rusia-Ukraina menjadi laboratorium nyata perubahan tersebut. Drone FPV kini menjadi salah satu senjata paling dominan di medan tempur, digunakan untuk menyerang kendaraan, posisi militer, hingga jalur logistik dengan biaya relatif rendah.
Kondisi ini menciptakan paradoks militer baru: negara dengan anggaran pertahanan besar justru menghadapi ancaman serius dari teknologi murah yang diproduksi massal.
Untuk menjawab tantangan itu, Amerika Serikat mulai mendorong penggunaan senjata energi terarah, khususnya laser, sebagai sistem pertahanan anti-drone generasi baru.
“Setelah melalui penilaian risiko keselamatan yang menyeluruh dan berbasis data, kami menyimpulkan bahwa sistem ini tidak menimbulkan peningkatan risiko bagi masyarakat pengguna transportasi udara,” kata pejabat Administrasi Penerbangan Federal (FAA), sebagaimana dilaporkan DefenseScoop pada 13 April 2026.
Pernyataan tersebut menjadi penanda penting bahwa teknologi laser anti-drone tidak lagi berada di tahap eksperimental, tetapi mulai masuk fase operasional bahkan di wilayah udara domestik.
Laser menawarkan keunggulan signifikan dibandingkan sistem pertahanan konvensional, terutama dalam hal biaya operasional. Tidak seperti rudal yang mahal, laser hanya membutuhkan energi listrik untuk menembakkan sinar berdaya tinggi.
Namun, di balik optimisme tersebut, masih terdapat keraguan terkait kesiapan teknologi ini dalam kondisi nyata yang kompleks.
“Pahami dengan baik apa saja keterbatasan sistem laser tersebut, serta bagaimana cara mengendalikannya,” kata seorang pejabat transportasi AS, sebagaimana dilaporkan Reuters pada 6 Maret 2026.
Kutipan ini mencerminkan bahwa bahkan negara maju sekalipun masih dalam tahap memahami batas kemampuan teknologi laser dalam konteks operasional.

2 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·