REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — "Pembukaan ruas Halkalı-Arnavutköy menandai selesainya salah satu jalur metro terpanjang bukan hanya di Turki, tetapi juga di dunia."
Dengan kalimat itu, Presiden Recep Tayyip Erdogan pada Jumat meresmikan bagian terakhir proyek metro raksasa yang menghubungkan pusat Istanbul dengan bandara terbesar Turki. Namun seberapa besar proyek yang ia sebut sebagai simbol visi modern tersebut?
Jawabannya terlihat dari angka-angkanya. Ruas baru sepanjang 22 kilometer yang menghubungkan Halkalı dan Arnavutköy membuat total panjang jalur Gayrettepe-Bandara Istanbul-Halkalı mencapai 69 kilometer dengan 16 stasiun.
Jalur bawah tanah ini membentang dari kawasan pusat kota hingga gerbang udara tersibuk Turki, membelah salah satu metropolitan terbesar di dunia yang dihuni sekitar 16 juta penduduk dan dikunjungi hampir 20 juta wisatawan setiap tahun.
Tetapi panjang jalur bukanlah satu-satunya hal yang mencuri perhatian. Metro ini dirancang melaju hingga 120 kilometer per jam. Kecepatan tersebut menjadikannya jalur metro tercepat di Turki sekaligus salah satu koneksi metro bandara bawah tanah terpanjang di dunia.
Artinya, perjalanan yang sebelumnya terjebak kemacetan jalan raya kini berubah drastis. Warga yang berangkat dari Halkalı menuju Bandara Istanbul hanya membutuhkan sekitar 30 menit. Sementara perjalanan dari Halkalı ke kawasan bisnis Gayrettepe dapat ditempuh dalam waktu sekitar 57 menit.
Lalu siapa yang paling merasakan dampaknya?
Sekitar 1,5 juta warga di distrik Başakşehir dan Küçükçekmece kini memperoleh akses langsung menuju pusat kota maupun Bandara Istanbul melalui jaringan kereta bawah tanah. Lima stasiun baru yang dibuka, Universitas Ibn Haldun, Kayaşehir, Olimpiyatköy, Stadion Halkalı, dan Halkalı, menjadi simpul baru mobilitas kota.
Namun Erdogan mengklaim proyek ini lebih dari sekadar sarana transportasi. "Kita sedang merajut kota kita, salah satu metropolis terbesar di dunia, dengan populasi 16 juta jiwa dan hampir 20 juta pengunjung setiap tahunnya, sehelai demi sehelai dengan jaringan kereta api," kata Erdogan dalam upacara peresmian.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Jalur baru tersebut terhubung langsung dengan jaringan Marmaray yang melintas di bawah Selat Bosporus, kereta cepat nasional, jalur pinggiran kota, hingga sejumlah lintasan metro utama Istanbul.
Dengan kata lain, metro ini bukan hanya menghubungkan dua titik, tetapi menyatukan sistem transportasi kota dalam satu jaringan besar. Masih ada hal lain yang membuat proyek ini berbeda.
Untuk pertama kalinya, jalur tersebut menggunakan sistem persinyalan kereta api yang dikembangkan di dalam negeri Turki. Teknologi itu diproduksi oleh perusahaan elektronik pertahanan Aselsan, salah satu simbol ambisi Ankara untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi asing.
Tidak hanya itu. Jaringan metro ini juga beroperasi dengan sistem tanpa masinis yang sepenuhnya otomatis. Dari 25 rangkaian kereta yang digunakan, 15 di antaranya diproduksi sesuai standar operasi tanpa pengemudi.
Bagi pemerintah Turki, manfaatnya bukan sekadar kenyamanan penumpang. Perhitungan resmi memperkirakan proyek tersebut akan menghasilkan manfaat ekonomi hingga 935 juta euro atau hampir 1,1 miliar dolar AS pada 2043.

2 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·