Jakarta, CNN Indonesia --
Amerika Serikat (AS) dan Iran disebut telah mencapai kesepakatan secara lisan untuk mengakhiri perang yang berlangsung beberapa bulan terakhir. Namun, sejumlah poin krusial dalam draf perdamaian tersebut hingga kini masih belum mendapatkan titik temu antara kedua belah pihak.
Poin utama yang belum menemukan kesepakatan adalah terkait program nuklir Iran, yang menjadi alasan utama AS melancarkan operasi militer di negara tersebut.
Washington secara tegas menginginkan pembongkaran total program nuklir Iran beserta pemusnahan seluruh cadangan uranium yang telah diperkaya tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menolak permintaan AS dan menegaskan bahwa Iran ingin tetap mempertahankan uranium dalam bentuk yang telah diencerkan.
Perbedaan mendasar ini akhirnya membuat isu nuklir tidak dimasukkan ke dalam kesepakatan awal, melainkan ditunda untuk dibahas dalam masa negosiasi tersendiri selama 60 hari ke depan.
Selain itu, Araqchi menyebut perubahan dalam isi kesepakatan masih sangat mungkin terjadi, yang mengindikasikan bahwa draf yang ada belum sepenuhnya final dan masih terbuka untuk diperdebatkan.
Meski isu program nuklir belum menemukan kesepatan, beberapa isu lain sudah mendapatkan titik terang, mulai dari pembukaan aset miliaran dolar Teheran, pelonggaran sanksi minyak hingga pembukaan Selat Hormuz.
Kedua negara disebut telah mencapai kesepakatan secara lisan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.
AS disebut akan mulai membuka akses terhadap miliaran dolar aset Iran yang selama ini dibekukan. Selain itu, mereka juga akan memberikan pelonggaran terhadap sanksi ekspor minyak.
Sebagai gantinya, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz yang sebelumnya ditutup pasca serangan AS dan Israel pada Februari lalu.
Rancangan nota kesepahaman yang sedang dibahas menyebut Iran akan membuka kembali Selat Hormuz dan AS menghentikan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Pakistan disebut berperan sebagai mediator dalam perundingan tersebut. Sumber Barat menyebut penandatanganan kesepakatan berpotensi dilakukan paling cepat pada Minggu (14/6) dengan Jenewa, Swiss, menjadi lokasi yang paling mungkin dipilih.
Seorang pejabat senior pemerintahan AS mengatakan kedua negara telah menyepakati rancangan teks perjanjian dan Washington berharap kesepakatan awal dapat ditandatangani dalam beberapa hari ke depan.
"Kedua pihak telah menyetujui teks tersebut dan kami memperkirakan kesepakatan awal dapat ditandatangani dalam beberapa hari mendatang," ujar pejabat AS yang enggan disebutkan namanya, seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (13/6).
Meski terjadi kemajuan diplomatik yang signifikan, ketegangan militer masih terjadi. Reuters melaporkan pasukan AS menembak jatuh sejumlah drone bunuh diri Iran yang terbang menuju Selat Hormuz karena dinilai mengancam lalu lintas pelayaran komersial.
Di sisi lain, posisi Israel menjadi faktor yang menggantung. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya tidak akan menjadi bagian dari kesepakatan tersebut, sekaligus menyatakan Israel tetap mempertahankan kebebasan bertindak terhadap ancaman yang dianggap membahayakan keamanannya.
(lom)
Add
as a preferred source on Google

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·