Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Jumat pagi, bergerak melemah 65 poin atau 0,38 persen menjadi Rp16.958 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.893 per dolar AS.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi arahan pemimpin baru Iran, Ayatullah Mojtaba Khamenei, bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup.
"Jalur air sempit ini merupakan titik kritis yang dilalui seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Penutupan selat tersebut telah menyebabkan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.
Dia menyampaikan bahwa para pelaku pasar dan analis khawatir bahwa lonjakan harga minyak yang besar akan berdampak ke seluruh dunia dalam bentuk guncangan inflasi. Harga minyak mentah Brent berjangka, patokan global, terakhir kali berada di sekitar 100 dolar AS per barel.
Bank sentral seperti Federal Reserve dinilai mungkin terpaksa mempertimbangkan kembali pemotongan suku bunga jangka pendek jika inflasi meningkat.
Biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat menarik lebih banyak investasi asing, sehingga meningkatkan daya tarik dolar.
Melihat sentimen domestik, pasar dinyatakan terus menyoroti beban pembayaran bunga utang yang membatasi ruang manuver pemerintah untuk mendorong ekonomi melalui akselerasi belanja negara.
Estimasi berdasarkan skema defisit anggaran dikurangi keseimbangan primer, realisasi pembayaran bunga utang telah menembus angka Rp99,8 triliun pada bulan Februari 2026.
"Jumlah ini setara 27,8 persen dari total pendapatan negara sebesar Rp358 triliun atau 28,8 persen jika dibandingkan realisasi belanja pemerintah pusat sebesar Rp346,1 triliun pada bulan lalu," ungkap Ibrahim.
Lebih lanjut, risiko pembengkakan beban bunga utang semakin besar menyusul kebijakan tukar guling utang (debt switch) antara Bank Indonesia (BI) dengan pemerintah serta tensi panas geopolitik global yang berpotensi mengerek tingkat imbal hasil (yield) surat berharga negara (SBN).
Berdasarkan data Kementerian Keuangan per 10 Maret 2026, tingkat yield SBN tenor 10 tahun bertengger di level 6,52 persen, sementara yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun berada di posisi 4,09 persen. Secara akumulasi sejak awal tahun (year to date/YtD), yield SBN mengalami kenaikan sebesar 55 basis points (bps). Kenaikan yield SBN ini disebut berisiko meningkatkan beban pembayaran bunga utang di dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (ABPN).
Kendati demikian, pemerintah masih optimis dengan mengelola utang, baik dari sisi portofolio maupun penerbitan tahunan (annual issuance), dengan sangat hati-hati untuk memastikan risiko tetap terjaga, termasuk dari sisi pengelolaan rasio pembayaran bunga utang (interest ratio) dan Debt Service Ratio (DSR).
"Contoh konkret, penerimaan pajak yang mampu tumbuh hingga 30,4 persen pada Februari 2026 akan berdampak langsung pada perbaikan rasio pembayaran bunga utang maupun Debt Service Ratio (DSR)," ucap dia.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp16.934 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.899 per dolar AS.
Baca juga: Rupiah melemah seiring ketidakpastian perang Iran lawan AS-Israel
Baca juga: Rupiah pada Jumat pagi melemah jadi Rp16.923 per dolar AS
Baca juga: Rupiah melemah seiring harga minyak yang sempat melonjak tajam
Pewarta: M Baqir Idrus Alatas
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·