Sebuah bilboard ukuran raksasa merujuk pada Selat Hormuz dengan teks berbahasa Persia yang artinya
REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Kamis, menyatakan bahwa pelayaran yang aman melalui Selat Hormuz hanya dapat dilakukan melalui jalur yang disetujui Teheran. IRGC memperingatkan kapal-kapal agar tidak menggunakan jalur pelayaran baru yang diumumkan tanpa koordinasi dengan Republik Islam Iran.
Dalam pernyataan yang dimuat kantor berita resmi IRNA, Angkatan Laut IRGC menyebut setiap jalur baru yang diumumkan untuk melintasi perairan strategis tersebut tanpa sepengetahuan atau koordinasi dengan Iran sebagai sesuatu yang “tidak dapat diterima” dan “sangat berbahaya”.
“Satu-satunya jalur yang diizinkan untuk melintas melalui Selat Hormuz adalah jalur yang diumumkan oleh Republik Islam Iran,” demikian pernyataan tersebut.
IRGC juga menegaskan bahwa koordinasi dengan angkatan laut Iran melalui kanal maritim internasional Channel 16 bersifat wajib bagi kapal-kapal yang melintasi selat tersebut. Pelanggaran terhadap ketentuan itu, menurut IRGC, akan menghadapi tindakan dari pihak berwenang Iran.
Pembukaan jalur pelayaran Selat Hormuz dimungkinkan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani secara elektronik nota kesepahaman pada 17 Juni yang bertujuan mengakhiri perang antara kedua negara dan mencapai perjanjian perdamaian jangka panjang. Dokumen yang dikenal sebagai Islamabad Understanding itu mulai berlaku pada 18 Juni.
Sebanyak 14 poin kesepakatan tersebut mencakup sejumlah ketentuan terkait penghentian perang, termasuk di Lebanon, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta pencabutan blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap Iran.
Kawasan Timur Tengah sebelumnya berada dalam ketegangan sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari, yang memicu serangan balasan dari Teheran terhadap aset-aset AS di berbagai wilayah Timur Tengah. Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April.
sumber : Antara, Anadolu, Sputnik/RIA Novosti-OANA

1 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·