PBB-Uni Eropa: Rekonstruksi Gaza Butuh Biaya Rp1.222 Triliun

1 jam yang lalu 1

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSELS -- PBB dan Uni Eropa telah merilis dokumen bertajuk "Gaza Rapid Damage and Needs Assessment (RDNA)" pada Senin (20/4/2026). Dalam dokumen itu mereka menyebut bahwa dana yang dibutuhkan untuk membiayai rekonstruksi Jalur Gaza selama satu dekade ke depan mencapai 71,4 miliar dolar AS atau setara Rp1.222 triliun (dengan nilai kurs Rp17.121 per dolar AS). 

PBB dan Uni Eropa mengungkapkan, perang di Gaza yang berlangsung selama dua tahun, yakni pada Oktober 2023-Oktober 2025, tidak hanya menelan korban jiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Agresi Israel turut meluluhlantakkan infrastruktur Gaza dan memicu krisis kemanusiaan yang dahsyat. 

"Kebutuhan pemulihan dan rekonstruksi diperkirakan sekitar 71,4 miliar," kata PBB dan Uni Eropa dalam laporannya yang turut dikoordinasikan dengan Bank Dunia, dikutip laman Al Arabiya

PBB dan Uni Eropa mengungkapkan, dalam 18 bulan pertama, Gaza membutuhkan setidaknya 26,3 miliar dolar AS. Dana tersebut untuk memulihkan layanan esensial, membangun kembali infrastruktur penting, dan mendukung pemulihan ekonomi. Sebagian besar infrastruktur sipil di Gaza, termasuk sekolah dan rumah sakit, telah hancur akibat serangan Israel. 

Dokumen RDNA mencatat, sekitar 371.888 unit perumahan di Gaza telah hancur atau rusak, lebih dari 50 persen rumah sakit di wilayah tersebut tidak berfungsi, dan hampir semua sekolah telah hancur atau rusak. “Kerusakan infrastruktur fisik diperkirakan mencapai 35,2 miliar dolar AS, dengan kerugian ekonomi dan sosial mencapai 22,7 miliar dolar AS," ungkap PBB dan Uni Eropa dalam dokumen RDNA mereka. 

Selain itu 1,9 juta orang atau hampir seluruh populasi Gaza telah mengungsi. Lebih dari 60 persen penduduk di sana telah kehilangan rumah mereka akibat turut terimbas agresi Israel.

Di bidang ekonomi, PBB dan Uni Eropa mencatat bahwa perekonomian Gaza telah menyusut sebesar 84 persen. “Skala dan luasnya kekurangan di berbagai aspek kehidupan, mata pencaharian/pendapatan, ketahanan pangan, kesetaraan gender, dan inklusi sosial, telah menghambat pembangunan manusia di Jalur Gaza selama 77 tahun,” kata PBB dan Uni Eropa. 

Pada 7 Oktober 2023, kelompok Hamas melancarkan serangan mendadak ke wilayah Israel. Akibat serangan tak terduga tersebut, 1.221 warga Israel tewas. Hamas kemudian menangkap 251 warga Israel dan menjadikan mereka sandera. 

Serangan Israel ke Gaza dimulai setelah peristiwa tersebut. Agresi tanpa pandang bulu Israel, yang berlangsung hingga Oktober 2025, menyebabkan lebih dari 72 ribu warga Gaza terbunuh. Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. 

Agresi Israel juga memaksa hampir seluruh penduduk Gaza mengungsi. Hal itu karena bangunan tempat tinggal dan wilayah permukiman tak luput dari serangan Israel.

Baca Artikel Selengkapnya