OJK ukur kesehatan bank di Bali pastikan tetap solid

1 bulan yang lalu 25

Denpasar (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali mengukur kesehatan perbankan di Pulau Dewata per Februari 2026 guna memastikan kinerja tetap solid mulai dari kualitas kredit hingga permodalan.

“Kualitas kredit perbankan di Provinsi Bali tetap terjaga,” kata Kepala OJK Bali Parjiman di Denpasar, Bali, Kamis.

Regulator lembaga jasa keuangan itu mengungkapkan tingkat kredit bermasalah (non performing loan/NPL) perbankan di Bali dapat ditekan hingga mencapai 2,62 persen.

Capaian itu lebih baik dibandingkan periode sama 2025 yang mencapai 3,13 persen.

Kredit-kredit berisiko (loan at risk/LaR) juga turun menjadi 9,29 persen dibandingkan periode sama 2025 sebesar 11,94 persen karena didorong penyelesaian kredit restrukturisasi dan ekspansi kredit.

Adapun penyaluran kredit perbankan di Bali per Februari 2026 mencapai Rp119,75 triliun atau tumbuh sebesar 6,47 persen jika dibandingkan periode sama 2025 mencapai Rp112,45 triliun.

Parjiman menjelaskan pertumbuhan kredit masih didorong oleh peningkatan kredit investasi yang tumbuh sebesar Rp6,32 triliun atau 17,81 persen utamanya ditopang oleh sektor pariwisata yakni penyediaan akomodasi dan makan minum serta real estat.

“Peningkatan pada kredit investasi menunjukkan kontribusi perbankan dalam mendukung pembiayaan ekspansi usaha untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi jangka panjang,” katanya menambahkan.

Sementara itu, berdasarkan kategori debitur sebesar 51,32 persen kredit di Bali disalurkan kepada pelaku UMKM yang tumbuh 4,71 persen dan didominasi oleh segmen usaha mikro dengan porsi sebesar 42,17 persen dan usaha kecil sebesar 37,43 persen.

Sedangkan apabila mencermati permodalan, ia mencermati perbankan di Bali tergolong masih kuat meski situasi saat itu krisis geopolitik khususnya konflik di Timur Tengah mulai berkecamuk pada akhir Februari 2026.

Adapun dari sisi rasio likuiditas (CR) bank perekonomian rakyat (BPR) di Bali mencapai 14,74 persen, jauh di atas batas minimal yaitu delapan persen dan dalam tiga bulan terakhir belum ada yang di bawah lima persen.

Sedangkan rasio kecukupan modal (CAR) juga masih berdaya tahan yakni mencapai 28,31 persen, jauh di atas ketentuan salah satunya Peraturan OJK Nomor 28 tahun 2023 yaitu mencapai 12 persen.

“Itu menjadi bantalan mitigasi risiko yang kuat untuk mengantisipasi kondisi ketidakpastian global,” ujar dia.

Selain fungsi intermediasi masih tumbuh, bank-bank di Bali juga gesit menghimpun dana (DPK) masyarakat dengan penghimpunan DPK tetap tumbuh positif sebesar 6,05 persen mencapai Rp204,59 triliun, lebih tinggi dibandingkan Februari 2025 mencapai Rp192,91 triliun.

Namun, rasio simpanan terhadap total kredit yang disalurkan (LDR) perbankan di Bali masih tergolong tidak bergerak signifikan yakni masih berkisar 58 persen sejak Februari 2025, Desember 2025, Januari 2026 dan Februari 2026 yang mencapai 58,53 persen.

Adapun rasio ideal LDR sesuai regulasi Bank Indonesia (BI) nomor 15 tahun 2013 mencapai 78-92 persen.

“Fungsi intermediasi (perbankan) masih menunjukkan tingkat yang positif,” kata Parjiman.

Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya