Mirae Asset Sekuritas lihat masih ada ruang kenaikan lanjutan BI-Rate

2 hari yang lalu 6
Kenaikan suku bunga ini terutama bertujuan mendukung apresiasi rupiah dan menjaga stabilitas eksternal

Jakarta (ANTARA) - Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa memandang masih ada ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate apabila rupiah masih tertekan.

Meski demikian, sejauh ini pihaknya menilai keputusan BI untuk menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,75 persen mencerminkan komitmen kuat bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah. Kenaikan tersebut merupakan yang ketiga secara bertutur-turut dalam dua bulan terakhir, sehingga total pengetatan moneter telah mencapai 100 bps sejak April 2026.

"Kenaikan suku bunga ini terutama bertujuan mendukung apresiasi rupiah dan menjaga stabilitas eksternal. Setelah sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS, rupiah mulai menunjukkan pemulihan dan menguat ke sekitar Rp17.730 per dolar AS secara month to date," ujar Jessica di Jakarta, Jumat.

Selain menjaga stabilitas nilai tukar, BI juga mulai mencermati potensi tekanan inflasi. Hal ini terlihat dari kenaikan Wholesale Price Index (WPI) menjadi 5,76 persen secara tahunan pada Mei 2026 serta meningkatnya inflasi inti di luar komponen emas menjadi 1,63 persen dari 1,36 persen pada April 2026.

Menurut Mirae Asset, daya tarik aset keuangan Indonesia turut didukung oleh kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Hingga 18 Juni 2026, imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun naik sekitar 92 basis poin sejak awal tahun menjadi 7 persen, sementara yield tenor 2 tahun meningkat menjadi 7,08 persen. Kondisi tersebut turut mendorong masuknya aliran dana asing ke pasar keuangan domestik.

Selain menaikkan suku bunga, BI juga memperkuat stabilisasi rupiah melalui berbagai instrumen, termasuk diskon biaya hedging swap bagi investor asing dan pembukaan kembali fasilitas lelang repo berbagai tenor. Langkah itu menunjukkan upaya BI menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar, likuiditas, dan daya tarik aset domestik.

"Penurunan cadangan devisa sejak awal tahun menunjukkan bahwa suku bunga akan menjadi instrumen yang semakin penting dalam menjaga stabilitas eksternal. Karena itu, BI masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga apabila tekanan terhadap rupiah kembali muncul," jelas Jessica.

Ke depan, pasar akan mencermati perkembangan rupiah, arah kebijakan moneter global, dan dinamika inflasi domestik. Selama ketidakpastian eksternal masih tinggi, stabilitas rupiah diperkirakan tetap menjadi fokus utama kebijakan Bank Indonesia.

Baca juga: CEO Danantara: Kredit ke UMKM harus terjaga meskipun BI Rate naik

Baca juga: Ekonom: BI-Rate naik lagi tunjukkan ada risiko tekanan pada rupiah

Baca juga: Airlangga berharap Himbara tak terlalu cepat menaikkan bunga kredit

Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Baca Artikel Selengkapnya